English Version | Bahasa Indonesia

KPH Yudanegara Jalani Prosesi Nyantri

17 Oktober 2011 08:29


KPH Yudanegara turun dari Kereta Kuda Kyai Puspoko Manik menuju Bangsal Kasatriyan

Rangkaian Pernikahan Agung KPH Yudanegara dengan GKR Bendara dimulai dengan prosesi nyantri pada (16/10). Nyantri merupakan salah satu prosesi yang harus dijalani oleh calon pengantin pria ketika akan menikah dengan puteri Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Prosesi ini dilakukan dengan tujuan agar pengantin pria bisa menata dan mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun mental, untuk melakukan prosesi-prosesi pengiring pernikahan lainnya.

Di dalam prosesi nyantri, “calon pengantin pria akan diberikan petunjuk-petunjuk untuk melakukan upacara. Petunjuk-petunjuk tersebut salah satunya adalah perlengkapan akad nikah”, demikian disampaikan oleh KRT. H. Jatiningrat, SH. Selama prosesi nyantri ini calon pengantin pria tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan calon pengantin wanita.  

Prosesi nyantri diawali dari Bangsal Kasatriyan, di mana KGPH Hadiwinoto mengutus kepada KRT. H. Jatiningrat, SH dan KRT Yudadiningrat untuk menjemput calon pengantin pria, yaitu KPH Yudanegara di Dalem Mangkubumen, yang berlokasi di Kompleks Universitas Wangsa Manggala, di sebelah barat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Usai menerima perintah dari KGPH Hadiwinoto, KRT. H. Jatiningrat, SH dan KRT Yudadiningrat sekitar pukul 09.00 berangkat dari Bangsal Kasatriyan, melewati Regol Magangan menuju ke Dalem Mangkubumen.

Perjalanan kedua bangsawan ini menuju ke Dalem Mangkubumen dilakukan dengan mengendarai Kereta Kuda Kyai Kus Gading. Selain Kereta Kuda Kyai Kus Gading, turut serta pula dalam rombongan  penjemput adalah Kereta Kuda Kyai Puspoko Manik dan Kereta Kuda Kyai Puspoko Harjo. Rombongan penjemput ini dikawal oleh Pasukan Kavaleri (berkuda) dari TNI.

Di Dalem Mangkubumen, KPH Yudanegara yang mengenakan busana Jawa berwarna putih beserta keluarga besar telah siap menunggu rombongan penjemput dari Bangsal Kasatriyan. Sesampaikan di Dalem Mangkubumen, rombongan penjemput menyampaikan maksud untuk membawa KPH Yudanegara menuju ke Bangsal Kasatriyan untuk menjalankan prosesi nyantri.

Usai menyampaikan maksud tersebut, KRT. H. Jatiningrat, SH dan KRT Yudadiningrat kembali menaiki Kereta Kuda Kyai Kus Gading, sedangkan di belakangnya berturut-turut adalah Kereta Kuda Kyai Puspoko Manik yang dikendarai oleh KPH Yudanegara dan seorang perwakilan dari pihak pria, serta Kereta Kuda Kyai Puspoko Harjo yang dikendarai oleh Ibu KPH Yudanegara dan seorang anggota keluarga lain dari pihak pria.

Iring-iringan rombongan penjemput beserta calon pengantin pria akhirnya tiba di Regol Magangan. Di tempat ini telah menyambut Permaisuri Sultan Hamengkubuwono X, GKR Hemas beserta rombongan. Bersama dengan GKR Hemas, KPH Yudanegara dibawa menuju Bangsal Kasatriyan untuk menjalankan ritual nyantri.    

GKR Bendara Lakukan Prosesi Plangkahan


GKR Bendara (kiri) menyerahkan syarat kepada GRAj Nurabrajuwita (kanan)
dalam prosesi plangkahan

Ketika KPH Yudanegara menjalankan prosesi nyantri, GKR Bendara dalam waktu yang bersamaan menjalankan prosesi plangkahan dan ngabekten di Keraton Kilen. Sultan Hamengkubuwono X hadir dalam prosesi ini.

Plangkahan dalam bahasa Jawa berarti melangkahi atau mendahului. Tradisi Jawa ini dilakukan apabila seorang adik menikah mendahuli kakaknya. Prosesi inilah yang dilakukan oleh GKR Bendara karena mendahului pernikahan kakaknya, GRAj Nurabrajuwita.

Dalam prosesi ini, GKR Bendara meminta izin kepada GRAj Nurabrajuwita karena telah menikah terlebih dahulu. Dalam plangkahan ini pihak yang melangkahi (GKR Bendara) wajib menyerahkan syarat kepada GRAj Nurabrajuwita, berupa beberapa perhiasan, tas, sepatu, dompet, setangkep pisang sanggan, dan kebaya. Usai menyerahkan syarat kepada GRAj Nurabrajuwita, GKR Bendara yang mengenakan kebaya warna abu-abu menjalankan prosesi ngabekten, yaitu memohon doa restu kepada Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas.

Ketika prosesi plangkahan dan ngabekten telah selesai, GKR Pembayun (puteri tertua Sultan Hamengkubuwono X) memerintahkan kepada utusan dalem, yaitu BRAy Suryadiningrat dan BRAy Suryametaram menjemput GKR Bendara dari Keraton Kilen untuk dibawa menuju Keputren. Setelah memasuki kompleks Keputren, rombongan GKR Bendara singgah sejenak di Bangsal Sekar Kedathon dan di emper Bangsal Gedhong Prabayeksa.

Di Keputren ini, GKR Bendara akan menjalani prosesi sengker atau pingitan. Selama prosesi ini, GKR Bendara tidak diperkenankan keluar dari Keputren. Selain itu, GKR Bendara juga melakukan beberapa persiapan untuk prosesi siraman yang dijadwalkan akan dihelat pada (17/10). 

Tunggul Tauladan/07/10-2011

Sumber Foto: koleksi www.kerajaannusantara.com


Dibaca : 1482 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar