English Version | Bahasa Indonesia

Sri Susuhunan Pakubuwono X Mendapat Gelar Pahlawan Nasional

10 Nopember 2011 13:33


Sri Susuhunan Pakubuwono X

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Sunan Surakarta Hadiningrat, almarhum Sri Susuhunan Pakubuwono X. Selain  Pakubuwono X, gelar pahlawan nasional juga diberikan kepada Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka), Sjafruddin Prawiranegara, KH. Idham Chalid, I Gusti Ketut Puja, Ignatius Joseph Kasimo (IJ Kasimo), dan Ki Sarmidi Mangunsarkoro. Anugerah pahlawan nasional tersebut diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 2011.

Dalam acara yang dihelat di Istana Negara, Jakarta pada (8/11) tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menganugerahkan Bintang Mahaputera Adi Pradana kepada Sultan Sulaiman Shariful Alamshah dari Kesultanan Serdang di Sumatera Utara. Selain itu, Presiden juga menganugerahkan penghargaan kepada para budayawan dan seniman, yaitu Benyamin Sueb, Harijadi Soemadidjaja, Hasbullah Parindurie, Idrus Tintin, Gondo Durasim, Kwee Tek Hoay, Gedong Bagus Oka, Huriah Adam, Gi Tik Swan atau KRT Hardjonagoro, dan Sigit Sukasman.

Anugerah gelar pahlawan nasional bagi almarhum Sri Susuhunan Pakubuwono X diterima oleh Dr. BRA. Mooryati Soedibyo (cucu Pakubuwono X) dan Prof. Gunawan Sumodiningrat (cicit Pakubuwono X). Gelar pahlawan nasional untuk almarhum Sri Susuhunan Pakubuwono X merupakan penghargaan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada khususnya dan masyarakat Surakarta serta Jawa Tengah pada umumnya.

Menurut Mooryati Soedibyo, anugerah pahlawan nasional yang diberikan kepada Pakubuwono X didasari oleh lima alasan, yaitu Pakubuwono X dinilai telah berperan aktif dalam perjuangan pergerakan nasional, pelopor pembangunan sosial ekonomi, pendidikan rakyat, pembentukan jati diri bangsa, dan berperan dalam integrasi nasional. Alasan-alasan tersebut dibuktikan setidaknya dalam dua hal, pertama, Pakubuwono X merupakan Sunan Surakarta yang berhasil mentransformasikan kehidupan tradisional ke arah modernitas tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi. Hal ini sering disebut oleh banyak kalangan sebagai kebesaran tradisi di Kasunanan Surakarta Hadiningrat era pemerintahan Pakubuwono X.

Kedua, Pakubuwono X juga berhasil mengendalikan stabilitas pemerintahan di Surakarta meskipun mendapat tekanan hebat dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Kunci terjaganya stabilitas pemerintahan tersebut adalah adanya pemisahan pemerintah di ibukota yang ditangani oleh lembaga tinggi kasunanan yang disebut Reh Kasentanan dan dipimpin oleh Putra Sentono Dalem dan pemerintahan di luar ibukota atau Pemerintahan Kerajaan Nagari yang dilimpahkan kepada Patih yang membawahi Reh Kapatihan. Akibat pemisahan ini, Pakubuwono X lebih leluasa untuk bergerak meskipun berada dalam tekanan. Salah satu bukti dari keberhasilan tersebut adalah Pakubuwono X sanggup tampil sebagai pendukung pergerakan kebangsaan melalui Sarekat Islam (SI) cabang Surakarta tanpa pernah dicekal oleh Belanda. Singkat kata legitimasi dan wibawa Sunan Surakarta tetap terjaga.

Sri Susuhunan Pakubuwono X lahir pada 26 November 1866 dengan nama Raden Mas Malikul Kusno. Beliau menduduki tahta sebagai Sunan Surakarta Hadiningrat pada 30 Maret 1893. Masa kepemimpinan Sri Susuhunan Pakubuwono X berlangsung antara tahun 1893-1939. Beliau mangkat pada 1 Februari 1939 dan dimakamkan di Makam Raja-raja di Imogiri Yogyakarta. Sri Susuhunan Pakubuwono X disebut oleh rakyatnya sebagai Sunan Panutup.

Tunggul Tauladan/04/11-2011

Sumber foto: http://id.wikipedia.org


Dibaca : 4764 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar

nugi 11 Nopember 2011 10:55

Bangga sebagai "wong solo". Semoga gelar Pahlawan Nasional yang diterima PB X dapat menjadi pemersatu "Raja Kembar" di Kraton Surakarta

R.agung 30 Nopember 2011 12:33

Semoga kejayaan Kasunanan dapat pulih kembali, sejahtera maju dan menyelamatkan budaya Islam juga Jawa