English Version | Bahasa Indonesia

Singgasana

Singgasana Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat disebut dengan nama Dhampar Kencono. Bentuk Dhampar Kencono merupakan perpaduan dari kebudayaan Eropa, terutama dari Prancis dan Inggris. Pengaruh Prancis diadopsi dari gaya Louis XIV (Barok) pada abad ke-18, gaya Louis XV (Rokok) pada abad ke-19, dan gaya Louis XVI (Neo-klasik) pada abad ke-20. Sementara gaya kursi dari Inggris yang diadopsi cenderung menggunakan Gaya Georgian, Gaya Queen Anne dan Gaya Victorian.

Dhampar Kencono merupakan bentuk simbolik dalam membangun status sosial dan citra. Simbol ini muncul dari dalam lingkungan keraton yang cenderung masih dijadikan model ideal bagi masyarakat Jawa.

Bentuk Dhampar Kencono mencerminkan sikap dan sifat seorang Sultan sebagai pemimpin yang sesuai dengan konsep kekuasaan Jawa. Sikap dan sifat tersebut tercermin dalam konsep yang berbunyi: Gung Binathara Baudhendha Hanyakrawati, Ratu Pina­dhita, Manunggaling Kawula-Gusti. Konsep ini muncul karena pengaruh dari tiga kebudayaan.

Pertama, bentuk Dhampar Kencono dipengaruhi oleh konsep budaya Hindu di mana seorang Raja (Sultan) merupakan penjelmaan atau titisan dewa. Konsep ini tercermin ketika seorang Sultan yang duduk dengan memakai atribut lengkap dengan pakaian kebesaran terlihat sebagai sosok dewa tertinggi dalam agama Hindu, yaitu Dewa Wisnu.

Kedua, Sultan diposisikan sebagai manusia yang paripurna dan dianggap telah bersatu atau manunggal dengan Tuhannya. Hal itu sesuai konsep Manunggaling Kawula-Gusti. Manunggaling Kawula (hamba) lan Gusti (Tuhan) yang memperoleh makna konkret dalam manunggalnya rakyat dengan Sultan atau Sultan dengan rakyatnya.

Ketiga, Dhampar Kencono termasuk kategori kursi yang diwujudkan tanpa sandaran ta­ngan dan sandaran punggung yang berasal dari bentuk dhingklik (kursi tanpa sandaran). Makna simboliknya adalah bahwa Sultan sebagai hamba Tuhan, tidak bersandar kepada siapapun kecuali pada Tuhan.

Singgasana Sultan Hamengku Buwono diletakkan di sebuah bangsal yang dinamakan Bangsal Manguntur Tangkil. Bangsal Manguntur Tangkil merupakan bangsal di dalam bangsal, karena bangsal ini merupakan pusat dari Bangsal Utama yang disebut Siti Hinggil. Siti berarti “tanah”, sedangkan hinggil berarti “tinggi”. Jadi, tempat ini disebut Siti Hinggil karena dibangun lebih tinggi dibanding dataran di sekitarnya.

Di dalam Bangsal Manguntur Tangkil inilah Dhampar Kencono diletakkan di atas Selogilang (lantai tinggi yang terbuat dari batu berbentuk persegi panjang dengan ukuran 7,25 meter ke arah barat dan 6 meter ke arah utara). Selogilang dibangun tanpa balungan, ukiran, sungging, dan hanya dihaluskan dengan ampelas.

Dhampar Kencono berukuran 2,3 meter ke arah timur-barat dan tinggi 0,2 meter. Pada awalnya, Dhampar Kencono terbuat dari watu gilang (batu hitam pekat yang mengkilat) bernama Gilang Lupura. Kini, Gilang Lupura kini masih bisa disaksikan di Kotagede yang dulu menjadi lokasi berdirinya istana Kesultanan Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII, Dhampar Kencono diganti dengan batu marmer yang diperhalus.

Dhampar Kencono digunakan sebagai tempat duduk Sultan pada saat upacara penobatan dan Pisowanan Agung. Di tempat ini pula, Sultan duduk menghadap ke arah utara memandang Tugu Yogyakarta dan Gunung Merapi yang berada dalam satu garis lurus (garis imajiner) de­ngan Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.



Dibaca : 4149 kali
« Kembali ke Koleksi

Share

Form Komentar