English Version | Bahasa Indonesia

Kesusastraan Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Serat Centhini

Serat Centhini dikenal sebagai salah satu karya sastra terbesar dan hasil karya yang paling fenomenal dalam sejarah kesusastraan Jawa Baru, khususnya dalam jejak prestasi karya sastra yang tercipta di lingkungan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Serat Centhini, yang bernama lengkap Suluk Tambangraras-Amongraga, disampaikan dalam bentuk tembang dan penulisannya dikelompokkan menurut jenis lagunya.

Serat Centhini digubah oleh 3 orang abdi dalem atau lebih tepatnya pujangga Kasunanan Surakarta Hadiningrat atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III, sang putra mahkota yang kelak bertahta menjadi penguasa Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Susuhunan Pakubuwono V (1820–1823 M). Ketiga pujangga istana yang diperintahkan untuk melakukan penggubahan Serat Centhini oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara itu adalah Kyai Yasadipura II atau Raden Ngabehi Ranggawarsita I, Kyai Ranggasutrasna, dan Raden Ngabehi Sastradipura atau yang dikenal juga dengan nama Kyai Haji Ahmad Ilhar.

Tentang  Serat Centhini

Serat Centhini berbunyi paksa suci sabda ji, digubah pada tahun 1742 tahun Jawa atau tahun 1814 Masehi. Angkat tahun itu menunjukkan bahwa Serat Centhini digubah ketika Kasunanan Surakarta Hadiningrat masih dalam era pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono IV (1788-1820 M), atau 6 tahun menjelang dinobatkannya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III sebagai Sri Susuhunan Pakubuwono V, yakni tahun 1748 (Jawa) atau tahun 1820 M. Sumber penulisan Serat Centhini adalah Kitab Jatiswara. Kitab ini memiliki sangkala jati tunggal swara raja, menunjukkan angka 1711 tahun Jawa atau disusun pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono III (1749-1788 M), namun belum diketahui siapa sebenarnya orang yang menulis Kitab Jatiswara itu.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III tidak sembarangan dalam melakukan penggubahan Serat Centhini. Sebelum proses penggubahan dimulai, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III meminta ketiga pujangganya untuk melakukan riset terlebih dulu, mereka diberi tugas-tugas khusus untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan kitab yang sumbernya diambil dari berbagai kawasan. Raden Ngabehi Ranggawarsita I mendapat tugas untuk menjelajahi Jawa bagian barat, Raden Ngabehi Ranggasutrasna memperoleh bagian untuk menjelajahi Jawa bagian timur, sedangkan Raden Ngabehi Sastradipura diperintahkan untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah demi menyempurnakan pengetahuannya tentang agama Islam. Setelah kembali ke Surakarta, nama Raden Ngabehi Sastradipura menyandang nama baru yakni Kyai Haji Ahmad Ilhar. Sebenarnya bukan hanya Serat Centhini saja. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III juga menitahkan kepada ketiga pujangga istana itu agar menggubah kidungan yang berisi nama-nama roh halus (jin, setan, dan lain-lain) yang ada di wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan bahkan di seluruh Jawa.

Dari ketiga pujangga yang bertugas, Raden Ngabehi Ranggasutrasna yang ditugaskan menjelajahi Jawa bagian timur adalah orang yang pertama kali kembali ke Surakarta. Oleh karena itu, oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III, Raden Ngabehi Ranggasutrasna dititahkan untuk segera memulai menyusun Serat Centhini. Setelah Raden Ngabehi Ranggasutrasna berhasil merampungkan jilid I, kedua pujangga lainnya, yakni Raden Ngabehi Ranggawarsita I yang mendapat wilayah dinas di Jawa bagian barat, dan Raden Ngabehi Sastradipura atau Kyai Haji Ahmad Ilhar dari Mekkah, menyusul pulang ke Kasunanan Surakarta Hadiningrat Surakarta. Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III segera memerintahkan ketiga pujangga itu untuk melanjutkan jilid ke-2 sampai ke-4.

Masing-masing pujangga mendapat tugas yang berhubungan dengan hasil risetnya masing-masing. Raden Ngabehi Ranggasutrasna mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan wilayah Jawa bagian barat, Raden Ngabehi Ranggawarsita I mengerjakan hal-hal terkait dengan wilayah Jawa bagian timur, sedangkan Raden Ngabehi Sastradipura mendapat bagian mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan ajaran agama Islam.  Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III pun tidak hanya diam. Beliau sendiri yang mengerjakan jilid ke-5 sampai jilid ke-10. Sang pangeran sebetulnya sedikit kecewa karena bahan-bahan dan pengetahuan tentang persoalan senggama ternyata masih kurang jelas sehingga pengetahuan tentang masalah tersebut dianggap belum sempurna. Sebenarnya Serat Centhini tidak hanya membahas persoalan hubungan intim saja, bagian itu hanya menjadi salah satu fragmen dalam keseluruhan isi naskah Serat Centhini yang sangat kompleks. Untuk dua jilid terakhir, yakni jilid ke-11 dan ke-12, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III menyerahkan kembali pengerjaannya kepada ketiga pujangganya. Demikianlah, kitab Suluk Tambangraras atau Serat Centhini akhirnya selesai dikerjakan dengan jumlah lagu keseluruhannya adalah 725 buah tembang.

Isi Serat Centhini

Serat Centhini disusun berdasarkan kisah petualangan yang dialami anak-anak Sunan Giri, salah seorang dari Wali Songo, setelah istana mereka, Keraton Giri, diduduki oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Kesultanan Mataram Islam, yang dibantu oleh iparnya, Pangeran Pekik dari Surabaya. Setelah Keraton Giri diduduki tentara Mataram Islam, 3 orang anak Sunan Giri, yakni 2 orang anak lelaki bernama Jayengresmi dan Jayengraga, serta seorang anak perempuan bernama Niken Rangcangkapti, meninggalkan kampung halaman mereka untuk berkelana demi menyelamatkan diri dari ancaman Mataram. Pengembaraan ketiga anak Sunan Giri terpisah menjadi dua bagian di mana Jayengresmi terpisah dengan kedua adiknya, yakni Jayengraga dan Niken Rancangkapti.

Dalam perjalanannya, Jayengresmi ditemani oleh dua orang santri setia, bernama Gathak dan Gathuk. Mereka melakukan “perjalanan spiritual” hingga sampai di lokasi bekas Keraton Majapahit di Trowulan (Mojokerto, Jawa Timur). Dari tempat itu, mereka melanjutkan perjalanan ke arah barat, bahkan hingga sampai ke wilayah pulau Jawa bagian barat. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III mengutus para pujangganya untuk melakukan pencarian informasi di Jawa bagian timur dan Jawa bagian barat, sedangkan untuk Jawa bagian tengah sedikit banyak sudah diketahui oleh sang pangeran.

Adapun sejumlah daerah yang pernah didatangi Jayengresmi dan dua orang abdinya antara lain: Blitar, Gamprang, Hutan Lodhaya, Tuban, Bojanagara (Bojonegoro), Hutan Bagor, Gambiralaya, Gunung Pandhan, Desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas wilayah Kerajaan Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang.

Dalam perjalanan ini, Jayengresmi seperti mengalami “pendewasaan spiritual” karena bertemu dengan para guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan beberapa orang juru kunci yang menjaga makam-makam keramat di berbagai tempat yang mereka lalui. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, Jayengresmi belajar tentang segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, alamat bunyi burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu bersenggama, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syeh Siti Jenar. 

Sementara itu, Jayengsari dan Niken Rancangkapti berkelana dengan diiringi oleh seorang santri bernama Buras. Mereka menempuh perjalanan dari Sidacerma, Pasuruhan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Brama, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argapura, Gunung Rawun, Banyuwangi, terus ke Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma Banyumas. Dalam perjalanan itu, mereka memperoleh pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan mengenai bersuci dan pelaksanaan shalat, pengetahuan mengenai dzat Allah (sifat, asma dan afngal-Nya), sifat dua puluh, Hadis Markum, perhitungan selamatan orang mati, serta perwatakan Kurawa dan Pandawa. 

Kitab-kitab Kuning dalam Serat Centhini

Dalam perjalanan ketiga saudara yang terpisah dalam 2 rombongan itu, mereka bersembunyi dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren lainnya untuk menghindari ancaman dari pasukan Mataram. Maka dari itulah, mereka dikenal juga dengan julukan santri kelana, alias santri yang selalu pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam perjalanan sekaligus pelarian itulah mereka banyak sekali mendapat pengetahuan dan tambahan ajaran agama Islam, terutama mengenai kitab-kitab lama atau yang disebut dengan kitab kuning. Dalam Suluk Tambangraras disebutkan tidak kurang 20 kenis kitab kuning yang sebagian besar masih dipelajari dan digunakan sebagai pegangan dalam kurikulum pendidikan di banyak pondok pesantren hingga sekarang.

Serat Centhini mengklasifikasi berbagai macam kitab klasik itu menjadi 4 golongan, yaitu: Kitab Fiqih dan Ushul Fiqih, Kitab Akidah dan Tauhid, Kitab Tafsir, serta Kitab Tasawuf. Untuk golongan Kitab Fiqih dan Ushul Fiqih, kitab-kitab kuning yang disebutkan dalam Serat Centhini antara lain: Kitab Mukarar, Kitab Sujak, Kitab Ibnu Kajar, Kitab Idah, Kitab Subkah, dan Kitab Sittin. Kitab Mukarar adalah Kitab Al-Muharrar karya Muhammad ar–Rafi’i yang digunakan secara luas oleh penganut Mazhab Syafii. Kitab Mukarar pernah digubah kembali oleh Syarif an-Nawawi dengan judul Minhaj al–Thâlibin yang di Jawa dikenal dengan nama Kitab Nawawi.

Kitab Sujak tidak lain adalah Kitab Mukhtasar fî at-Tarikh ’ala Madzhab al-Imam asy-Syafi’i karya Kadi (Qadhi) Abu Syuja’. Kitab Ibnu Kajar menunjuk pada karya Ibn Hajar al-Haitsami yang berjudul Tuhfat al-Muhtaj. Kitab yang juga disebut dengan nama Kitab Tuhpah ini masih dijadikan pegangan oleh para kyai. Pada abad ke-18 M, sebagian dari kitab-kitab ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Jawa. Sedangkan Kitab Idah yang dimaksud adalah Kitab Idhah fi al-Fiqh. Kitab Subakh diperkirakan merujuk pada Kitab Ash-Shuhabah fî al-Mawa’izh wa al-Adab min Hadîts Rasal Allah karya Salama al-Khuda’i. Adapun yang dimaksud Kitab Sittin adalah kitab As- Sittun Mas’alah fî al-Fiqh karya Muhammad al-Zahid al-Mishri.

Selain itu, Serat Centhini juga menyebut tidak kurang dari 8 kitab akidah dan tauhid. Masing-masing kitab itu antara lain: (1) Kitab Semarakandi yang menunjuk pada Kitab Bayan ‘Aqidah al-Ushul karya Ibrahim as-Samarqandi; (2) Kitab Durat yaitu Kitab Ad-Durrah karya Yusuf al-Sanusi al-Hassani; (3) Kitab Talmisan, disebut juga dengan nama Kitab Tilmisani, adalah karya Umar bin Ibrahim al-Tilmisani yang berisi komentar atas Kitab Durah; (4) Kitab Asanusi, karya al-Sanusi yang juga merupakan komentar atas Kitab Durah; (5) Kitab Sail, menunjuk pada Kitab Masa’il karya Abu al-Laits as-Samarqandi. Kitab ini juga dikenal dengan nama Bayan’ Aqidah al-Ushul; (6) Kitab Patakul Mubin yaitu Kitab Fath al-Mubîn karya Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri; (7) Kitab Tasdik menunjuk pada Kitab Bayan at-Tasdiq; dan (8) Kitab Juwahiru menunjuk pada Kitab Al-Jawahir ats-Tsaniyah fi Syarh as-Sanusiyyah yang ditulis oleh Abdullah as-Sughayir Suwaidan.

Serat Centhini juga menyebut sejumlah kitab tafsir, di antaranya adalah Tepsir Baelawi dan Tepsir Jalalen. Tepsir Baelawi adalah Kitab Anwar at-Tamsil wa Asrar at-Ta’wil karya Abdullah bin Umar al-Baidhawi sehingga dikenal juga dengan nama Tafsîr al-Baydhawi. Sedangkan Tepsir Jalalen menunjuk pada Tafsîr al-Jalalayn karya Jalal ad-Din al-Mahalli dan Jalal al-Din al-Suyuthi. Kedua kitab ini hingga sekarang sangat dikenal dan digunakan di sejumlah pondok pesantren.

Dalam bidang tasawuf, Serat Centhini sering menyebut 3 kitab yakni Kitab Ulumodin, Kitab Akhidah, dan Kitab Insan Kamil. Kitab Ulumodin adalah Kitab Ihya ‘Ulum ad-Din karya Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali. Kitab Akhida adalah Kitab Hidayah al-Adhkiya karya Zain al-Din ‘Ali al-Malibari yang ditulis dalam bentuk sajak pada tahun 1509. Kedua kitab tasawuf ini mengajarkan tasawuf yang bersifat ortodoks dalam artian tetap membedakan makhluk dan Pencipta serta lebih menekankan pada syariat. Sedangkan Kitab Insan Kamil cukup dikenal di kalangan masyarakat Jawa karena ajarannya yang sesuai dengan kepercayaan Jawa asli, yaitu “manunggaling kawulo lan gusti”.

Pengetahuan mengenai kitab-kitab klasik yang sangat banyak terhimpun di Serat Centhini sebenarnya bukanlah sesuatu yang mengherankan. Para pujangga Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang menyusun Serat Centhini ini merupakan lulusan pondok pesantren. Kyai Yasadipura I menghabiskan waktu selama hampir 7 tahun untuk memperdalam ilmu agama Islam di Pondok Pesantren Kedhu di bawah asuhan Kyai Anggamaya. Raden Ngabehi Sastradipura bahkan lebih hebat lagi karena selepas lulus dari pesantren, ia dititahkan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III untuk naik haji sekaligus mempelajari lebih dalam tentang ajaran Islam di Mekkah.

Jajaran kitab klasik yang disebut di dalam Serat Centhini memperlihatkan bahwa syariat atau ajaran agama Islam sedikit banyak telah mempengaruhi kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya dan lingkungan Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada khususnya. Dalam salah satu bagian dari Serat Centhini pernah dikatakan bahwa syariat bersama dengan tarekat merupakan tempat untuk menanam makrifat dan hakikat sebagai perwujudan wiji nugraha (benih anugerah). Benih harus ditanam di wadhah (tempat) yang baik. Jika ditanam di tempat yang buruk, maka akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik pula. Oleh karena syariat sebagai wadhah dijadikan sebagai dasar agama, maka setiap orang Islam harus memegang teguh dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Pemaknaan Serat Centhini

Luas daerah dan wawasan pengetahuan yang diperoleh oleh ketiga anak Sunan Giri selama masa pengembaraannya bisa dobolang sangat luas. Hal itulah yang menunjukkan obsesi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III untuk menjabarkan secara mendalam dan komprehensif mengenai  “dunia dalam” orang Jawa. Dengan demikian, serat ini juga bisa digunakan sebagai titik masuk untuk mengetahui bagaimana sebenarnya dunia Jawa itu dan tentunya sangat bermanfaat bagi orang-orang Jawa sendiri, selain juga menyampaikan peran Islam dalam konteks tatanan kosmik mereka.

Serat Centhini merupakan semacam ensiklopedi yang menghimpun semua hal-ihwal tentang dunia dalam masyarakat Jawa. Seperti yang terlihat di bait-bait awal serat ini, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagaran III tampaknya terobsesi untu menyusun sebuah baboning pangawikan Jawi, atau dengan kata lain semacam bank data tentang pengetahuan Jawa. Jumlah keseluruhan bagian yang terhimpun dalam Serat Centhini adalah 12 jilid. Aspek-aspek keilmuan yang dicakup dalam serat ini meliputi persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan, seni tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon atau horoskop, makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita klasik mengenai tanah Jawa, dan lain sebagainya. Intinya, Suluk Tambangraras atau Serat Centhini memperlihatkan pengetahuan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III akan luhurnya kebudayaan Jawa yang adiluhung.

Secara garis besar, Serat Centhini ingin menunjukkan bagaimana Islam menjadi elemen inti yang mendasari seluruh fragmen dalam kitab ini. Namun, Islam dalam kitab ini adalah Islam yang telah mengalami pembacaan ulang melalui kacamata pribumi yang tentu saja tidak sama persis dengan Islam murni yang berasal dari tanah Arab. Islam tidak lagi tampil sebagai “teks besar” yang “membentuk” kembali kebudayaan lokal sesuai dengan pakem ortodokasi yang standar. Sebaliknya, dalam Serat Centhini, justru unsur Jawa berada dalam posisi yang leluasa untuk membaca kembali tentang Islam dengan pandangan yang lebih bernuansa lokal. Pembacaan kembali itu dilakukan tanpa disertai dengan rasa canggung atau bahkan cemas karena bisa saja dianggap “menyimpang” dari patron resminya. Yang justru terlihat pada pemaknaan Islam dalam Serat Centhini adalah sikap yang wajar dalam melihat hubungan antara Islam dan kejawaan.

Boleh jadi Serat Centhini bisa diposisikan sebagai cerminan dari sebuah masa di mana jalinan antara Islam dan Jawa masih berlangsung dalam bingkai yang cukup akrab dan saling memberi akomodasi sehingga dan tidak terjadi gesekan yang keras di antara keduanya. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi pada era setelah kemerdekaan Republik Indonesia di mana identitas kejawaan semakin menderita akibat “politisasi” dalam menghadapi naiknya kekuatan Islam yang cenderung “puritan” dalam kancah politik. Dalam konteks semacam ini, antara Islam dan Jawa terdapat hubungan yang tegang serta penuh prasangka, dan situasi semacam ini terus berlanjut dari masa pemerintahan Orde Lama hingga zaman Orde Baru.

Sebenarnya, Sri Susuhunan Pakubuwono VII yang bertahta dari tahun 1757 sampai 1786, pernah memberikan Suluk Tambanglaras tersebut kepada pemerintah kolonial Belanda sebagai hadiah. Namun, Sri Susuhunan Pakubuwono VII hanya memberikan jilid ke-5 sampai jilid ke-9 saja, dengan ditambahkan kata pengantar baru yang ditulis oleh Raden Ngabei Ranggawarsita III (keturunan dari salah seorang penyusun Suluk Tambanglaras, yakni Kyai Yasadipura II alias Raden Ngabehi Ranggawarsita I). Kitab yang diberikan kepada Belanda itu kemudian dijadikan dalam 8 jilid, dengan sangkala “Tata Resi Amulang Jalma”, atau yang merujuk pada tahun 1775, dan kemudian diberi judul Serat Centhini, yang terdiri dari 280 tembang.

Dengan tujuan agar kekayaan sastra Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini dapat diketahui dan dipelajari oleh masyarakat, maka pada tahun 1931, Balai Pustaka menerbitkan ringkasan Serat Centhini. Ringkasan Serat Centhini yang terhimpun dalam bentuk buku ini dibuat oleh R.M.A. Sumahatmaka berdasarkan naskah milik Reksapustaka dari Istana Mangkunegaran. Ringkasan tersebut telah dialihbahasakan secara bebas dalam bentuk cerita yang diharapkan dapat mudah dipahami oleh masyarakat umum.

Sumber Foto: http://blomada.com/

Dibaca : 2420 kali
« Kembali ke Kesusastraan

Share

Form Komentar

gho cool 23 Januari 2013 20:03

ok