English Version | Bahasa Indonesia

Rekonsiliasi Konflik Keraton Surakarta Hadiningrat

25 Nopember 2011 16:00


Keraton Surakarta Hadiningrat

Konflik berlarut-larut seputar keabsahan pemimpin (sunan) Kasunanan Surakarta Hadiningrat, hingga hari ini terus berlangsung. Konflik ini melibatkan dua bangsawan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yaitu Sinuhun Pakubuwono XIII Tedjowulan dengan Sinuhun Pakubuwono XIII Hangabehi. Menanggapi konflik yang berlarut-larut tersebut, Sinuhun Pakubuwono XIII Tedjowulan menyampaikan keinginannya untuk melakukan rekonsiliasi dengan kubu Sinuhun Pakubuwono XIII Hangabehi.

Menurut Sinuhun Pakubuwono XIII Tedjowulan, rekonsiliasi tersebut bertujuan untuk  mengembalikan citra dan wibawa Keraton di mata warga Surakarta. Selain itu, rekonsiliasi juga bertujuan untuk menyelamatkan Keraton Surakarta yang semakin hari kondisinya semakin memprihatinkan karena sekitar 85 % bangunan keraton telah rusak. Kerusakan tersebut salah satunya dipicu karena berhentinya dana perawatan dan pelestarian dari pemerintah akibat konflik yang berkepanjangan.

Niat untuk melakukan rekonsiliasi tersebut disampaikan oleh Sinuhun Pakubuwono XIII Tedjowulan usai memberikan gelar bangsawan kepada  Herman Deru, Bupati OKU Timur, Sumatera Selatan, beserta istrinya Lustia Febrita di Surakarta pada (22/11). Herman Deru mendapat gelar KRH Mangkudingrat, sedangkan Lustia Febrita bergelar KMAT Sekar Arum.

Sementara itu, menanggapi tawaran rekonsiliasi dari Sinuhun Pakubuwono XIII Tedjowulan, kubu Sinuhun Pakubuwono XIII Hangabehi melalui GKR Wandansari menyatakan tidak sependapat dengan hal tersebut. GKR Wandansari menyatakan bahwa ide rekonsiliasi yang ditawarkan oleh Sinuhun Pakubuwono XIII Tedjowulan tidak mungkin dapat diterima oleh kubu Sinuhun Pakubuwono XIII Hangabehi.

Selain GKR Wandansari, GRAy Koes Murtiyah yang menjabat sebagai Pangageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta juga menolak usul rekonsiliasi tersebut. Menurut GRAy Koes Murtiyah, rekonsiliasi tidak perlu dilakukan karena menilai pihak Sinuhun Pakubuwono XIII Hangabehi tidak mempunyai masalah dengan pihak lain.

Konflik perebutan tahta di Kasunanan Surakarta Hadiningrat telah berlangsung sejak tahun 2004. Konflik ini bermula ketika Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII mangkat pada 11 Juni 2004. Sepeninggal Pakubuwono XII, muncul beberapa pihak yang menyatakan berhak untuk menduduki tahta Sunan Surakarta Hadiningrat. Pihak-pihak tersebut adalah KGPH Tedjowulan dan KGPH Hangabehi.

Masing-masing pihak memasang klaim “paling berhak” karena pada dasarnya Pakubuwono XII tidak memiliki permaisuri yang apabila nantinya memiliki putera, berhak untuk diangkat sebagai putera mahkota. Pakubuwono XII hanya memiliki enam istri selir (garwa selir) dan 35 orang anak. Anak tertua dari anak garwa selir, yaitu KGPH Hangabehi merasa berhak menggantikan kedudukan sebagai Sunan Surakarta Hadiningrat. Di sisi lain, klaim “paling berhak” tersebut dianggap melangkahi kewenangan dari tiga Pangageng Keraton Surakarta Hadiningrat, yaitu Pangageng Parentah, Pangageng Parentah Kaputren, dan Pangageng Sentana Dalem.

Ketiga Pangageng yang dipimpin oleh GBPH Dipokusumo, Gusti Kanjeng Ratu Alit, dan KGPH Hadiprawono akhirnya mengangkat KGPH Tedjowulan yang notabene merupakan adik KGPH Hangabehi dari garwa selir yang lain. Pengangkatan tersebut dilakukan pada 31 Agustus 2004, atau mendahului pengangkatan KGPH Hangabehi pada 10 September 2004.

Konflik ini lazim disebut sebagai “matahari kembar di Solo” karena terdapat dua pihak yang merasa berhak menduduki tahta sebagai Sunan Surakarta Hadiningrat. Akibat konflik yang berkepanjangan, hingga hari ini Keraton Surakarta Hadiningrat sebagai pusat budaya dan sejarah menjadi kurang terpelihara. Hal ini terjadi karena pemerintah yang sebenarnya telah mengalokasikan dana untuk perawatan dan pelestarian Keraton Surakarta menjadi ragu terkait suasana politis di lingkup intern Keraton Surakarta. Akibat dari konflik ini, bantuan dari pemerintah menjadi berhenti dan Keraton Surakarta Hadiningrat semakin tak terpelihara lagi.

Tunggul Tauladan/07/11-2011

Sumber foto: koleksi www.kerajaannusantara.com 


Dibaca : 4853 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar

mbah par 19 Januari 2012 08:59

Rajanya mestinya menurut pakem anak paling tua.Itu menurut saya lho.

dodo 25 Februari 2012 21:51

Sayang seribu sayang. Kota yang indah dengan pak wali yang luar biasa. Tapi, keluarga kraton yang mengecewakan. seandainya, keluarga kraton harmonis,lingkungan kraton terawat dan keamanan yang kondusif, pastinya akan lebih banyak wisatawan yang akan singgah ke kota solo. Ekonomi juga pastinya lebih baik lagi.

Purwadianto Setyowibowo 28 Februari 2012 07:22

Sayang banget.Padahal saya bangga punya Kraton Surakarta, Solo itu super tp kok malah dari Kraton jd kayak gini. Siapapun yg jadi raja ga masalah orang sama2 se-ayah Sinuhun PB XII ,dan yang penting Kraton terawat jd anak cucu kita bisa tau kemegahan Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan suasana kejawen yang sangat indah.

Kanjeng Senopati Ing Alogo 19 April 2012 18:27

Pantaslah Keraton Surakarta rusak, orang-orang politik seperti Wadansari dan Moertiyah tho penyebabnya.. Apakah beliau berdua bekasnya ngabei?? Mohon pencerahan dan informasi?? Apakah tidak sebaiknya Keraton Surakarta digusur dan didirikan mall saja daripada menggusur pabrik es sari petojo, bukannya keraton lebih layak digusur jika menjadi sumber bencana? mohon pencerahan.