English Version | Bahasa Indonesia

Taman Istana

Taman Sriwedari

Taman Sriwedari pada mulanya dibangun dengan tujuan untuk kawasan rekreasi, hiburan, dan tempat peristirahatan bagi keluarga istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pencetus dibangunnya taman ini adalah Sri Susuhunan Pakubuwono X yang bertahta pada periode tahun 1893 sampai tahun 1939. Oleh karena itu, dahulu, kawasan Taman Sriwedari yang dibangun pada 1899 ini dikenal juga dengan sebutan Bon Rojo (berasal dari istilah Kebon Rojo yang berarti Taman Raja). Sebelum dijadikan sebagai kawasan rekreasi keluarga istana, Taman Sriwedari awalnya dikembangkan sebagai taman kota, dan sejak tahun 1901, taman ini diresmikan sebagai kawasan rekreasi bagi keluarga keraton. Lahan tempat dibangunnya Taman Sriwedari dengan luas kira-kira 10 hektar ini dibeli oleh KRMT Wirjodiningrat, kakak ipar Sri Susuhunan Pakubuwono X, dari Johannes Busselaar, seorang Belanda yang tinggal di Solo, pada 5 Desember 1877 dengan status tanah hak milik. Setelah diterapkannya Undang-undang Pokok Agraria oleh Pemerintah Republik Indonesia yang berlaku sejak tanggal 24 September 1960, status kepemilikan tanah Taman Sriwedari didaftarkan kembali namun hanya mendapat status Hak Guna Bangunan (HGB) 22 karena baru didaftarkan pada tahun 1965.

Gagasan pembangunan Taman Sriwedari terinsipirasi dari mitos dalam cerita pewayangan di mana terdapat taman surga yang sangat indah (juga bernama Sriwedari) yang dikisahkan dalam salah satu babak cerita itu. Selayaknya tempat rekreasi, Taman Sriwedari banyak ditanami pepohonan rindang yang membuat suasana menjadi nyaman dan teduh. Beberapa jenis pohon yang ditanam di kawasan Taman Sriwedari antara lain: pohon Casuarina, Kenari, Trembesi, dan lain-lain. Di sisi tenggara, terdapat gundukan tanah buatan, yang disebut punthuk atau gumukan, membentuk pulau. Di tempat ini terdapat telaga buatan yang diberi nama Segaran (dalam bahasa Jawa berarti lautan). Pada zaman dahulu, Segaran sangat indah, di sana terdapat banyak bunga teratai yang mengambang di atas kolam air dan disemarakkan pula dengan berbagai jenis unggas air, seperti angsa, bebek, itik, serta burung bangau.

Di bagian atas pada salah satu gundukan itu didirikan sebuah panggung yang dihiasi dengan warna-warni bunga. Pada era 1950-an, panggung yang kemudian diberi nama Panti Pangeksi ini digunakan untuk pementasan musik keroncong. Di bawah panggung, terdapat sebuah ruangan yang disebut Guosworo, berasal dari kata guo dan sworo yang berarti “Gua Suara”. Ruangan ini digunakan untuk menyimpan perangkat gamelan keraton, yakni Gamelan Satiswaran. Penyediaan ruangan Guosworo dilakukan untuk memastikan bahwa gamelan selalu siap saat diperlukan, misalnya untuk mengiringi suatu perayaan. Di sepanjang paruh abad ke-20 M, khususnya selama masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X, diadakan acara perayaan besar di Sriwedari pada setiap peringatan ulang tahun Susuhunan.

Sri Susuhunan Pakubuwono X menambah koleksi di Taman Sriwedari dengan memelihara berbagai jenis hewan di lingkungan taman. Di sisi sebelah selatan, ada banyak rusa yang ditempatkan tidak jauh dari bangunan paviliun yang nyaman. Sebagian dari paviliun tersebut dibangun dengan konsep terbuka dan bertingkat untuk tempat istirahat sekaligus refreshing. Selain itu, di sisi utara, terdapat sejumlah kandang untuk memelihara beberapa jenis hewan liar, termasuk buaya dan kura-kura. Tak jauh dari situ, masih terdapat sejumlah kandang lainnya yang digunakan untuk menampung binatang-binatang buas, seperti harimau dan macan kumbang. Di sisi selatannya lagi, terdapat kandang monyet, siamang, dan orangutan. Ada juga kandang untuk gajah dan berbagai jenis unggas, seperti ayam liar dan ayam emas.

Tidak hanya itu, untuk semakin menyemarakkan suasana di Taman Sriwedari sebagai salah satu pusat hiburan, Sri Susuhunan Pakubuwono X menginstruksikan supaya dibangun gedung pertunjukan wayang orang (wayang wong) di lingkungan Taman Sriwedari. Hampir setiap malam, pementasan wayang orang ditampilkan di gedung ini. Bahkan, dari sini pula lahir perkumpulan wayang orang yang cukup terkenal, yaitu Wayang Orang Sriwedari yang dibentuk pada tahun 1911. Kawasan gedung pertunjukan wayang orang ini kemudian dikenal juga dengan sebutan Taman Hiburan Rakyat (THR). Di sebelah gedung pertunjukan, berdiri bangunan yang difungsikan sebagai museum, yaitu Museum Radya Pustaka yang dibangun pada tanggal 28 Oktober 1980 oleh salah seorang pejabat istana yang bernama Kanjeng Adipati Sosrodiningrat IV.

Sejak masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X, Taman Sriwedari menjadi tempat diselenggarakannya tradisi Malam Selikuran. Dalam bahasa Jawa, Malam Selikuran berarti malam ke-21 pada bulan Ramadhan. Pada setiap malam yang sering disebut juga sebagai malam Lailatul Qadar ini, Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan warga Solo menggelar tradisi berupa Kirab Seribu Tumpeng. Kirab ini dimulai dari pelataran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan berakhir di Taman Sriwedari. Seribu tumpeng yang diarak tersebut kemudian diperebutkan oleh warga di Taman Sriwedari karena dipercaya mengandung berkah. Inilah yang disebut Malam Selikuran dan tradisi ini masih dijalankan hingga sekarang. Tradisi Malam Selikuran diyakini sudah muncul sejak zaman para wali, kemudian berlanjut pada masa Kesultanan Demak, Mataram, Kartasura, hingga kemudian Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Selain itu, Taman Sriwedari juga pernah menjadi lokasi penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I pada tahun 1948.

Dibaca : 6105 kali
« Kembali ke Tentang Istana

Share

Form Komentar