English Version | Bahasa Indonesia

Gelar untuk Putri dan Calon Menantu Raja Jogja

05 Juli 2011 15:10


Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Nurastuti Wijareni dengan Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Yudanegara

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dalam beberapa bulan ke depan, tepatnya bulan Oktober 2011, akan menggelar penikahan agung putri bungsu Sultan HB X, Gusti Raden Ajeng (GRA) Nurastuti Wijareni dengan Achmad Ubaidillah. Sebagai salah satu prosesi untuk menuju pernikahan, maka pada Minggu (3/07) digelar wisuda penerimaan gelar kebangsawanan.

Sri Sultan HB X selaku Raja Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat memberikan gelar kepada putri bungsunya, dari gelar Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurastuti Wijareni menjadi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara. Sedangkan calon menantu, Achmad Ubaidillah diberikan gelar Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Yudanegara.

Dalam silsilah di Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, nama “Yudanegara” biasa disandang oleh seseorang di bidang kemiliteran. Karakter kemiliteran inilah yang tampaknya sesuai untuk sosok Achmad Ubaidillah. Pria kelahiran Jakarta, 21 Oktober 1981 ini mengaku bahwa nama tersebut didapatkannya setelah melalui proses diskusi sebulan lamanya dengan para anggota keluarga, terutama dengan ibunya.

Wisuda pemberian gelar ini dilakukan di Bangsal Kesatriyan, kompleks Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Gelar kebangsawanan diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X melalui Pengageng Kawedanan Hageng Panitrapura, Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH) Joyokusumo. Selanjutnya, GBPH Joyokusumo menganugerahkan gelar kebangsawanan kepada putri bungsu Sultan HB X dan calon mempelai pria.

Dalam upacara penganugerahan gelar kebangsawanan, Achmad Ubaidillah –yang selanjutnya bergelar KPH Yudanegara—duduk bersila di tengah-tengah empat soko (tiang) di Bangsal Kesatriyan. Di sekeliling Achmad Ubaidillah terdapat para kerabat Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Di depan Achmad Ubaidillah, duduk GBPH Joyokusumo dan GBPH Prabukusumo (keduanya adalah adik Sultan HB X). Sedangkan di belakang kedua adik sultan ini duduk Gusti Yudoningrat, Gusti Cokroningrat, dan Gusti Tejoningrat. Pihak keluarga dari Achmad Ubaidillah juga tampak hadir dalam upacara ini, seperti Tursandi Alwi yang ditunjuk sebagai pimpinan keluarga besar Achmad Ubaidillah.

Jalan Malioboro Ditutup

Sementara itu untuk menyongsong upacara pernikahan agung Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara dengan Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Yudanegara yang direncanakan akan digelar pada tanggal 16-19 Oktober 2011 mendatang telah direncakan berbagai persiapan. Menurut rencana pada tanggal 16 Oktober 2011, kedua mempelai akan melakukan ijab qobul di Masjid Panepen (masjid khusus keluarga keraton) yang terletak di dalam kompleks Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada prosesi ini, kedua mempelai memakai pakaian atau pengageman atela putih. Pada tanggal 17 Oktober 2011, kedua mempelai melangsungkan prosesi basahan. Ketika prosesi ini berlangsung kedua mempelai mengenakan pangageman panggih. 

Selanjutnya pada tanggal 18 Oktober 2011 dilangsungkan kirab pengantin dengan rute Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ke utara menuju perempatan Kantor Pos Besar (Monumen Serangan Umum 1 Maret), kemudian ke utara menuju Jalan Malioboro. Kirab akan dimulai pukul 16.00 WIB dan direncanakan akan berakhir pada pukul 18.00 WIB. Selama prosesi kirab berlangsung, Jalan Malioboro akan ditutup. Usai kirab, akan dilangsungkan resepsi di Bangsal Kepatihan. Dalam resepsi ini, kedua mempelai mengenakan pengagem jangan menir (menyerupai basahan namun mengenakan beskap).

Menurut GBPH Joyokusumo, kirab ini nanti akan melibatkan 5 kereta kuda, 3 di antaranya kereta tertutup (kaca). Dua kereta tertutup nantinya akan dipergunakan oleh orangtua dari masing-masing pengantin. Sedangkan kedua mempelai akan menggunakan Kereta Kencana Jongwiyat yang ditarik oleh kuda, namun tidak menggunakan kusir.

Dalam iring-iringan kirab, lima kereta kuda akan dikawal oleh 12 kuda yang dinaiki para penari Persan Lawung. Pengawalan juga akan dilakukan oleh 12 prajurit keraton yang terbagi atas Prajurit Mantrijeron dan Wibrobrojo sambil membawa bendara Gula Kelapa. Konsep kirab beserta pengawalan tersebut pada dasarnya mengaju pada tradisi iring-iringan pengantin pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VII. Hanya saja terdapat sedikit perbedaan, yaitu jika pada masa HB VII kedua mempelai dikirab menggunakan tandu, namun pada masa sekarang naik kereta kuda.

Pada pagi hari (19 Oktober 2011), kedua mempelai direncanakan akan menghadap Sri Sultan HB X di Gedong Jene. Acara ini bertujuan untuk mendengarkan nasehat dari Raja Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

(Tunggul Tauladan/04/07-2011)

Sumber foto: http://www.detiknews.com/


Dibaca : 6133 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar

noor imansyah 18 Oktober 2011 08:33

SAYA SANGAT BANGGA, BAHAGIA, JUGA TERHARU MELIHAT PASANGAN INI, YANG MENURUT PANDANGAN SAYA SANGAT SERASI DAN HARMONIS. SEMOGA ALLAH SWT. MELIMPAHKAN RAHMAT,NIKMAT DAN PETUNJUK KEPADA MEMPELAI. UNTUK KEDUA MEMPELAI SAYA UCAPKAN SELAMAT "MENEMPUH HIDUP BARU" DAN BAHAGIA SELALU, AMIN, AMIN, AMIN