English Version | Bahasa Indonesia

Siraman Calon Pengantin Pernikahan Agung Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

17 Oktober 2011 15:33


GKR Hemas melakukan prosesi siraman kepada putrinya, GKR Bendara

Yogyakarta, KerajaanNusantara.Com - Pasangan calon pengantin pernikahan agung Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada (17/10) melakukan prosesi siraman. Masing-masing calon pengantin melakukan prosesi siraman di tempat terpisah. GKR Bendara melakukan prosesi siraman di Dalem Sekar Kedaton, sedangkan KPH Yudanegara di Gedong Pompa yang terletak di Dalem Kasatriyan.

Pada pukul 09.00 WIB, GKR Bendara terlebih dahulu melakukan prosesi siraman. Prosesi ini diawali dengan kedatangan GKR Pembayun (putri sulung Sultan Hamengkubuwono X) ke Gedong Sekar Kedaton. GKR Pembayun kemudian mengutus GKR Maduretno (kakak GKR Bendara) beserta abdi dalem untuk membawa air siraman ke Dalem Kasatriyan, tempat digelarnya prosesi siraman untuk calon pengantin pria.

Di Dalem Kasatriyan, rombongan GKR Maduretno diterima oleh KGPH Hadiwinoto. Air siraman yang dibawa oleh rombongan kemudian disatukan di Gedong Pompa. Air inilah yang nantinya akan dipakai untuk siraman bagi KPH Yudanegara. Air siraman diambil dari 7 mata air yang berbeda, yaitu dari Dalem Bangsal Sekar Kedhaton, Dalem Regol Manikhantoyo, Dalem Bangsal Manis, Dalem Regol Gapura, Dalem Regol Kasatriyan, Dalem Kasatriyan Kilen, dan sumber air di Gadri Kagungan Dalem Kasatriyan.

Prosesi selanjutnya adalah krobongan atau doa untuk memohon keselamatan dan kelancaran selama prosesi pernikahan serta keberkahan bagi kedua calon pengantin dalam membina rumah tangga. Usai krobongan, GKR Bendara berganti busana pasadan Grompol dan kain Sida Asih, kemudian berjalan menuju tratag Bangsal Sekar Kedaton untuk memulai prosesi siraman.  

Siraman pertama dilakukan oleh GKR Hemas selaku ibunda dari GKR Bendara. Siraman berikutnya dilakukan oleh GKR Pembayun, kemudian disusul oleh Nyai Pengulu dan para sesepuh Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat lainnya.

Usai melakukan siraman, GKR Bendara kemudian minum jamu untuk menjaga kesehatan dan dikerik (mengerik anak rambut di bagian kening). Pengerikan bertujuan untuk mempermudah prosesi merias calon pengantin pada esok hari.

Ketika prosesi siraman calon pengantin putri berlangsung, KGPH Hadiwinoto memerintahkan kepada abdi dalem Kawedanan Hageng Punakawan Wahana Sarta Kriya dibantu para prajurit untuk memasang tarub dan bleketepe. Pemasangan tarub dimulai dari Pagelaran, Bangsal Pacikeran, Tarub Agung, Regol Brajanala, Bangsal Pancaniti, Regol Keben, Bangsal Srimanganti, Bangsal Trajumas, doorlop Regol Danapratapa, doorlop Bangsal Kencana, dan kuncung Bangsal Kencana. Sedangkan bleketepe dipasang di atas kuncung tratag Bangsal Kencana sisi timur, Regol Kasatriyan, Bangsal Kasatriyan, Gedong Pompa, Gedong Srikraton, Purwarukmi, dan Regol Magangan.

Tarub adalah hiasan dari janur kuning (daun kelapa yang masih muda) yang dipasang di kanan-kiri di bawah  bleketepe. Hiasan tarub terdiri dari: dua batang pisang raja yang buahnya telah matang, dua janjang kelapa gading, dua ikat padi siap panen, dua batang pohon tebu wulung (tebu hitam) yang lurus batangnya, daun beringin, dan daun dadap srep. Sedangkan bleketepe adalah anyaman yang terbuat dari daun kelapa berwarna hijau.   

GKR Hemas melakukan prosesi siraman kepada calon menantunya, KPH Yudanegara

Sekitar pukul 11.00 WIB, GKR Hemas beserta rombongan berjalan menuju Dalem Kasatriyan untuk melakukan siraman kepada calon pengantin pria, KPH Yudanegara. Setelah GKR Hemas sampai di Dalem Kasatriyan, KPH Yudanegara kemudian diarak menuju Gedong Pompa untuk melakukan siraman. Dalam prosesi ini, KPH Yudanegara memakai busana pasadan Grompol singep nyamping Sida Asih.

Sebelum prosesi siraman dimulai, terlebih dahulu dibacakan doa yang dipimpin oleh Nyai KRP Dipodiningrat. Usai doa, prosesi siraman untuk KPH Yudanegara dimulai dengan siraman pertama kali yang dilakukan oleh Hj. Nurbaiti Helmi, ibu KPH Yudanegara. Selanjutnya, siraman dilakukan oleh GKR Hemas, GKR Pembayun, serta para sesepuh Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Selesai melaksanakan prosesi siraman, KPH Yudanegara kemudian minum jamu untuk menjaga kesehatan.

Siraman berasal dari adalah kata “siram” yang memiliki padanan kata “mandi” dalam bahasa Indonesia.  Siraman merupakan salah satu prosesi yang dijalani oleh kedua calon pengantin, biasanya satu hari sebelum melangsungkan akad nikah. Prosesi ini bertujuan untuk menyucikan jiwa dan raga calon pengantin.

Pihak yang melakukan siraman adalah kedua ibu calon pengantin, para kerabat, dan sesepuh yang memiliki figur baik. Hal ini memiliki maksud, yaitu bahwa orang-orang tersebut dapat dijadikan contoh sehingga dianggap pantas untuk memberikan doa bagi kedua calon pengantin. 

Dalam prosesi siraman diperlukan berbagai ubo rampe (syarat atau peralatan upacara). Ubo rampe tersebut antaralain: air yang diambil dari 7 sumber mata air yang berbeda, kembang setaman (bunga tujuh rupa), penggosok badan yang terbuat dari beras dan kencur yang diberi pewarna (konyoh panca warna), kendi atau klenting, beberapa daun, yaitu  daun kluwih, koro, awar-awar, turi, dadap srep, serta alang-alang.  

Selain ubo rampe, prosesi siraman juga memuat berbagai petuah, nasehat, doa, dan harapan. Berbagai hal tersebut disimbolkan melalui beberapa benda seperti: tumpeng robyong, tumpeng gundul, jajan pasar, pisang raja satu sisir, wadah dari tanah liat (empluk berukuran kecil) yang di dalamnya diisi dengan bumbu dapur dan beras.

Tunggul Tauladan/08/10-2011

Sumber Foto: koleksi Media Centre Pernikahan Agung GKR Bendara dengan KPH Yudanegara


Dibaca : 4236 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar