English Version | Bahasa Indonesia

Kesanggupan Berujud Tantingan

18 Oktober 2011 08:56


Yogyakarta, KerajaanNusantara.Com - Rangkaian prosesi Pernikahan Agung GKR Bendara dengan KPH Yudanegara telah memasuki hari kedua. Pada hari kedua ini (17/10) terdapat dua sesi acara, pagi-siang dan malam. Pada pagi hari digelar prosesi siraman. Sedangkan pada malam hari diadakan prosesi tantingan dan midodareni.

Prosesi tantingan bagi calon pengantin putri, dihelat di Tratag Bangsal Proboyekso. Acara di Bangsal Proboyekso ini dihadiri oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, GKR Hemas, serta kelima putrinya, yaitu GKR Pembayun, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GRAj NurabraJuwita, dan GKR Bendara. Turut hadir pula dalam prosesi ini adalah abdi dalem Pamethakan (dari asal kata pethak yang berarti putih), serta petugas KUA Kecamatan Keraton.

Prosesi tantingan dimulai ketika Sultan HB X beserta GKR Hemas dan kelima putrinya telah hadir dan duduk di Tratag Bangsal Proboyekso menghadap ke arah timur sekitar pukul 19.00 WIB. Sri Sultan HB X kemudian menitahkan kepada dua abdi dalem untuk menjemput para abdi dalem Pamethakan yang telah menunggu (duduk bersila) di emper Bangsal Proboyekso sisi utara.   

Mendapatkan tanda untuk menghadap, abdi dalem Pamethakan kemudian berjalan pelan menuju ke arah Sri Sultan dan duduk di samping kiri. Dua orang dari abdi dalem yang terdiri dari pertugas KUA dan abdi dalem Pamethakan kemudian maju dan duduk bersila di hadapan Sri Sultan.

Pada saat inilah, Sri Sultan kemudian melakukan prosesi tantingan kepada GKR Bendara. Menggunakan Bahasa Bagongan (salah satu tingkatan bahasa Jawa yang hanya dipakai di Keraton), Sri Sultan menanyakan kepada GKR Bendara apakah telah siap dan bersedia menikah dengan KPH Yudanegara. "Anak ingsun Gusti Kanjeng Ratu Bendara, opo sliramu wis sumadya tak dhaupake karo abdi ingsun Kanjeng Pangeran Harya Yudanegara?"  (Anakku, Gusti Kanjeng Ratu Bendara, apakah kamu bersedia saya nikahkan dengan Kanjeng Pangeran Harya Yudanegara?" Demikian Sultan HB menanting GKR Bendara. "Ingih" (ya, saya bersedia), demikian jawab GKR Bendara.

Usai mendengar jawaban dari GKR Bendara, abdi dalem Pamethakan kemudian melafadzkan doa syukur. Setelah doa selesai dilafadzkan, GKR Bendara menandatangani surat kelengkapan administrasi sebagai calon mempelai putri yang terdaftar di wilayah KUA Kecamatan Keraton. Prosesi ini berakhir ketika GKR Bendara melakukan sembah sungkem kepada Sri Sultan HB X sebagai wujud penghormatan seorang anak kepada ayahandanya.

Selesai menghadiri prosesi tantingan, Sri Sultan HB X, GKR Hemas, dan para kerabat, kecuali GKR Bendara, berjalan menuju Bangsal Kasatriyan untuk meninjau persiapan calon pengantin putra, KPH Yudanegara. Di Bangsal Kasatriyan telah menunggu kerabat Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, antara lain KGPH Hadiwinoto dan GBPH Prabukusumo, serta keluarga dari KPH Yudanegara.

Di Bangsal Kasatriyan, Sri Sultan meninjau semua kelengkapan untuk menjalani prosesi pernikahan yang puncaknya akan terjadi pada (18/10). Selain meninjau, Sri Sultan juga beramah-tamah secara singkat dengan keluarga calon besan (keluarga dari pihak calon pengantin pria) dilakukan. Prosesi ini berakhir ketika KPH Yudanegara menyerahkan seikat bunga dan sekotak cinderahati kepada Sri Sultan HB X. Cinderahati ini merupakan titipan untuk GKR Bendara.

Setelah prosesi tantingan ini, dihelat prosesi midodareni sekitar pukul 21.00 WIB. Prosesi midodareni memiliki tujuan untuk medapatkan berkah berupa kecantikan, baik lahir maupun batin, laksana seorang bidadari. Prosesi yang dilakukan oleh calon pengantin puteri ini dihelat di Bangsal Sekar Kedaton.

Dalam midodareni, pengantin putri tidak diperkenankan untuk tidur. Dalam kesempatan ini, pengantin putri diwajibkan untuk mendengarkan petuah, petunjuk, doa, dan harapan dalam menjalankan prosesi pernikahan sampai membina rumah tangga.

Tunggul Tauladan/09/10-2011

Sumber Foto: Koleksi www.kerajaannusantara.com


Dibaca : 1337 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar