English Version | Bahasa Indonesia

Tentang Istana

Benteng Baluwerti

Benteng berfungsi sebagai tembok perlindungan istana dari serangan musuh. Di Kesul­tanan Ngayogyakarta Hadiningrat, benteng ini disebut sebagai Benteng Baluwerti, yakni berupa dinding yang melingkungi kawasan pusat Keraton Yogyakarta. Benteng Baluwerti dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, yakni selama kurun tahun 1785-1787. Sebagai pencetus pembangunan benteng adalah sang Putra Mahkota, yakni Raden Mas Sundoro (1750-1828) yang setelah dinobatkan mendapat gelar sebagai Sultan Hamengku Buwono II. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II, tepatnya pada tahun 1809, bangunan benteng keraton diperkokoh.

Sebagai dinding pertahanan, benteng keraton dilengkapi dengan sejumlah meriam siap tembak yang diletakkan di atas tembok benteng. Benteng yang mengelilingi wilayah pusat istana ini berbentuk persegi. Setiap sisinya memiliki panjang kira-kira 1000 meter, tinggi 3-4 meter, dan tebal 4 meter, sehingga memungkinkan prajurit berkuda dapat berpatroli dari atas benteng ini. Untuk memperkokoh pertahanan, di sekeliling benteng dibuat parit (­jagang) dengan lebar sekitar 4 meter dan kedalaman 3 meter. Namun di masa sekarang, parit yang semula mengelilingi benteng itu sudah tidak ada lagi.

Di dalam benteng, khususnya yang berada di sebelah selatan, dilengkapi dengan jalan kecil yang berfungsi untuk mobilisasi prajurit dan persenjataan. Sedangkan di keempat sudut benteng dibuat bastion yang dilengkapi dengan lubang kecil yang berguna untuk mengintai situasi di luar benteng. Bastion inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Pojok Beteng. Kini, yang tersisa tinggal tiga bastion atau Pojok Beteng saja.

Selain itu, terdapat lima pintu gerbang yang berbentuk terowongan untuk masuk ke dalam area benteng yang selalu dijaga oleh prajurit Kerajaan. Kelima pintu gerbang itu disebut plengkung karena mempunyai bentuk-bentuk melengkung. Pada waktu itu, plengkung terbuat dari bahan kayu tebal dan kuat. Kelima plengkung itu masing-masing bernama Plengkung Tarunasura (Wijilan) di sebelah timur laut istana, Plengkung Jagasura (Ngasem) di sebelah barat daya, Plengkung Jayabaya (Tamansari) di sebelah Barat, Plengkung Nirbaya (Gading) di sebelah selatan, dan Plengkung Tambakbaya (Gondomanan) di sebelah timur. Dari kelima plengkung, yang tersisa sekarang tinggal dua, yakni Plengkung Tarunasura di Wijilan dan Plengkung Nirbaya di Gading.



Dibaca : 1830 kali
« Kembali ke Tentang Istana

Share

Form Komentar