English Version | Bahasa Indonesia

Tentang Raja/Sultan/Pemangku Adat

Sri Susuhunan Pakubuwono XII

Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sri Susuhunan Pakubuwono XII, lahir dengan nama kecil Raden Mas Suryaguritna, pada hari Selasa Legi pukul 11.00 siang, tanggal 20 Dal 1855 dalam penanggalan Jawa atau tanggal 14 April 1925 dalam kalender Masehi. Raden Mas Suryaguritna adalah putra Sri Susuhunan Pakubuwono XI yang lahir dari istri permaisuri, Raden Ayu Kuspariyah. Raden Mas Suryaguritna merupakan putra ke-11 dari 12 anak Sri Susuhunan Pakubuwono XI.

Sejak kecil, Raden Mas Suryaguritna sudah tertarik pada tari-tarian tradisional. Jenis tarian yang paling disukainya adalah Tari Handogo dan Tari Garuda. Selain itu, Raden Mas Suryaguritna juga sangat menyukai olahraga panahan.Beliau juga rajin mengaji dengan berguru pada Prodjowijoto dan Tjandrawijata, dua ulama Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Hingga tahun 1939, status Raden Mas Suryaguritna belum menjadi putra raja karena Sri Susuhunan Pakubuwono XI baru dinobatkan menjadi Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada tanggal 20 Juli 1939. Sebelum bergelar Sri Susuhunan Pakubuwono XI, beliau masih memakai nama Bendara Kanjeng Pangeran Harya (BKPH) Hangabehi. Ketika hari penobatan Sri Susuhunan Pakubuwono XI, Raden Mas Suryaguritna juga memperoleh tambahan gelar kebangsawanan, yaitu Raden Mas Gusti.

Raden Mas Suryaguritna menempuh studi pendidikan dasar di sekolah milik pemerintah kolonial Hindia Belanda, yakni di Europeesche Lagere School (ELS) di Solo selama 7 tahun. Di sekolah, Raden Mas Suryaguritna termasuk murid yang mudah bergaul karena ia tidak memandang status sosial teman-teman sejawatnya. Setelah lulus dari ELS pada tahun 1938, Raden Mas Suryaguritna melanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan tingkat menengah, Hogere Burger School (HBS) di Surakarta.

Pada tahun 1938, Raden Mas Suryaguritna terpaksa izin tidak masuk sekolah sekitar 5 bulan lamanya karena ia diminta untuk ikut ayahandanya, yang memperoleh kepercayaan dari Sri Susuhunan Pakubuwono X mewakili Kasunanan Surakarta Hadiningrat untuk menghadiri undangan perayaan peringatan 40 tahun kenaikan tahta Ratu Wilhelmina, penguasa Kerajaan Belanda. Pada 29 Juli 1939 atau 9 hari setelah penobatan sang ayah sebagai Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Raden Mas Suryaguritna pindah sekolah ke HBS Bandung, Jawa Barat. HBS adalah sekolah lanjutan tingkat menengah pada zaman pemerintah kolonial Hindia Belanda. Baik ELS maupun HBS hanya diperuntukkan bagi anak-anak orang Belanda/Eropa dan anak-anak bangsawan pribumi dengan menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. HBS setara dengan dua jenjang pendidikan sekaligus, yakni Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), namun hanya memiliki masa studi selama 5 tahun.

Raden Mas Suryaguritna tidak sempat menyelesaikan studinya di HBS Bandung karena datangnya pasukan militer Jepang ke wilayah Hindia Belanda (Indonesia) pada tahun 1942 untuk mengambil-alih wilayah jajahan yang semual dikuasai oleh Belanda. Kondisi politik dan keamanan dalam negeri yang memburuk membuat cemas Sri Susuhunan Pakubuwono XI sehingga beliau meminta Raden Mas Suryaguritna untuk segera kembali ke Surakarta. Sang pangeran pun menaati perintah sang ayahanda dan bergegas pulang ke Solo. Berada di istana, Raden Mas Suryaguritna tidak lantas berdiam diri, ia mempelajari tata pemerintahan di bawah bimbingan langsung dari sang ayah.

Hubungan Sri Susuhunan Pakubuwono XI dengan Raden Mas Suryaguritna memang sangat dekat dibandingkan dengan anak-anaknya yang lain. Raden Mas Suryaguritna sering diajak oleh sang ayah untuk ikut melakukan ritual meditasi pada waktu-waktu tertentu. Posisi kamar yang ditempati Raden Mas Suryaguritna yang berdekatan dengan kamar sang ayah sangat memudahkannya untuk siap setiap saat manakala sang ayah membutuhkannya. Apalagi kedua kamar itu juga sangat dekat dengan ruang meditasi. Ritual meditasi biasanya dilakukan hingga larut malam dan setelah selesai, Raden Mas Suryaguritna langsung bertugas memeriksa penerangan di seluruh gedung yang ada di kompleks istana. Setelah itu, ia akan berjaga sampai menjelang fajar. Kebiasaan melakukan meditasi hingga larut malam dan kemudian tidak tidur sampai menjelang pagi itu rupanya melatih mental dan batin Raden Mas Suryaguritna.

Secara implisit, Raden Mas Suryaguritna menafsirkan sikap sang ayah terhadap dirinya sebagai suatu tanda bahwa ia memang sedang dipersiapkan untuk menjadi penerusnya kelak sebagai Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Perasaan Raden Mas Suryaguritna semakin kuat ketika pada suatu kali ia dipanggil menghadap oleh sang ayah yang kemudian memintanya untuk mempersiapkan diri dengan lebih serius. Sri Susuhunan Pakubuwono XI memperkirakan Kasunanan Surakarta Hadiningrat akan mengalami masa-masa yang berat di kelak kemudian hari, dan oleh karena itu beliau mengingatkan akan hal tersebut kepada Raden Mas Suryaguritna.

Pada awalnya, suksesi kepemimpinan di Kasunanan Surakarta Hadiningrat diputuskan oleh Kadipaten Anom, namun tradisi ini mulai ditinggalkan sejak awal abad ke-19. Setelah era pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X (1893-1939) lembaga kerton yang difungsikan untuk mendidik putra mahkota dihapuskan. Hal tersebut menyebabkan suksesi tahta di Kasunanan Surakarta Hadiningrat menjadi agak rumit dan sering menemui kendala karena tidak adanya penunjukkan secara terbuka siapa yang ditetapkan menjadi putra mahkota. Oleh sebab itu, Sri Susuhunan Pakubuwono XI mulai menentukan sikap atas pilihannya dalam menunjuk salah seorang anaknya yang diproyeksikan sebagai pewaris tahta, yakni Raden Mas Suryaguritna.

Pada tanggal 2 Mei 1945, Sri Susuhunan Pakubuwono XI meninggal dunia. Sebelum jenazah almarhum diberangkatkan ke makam raja-raja di Imogiri yang kini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta, diumumkan juga bahwa Raden Mas Suryaguritna diangkat sebagai Putra Mahkota Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan menyandang gelar Pangeran Adipati Aryo Hamengkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram. Dengan demikian, Raden Mas Suryaguritna harus bersiap-siap untuk menggantikan peran ayahandanya sebagai Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang berikutnya.

Penobatan Raden Mas Suryaguritna sebagai Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat dilakukan pada tanggal 12 Juni 1945, tepatnya pada hari Kamis tanggal 2 Syaban Tahun Ehe 1876 menurut penanggalan Jawa. Setelah dinobatkan sebagai Raja Surakarta, Raden Mas Suryaguritna yang saat itu berusia 20 tahun, berhak menyandang gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwono Senopati Ing Ngalago Abdurahman Sayidinan Panatagama XII atau yang disingkat menjadi Sri Susuhunan Pakubuwono XII. Kelak di kemudian hari, oleh masyarakat Surakarta, Sri Susuhunan Pakubuwono XII disebut sebagai Sinuwun Amardika karena dinobatkan menjadi raja menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Selama masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono XII yang berlangsung sampai dengan tahun 2004, banyak prestasi yang sudah ditorehkan sang raja dan memperoleh pengakuan dari banyak pihak, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dari pemerintah Republik Indonesia pula, misalnya, Sri Susuhunan Pakubuwono XII menerima penghargaan tertinggi yaitu Bintang Jaya Dharma, Bintang Gerilya, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I, dan Satya Lencana Perang Kemerdekaan II. Selain itu, pada tahun 1995 Sri Susuhunan Pakubuwono XII juga mendapat penghargaan Grootkruis in de Orde van Oranje Nassau dari Ratu Beatrix, orang nomor satu di Kerajaan Belanda. Tidak hanya itu, pada tanggal Desember 2003, tokoh lintas agama asal India yang kemudian menjadi warga negara Amerika Serikat, Sri Chinmoy, memberikan gelar kepada Sri Susuhunan Pakubuwono XII sebagai Bapak Perdamaian Dunia atau Lifting Up the World with a Oneness Heart Award. Pada kesempatan itu, Sri Chinmoy juga telah menciptakan lagu khusus tentang pribadi Sri Susuhunan Pakubuwono XII yang berjudul King Sinoehoen: Wisdom Mountain, Kindness Fountain, Love Sky.

Dibaca : 17617 kali
« Kembali ke Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Share

Form Komentar

supono 23 April 2012 14:57

Kami salut karena sudah berabad-abad sampai turun temurun Kasunanan Surakarta menjadi tonggak sejarah budaya Indonesia. Sejak tahun 1745-2012, sudah 13 Raja sampai sekarang mulai dari Paku Buwono 2(II) sampai Paku buwono ke-13(XIII)