English Version | Bahasa Indonesia

Permintaan Maaf KGPH Tedjowulan Akhiri Konflik di Kasunanan Surakarta Hadiningrat

16 Juni 2012 11:13


Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono XIII (PB XIII) Hangabehi menyaksikan Tari Bedhaya Ketawang pada Tinggalan Dalem Jumenengan ke-8 PB XIII

Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Panembahan Agung Tedjowulan atau Mahapatih Tedjowulan melakukan sembah sungkem kepada Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono XIII (PB XIII) Hangabehi sebagai bentuk permintaan maaf. Prosesi ini dilakukan ketika digelar Tinggalan Dalem Jumenengan ke-8 PB XIII di Sasono Sewoko, Keraton Surakarta Hadiningrat pada (15/6).

KGPH Panembahan Agung Tedjowulan masuk melalui Kori Kamandungan yang merupakan pintu utama keraton dengan diiringi oleh para kerabat, ratusan abdi dalem, serta pengawalan kepolisian yang dipimpin langsung Kapolresta Surakarta, Komisaris Besar Polisi Asjima'in. Rombongan ini kemudian bertambah dengan beberapa kerabat keraton yang telah menunggu di Sasono Mulyo, yaitu GPH Dipokusumo, GPH Mangkusumo, GPH Suryo Wicaksono, BRA Mooryati Sudibyo, Poppy Dharsono, dan Nina Akbar Tandjung

Kedatangan KGPH Panembahan Agung Tedjowulan disambut oleh putra sulung PB XIII, GPH Mangkubumi dan KP Eddy Wirabhumi. Inilah untuk kali pertama KGPH Panembahan Agung Tedjowulan kembali masuk ke keraton sejak konflik di Surakarta mulai pecah 8 tahun silam. Rombongan kemudian diantar menuju Sasono Sewoko tempat prosesi Tinggalan Dalem Jumenengan ke-8 PB XIII digelar. Di Sasono Sewoko, kedatangan KGPH Panembahan Agung Tedjowulan disambut oleh KGPH Puger selaku Pengageng Kusumo Wandowo. KGPH Puger selanjutnya membawa KGPH Tedjowulan menghadap PB XIII Hangabehi yang telah duduk di singgasana.

Sesuai dengan adat yang berlaku, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan meminta maaf kepada PB XIII dengan cara melakukan sembah sungkem, berjalan jongkok mendekat ke PB XIII Hangabehi kemudian sungkem, mencium tangan PB XIII. Usai sungkem, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan duduk bersila di samping dampar atau singgasana di mana PB XIII duduk. Prosesi ini disaksikan langsung oleh para putra-putri PB XII.

Usai melangsungkan permintaan maaf, prosesi Tinggalan Dalem Jumenengan ke-8 PB XIII akhirnya dimulai. Sekitar pukul 09.00 WIB, para kerabat Kasunanan Surakarta Hadiningrat menghaturkan sembah sungkem kepada PB XIII. Sembah sungkem merupakan wujud bakti dari para kerabat terhadap kepemimpinan PB XIII. Acara Tinggalan Dalem Jumenengan ke-8 PB XIII diakhiri dengan penampilan tarian sakral, Bedhaya Ketawang. Tarian yang dibawakan oleh 9 orang gadis ini hanya dipentaskan sekali dalam setahun, yaitu ketika digelar Tinggalan Dalem Jumenengan atau peringatan kenaikan tahta Paku Buwono.

Permintaan maaf pada Tinggalan Dalem Jumenengan ke-8 PB XIII tersebut merupakan tindak lanjut dari upaya rekonsiliasi yang telah digelar sebelumnya, yaitu penandatangan MoU pada (4/6) silam di Gedung DPR RI, Jakarta. Permintaan maaf KGPH Panembahan Agung Tedjowulan sekaligus menandai berakhirnya konflik antara PB XIII Hangabehi dengan KGPH Panembahan Agung Tedjowulan yang tercatat telah terjadi sejak mangkatnya PB XII pada 11 Juni 2004.

Sejak konflik terjadi, ada dua matahari kembar di Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yaitu PB XIII Hangabehi yang bertahta di dalam keraton dan PB XIII Tedjowulan yang bertahta di luar keraton. Berbagai upaya untuk mengakhir konflik telah dilakukan, salah satunya adalah rekonsiliasi yang menghasilkan keputusan bahwa PB XIII Hangabehi bertahta sebagai Sunan Surakarta sedangkan PB XIII Tedjowulan sebagai Mahapatih dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung Tedjowulan. Kini, matahari kembar tersebut telah bersatu menjadi Dwi Tunggal Pemimpin Kasultanan Surakarta Hadiningrat. (Tunggul Tauladan/knc/02/06-2012).

 

Sumber foto: http://www.soloposfm.com/2012/06/tari-bedaya-ketawang/


Dibaca : 991 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar