English Version | Bahasa Indonesia

Makam Dinasti Mataram di Kotagede

Selain kompleks Makam Raja-raja di Imogiri, Dinasti Mataram yang diwarisi oleh keluarga besar Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat juga memiliki kompleks pemakaman di Kotagede. Makam Kotagede merupakan area pemakaman yang menjadi tempat persemayaman terakhir para tokoh besar yang berjasa dalam mendirikan dan menegakkan eksistensi Kesultanan Mataram Islam. Secara administratif, kompleks Makam Kotagede berada di perbatasan dua wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Kompleks Makam Kotagede terletak di sebelah tenggara dari Kota Yogyakarta dengan jarak sekitar 5 kilometer dari pusat kota.

Sejarah Mataram di Kotagede

Kotagede pernah menjadi ibukota Kesultanan Mataram Islam yang eksis sejak abad ke-16 Masehi. Sebelum Kotagede dijadikan sebagai pusat pemerintahan, ibukota Kesultanan Mataram berada di Mentaok yang terletak di sebelah timur kawasan Kotagede sekarang. Wilayah Mataram sebenarnya adalah hadiah dari Sultan Hadiwijaya (1549-1582), penguasa Kesultanan Pajang (penerus Kesultanan Demak) yang sebelum menjadi raja dikenal dengan nama Jaka Tingkir, kepada Ki Ageng Pemanahan karena berhasil mengalahkan Arya Penangsang yang melakukan perlawanan terhadap Kesultanan Demak dan kemudian Kesultanan Pajang. Ki Ageng Pemanahan, yang merupakan anak dari Ki Ageng Henis dan cucu dari Ki Ageng Sela (penasehat spiritual Sultan Hadiwijaya) serta disebut-sebut masih ada darah bangsawan dari Prabu Brawijaya V (Raja Kerajaan Majapahit terakhir yang memerintah sampai dengan tahun 1478 M), menerima hadiah tanah perdikan di wilayah Mataram itu pada tahun 1558 M.

Pada waktu itu, Mataram yang merupakan bekas wilayah kekuasaan Kesultanan Pajang masih berupa hutan lebat. Ki Ageng Pemanahan kemudian mendirikan pusat pemerintahannya di Mentaok, salah satu tempat di wilayah Mataram yang sekarang dikenal dengan nama Banguntapan. Pada tahun 1577 M, Ki Ageng Pemanahan memindahkan istananya ke Pasargede, atau yang kemudian dikenal juga dengan nama Kotagede. Ibukota baru ini terletak tidak jauh dari pusat pemerintahan sebelumnya, yakni di sebelah barat Mentaok. Tempat ini bernama Pasargede karena di situ terdapat pasar yang cukup besar dan ramai.

Ki Ageng pemanahan meninggal dunia pada tahun 1584 M. Sebelum wafat, Ki Ageng Pemanahan telah menunjuk putranya yang bernama Danang Sutawijaya sebagai penggantinya untuk memimpin wilayah Mataram yang saat itu masih menjadi kerajaan kecil yang tunduk di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang. Sutawijaya (1587-1601) menyandang gelar Ngabehi Loring Pasar karena istananya terletak di sebelah utara pasar. Penobatan Sutawijaya sebagai pengganti Ki Ageng Pemanahan direstui oleh Sultan Hadiwijaya. Danang Sutawijaya adalah anak pertama dari pasangan Ki Ageng Pemanahan dan Nyai Sabinah (keturunan Sunan Giri, salah satu anggota Wali Songo). Ibunda Sutawijaya bersaudara dengan Ki Juru Martani yang turut berjasa membantu Ki Ageng Pemanahan dalam upaya memberantas perlawanan Arya Penangsang terhadap Kesultanan Pajang pada tahun 1549 M.

Setelah menjadi pejabat penguasa Mataram, Sutawijaya memperoleh julukan lain, yakni Senapati Ingalaga yang artinya “panglima besar di medan perang”. Selain itu, oleh Sultan Hadiwijaya, Sutawijaya diangkat sebagai anak, lebih tepatnya sebagai “pemancing” karena Sultan Hadiwijaya tidak kunjung dikaruniai keturunan. Namun, rupanya Sutawijaya mempunyai kehendak lain dan diam-diam menentang Kesultanan Pajang. Selama setahun lebih, Mataram belum menghadap Sultan Hadiwijaya dan tidak lagi mengirimkan upeti kepada Kesultanan Pajang selaku kerajaan induk. Oleh karena itu, Sultan Hadiwijaya lantas mengirimkan utusannya, yakni Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragi, pada tahun 1576 untuk datang ke Mataram. Saat kedua utusan dari Kesultanan Pajang itu tiba di Mataram, Sutawijaya sedang tidak ada di tempat, namun meskipun mengetahui ada utusan dari Pajang yang datang ke Mataram, Sutawijaya tidak peduli dan tidak mau menemui tamu-tamunya itu.

Sebenarnya Sutawijaya memang sedang mempersiapkan diri untuk memerdekakan Mataram dari penguasaan Kesultanan Pajang. Sutawijaya mulai memperkuat Mataram dengan membangun benteng pertahanan dan melatih angkatan perang Mataram dengan lebih keras. Sutawijaya pun mulai membikin perkara dengan Pajang, ia berhasil membujuk para mantri dari Kedu dan Bagelen yang hendak menyetor upeti ke Kesultanan Pajang untuk bergabung ke dalam barisannya. Sultan Hadiwijaya resah mendengar kemajuan anak angkatnya dan kemudian mengirim utusan untuk menyelidiki perkembangan Mataram. Para utusan Kesultanan Pajang itu antara lain Arya Pamalad Tuban, Pangeran Benawa, dan Patih Mancanegara, yang semuanya oleh Sutawijaya dijamu dengan pesta kendati sempat terjadi perselisihan antara Arya Pamalad Tuban dengan putra tertua Sutawijaya yang bernama Raden Rangga.

Perang urat syaraf antara Mataram dengan Pajang akhirnya meledak pada tahun 1582 M. Kala itu, Sultan Hadiwijaya menghukum buang Tumenggung Mayang ke Semarang karena membantu anaknya yang bernama Raden Pabelan, menyusup ke dalam Keputren dan menggoda Ratu Sekar Kedaton, putri bungsu Sultan Hadiwijaya. Raden Pabelan sendiri dihukum mati dan mayatnya dibuang ke Sungai Laweyan. Ibunda Raden Pabelan adalah adik Sutawijaya. Karena kesal dengan sikap Sultan Hadiwijaya atas kejadian tersebut, Sutawijaya kemudian mengirim pasukannya untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan menuju Semarang. Tindakan Sutawijaya ini tak pelak membuat murka Sultan Hadiwijaya. Bahkan, saking geramnya, Sultan Hadiwijaya memimpin langsung pasukan Pajang untuk menyerbu Mataram. Perang pun pecah, namun pasukan Pajang dapat dipukul mundur oleh pasukan Sutawijaya meskipun mereka kalah jumlah.

Dalam perjalanan pulang ke Pajang, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan akhirnya wafat. Sebelum meninggal dunia, ia sempat berpesan kepada anak-anaknya agar jangan membenci Sutawijaya dan tetap menganggapnya sebagai sebagai kakak tertua. Sutawijaya sendiri turut hadir dalam upacara pemakaman ayah angkatnya itu. Sepeninggal Sultan Hadiwijaya, terjadi perpecahan di kalangan keluarga istana Kesultanan Pajang. Arya Pangiri, menantu Sultan Hadiwijaya, berhasil menduduki tahta Kesultanan Pajang pada tahun 1583 dan menyingkirkan Pangeran Benawa, putra Sultan Hadiwijaya, yang seharusnya lebih berhak menjadi penguasa Pajang. Pada tahun 1586, Pangeran Benawa menjalin kerjasama dengan Sutawijaya karena pemerintahan Arya Pangiri dinilai sangat merugikan rakyat Pajang. Perang pun terjadi, tahta Arya Pangiri berhasil direbut kembali oleh Pangeran Benawa yang dibantu oleh Sutawijaya. Pangeran Benawa sebenarnya menawarkan tahta Pajang kepada Sutawijaya. Namun, Sutawijaya menolak permintaan itu dan hanya meminta sejumlah pusaka Pajang untuk dirawat di Mataram.

Pangeran Benawa kemudian dinobatkan menjadi penguasa Kesultanan Pajang dengan menyandang gelar Prabuwijoyo (1586-1587). Pemerintahan Prabuwijoyo berakhir pada tahun 1587. Sebelum wafat, Prabuwijoyo sempat berpesan agar wilayah Kesultanan Pajang digabungkan dengan Mataram dan Sutawijaya diangkat sebagai rajanya. Sejak itulah, wilayah Pajang menjadi bagian dari kekuasaan Kesultanan Mataram (Islam). Sutawijaya pun ditabalkan menjadi penguasa Mataram dengan gelar Panembahan Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa yang bertahta pada tahun 1587 hingga 1601 M dengan pusat pemerintahannya di Kotagede. Sutawijaya tidak memakai gelar Sultan, melainkan Panembahan, untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa (Prabuwijoyo). Kelak, tahta wangsa Mataram diteruskan oleh Kasunanan Kartasura Hadiningrat yang kemudian pecah menjadi 4 kerajaan, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta, serta Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman yang berkedudukan di Yogyakarta.

Tentang Makam Kotagede

Sutawijaya alias Panembahan Senapati dimakamkan di pusat kerajaannya, yakni di Kotagede yang dulu menjadi ibukota Kesultanan Mataram Islam. Sebelum menjadi kompleks pemakaman, Kotagede merupakan sebuah kota yang ramai. Seorang peneliti Belanda, De Haen, yang pernah singgah ke pusat pemerintahan Kesultanan Mataram Islam itu pada tahun 1623, Kotagede adalah kota yang luas dengan jumlah penduduk yang cukup banyak. Tata kotanya sudah cukup tertata dengan jaringan jalan yang indah dan lebar serta punya banyak lumbung padi. De Haen juga menceritakan bahwa tinggi tembok atau benteng yang melingkupi Kotagede sekitar 24-30 kaki dengan lebar 4 kaki. Di sisi luar sepanjang benteng tersebut mengalir parit yang berfungsi sebagai salah satu perangkat pertahanan.

Puing-puing struktur benteng istana Kesultanan Mataram Islam di Kotagede masih dapat ditemui di beberapa bagian yang dulu mengelilingi Kotagede. Salah satu tempat yang masih menyisakan puing-puing benteng adalah di Dusun Dalem dan Kedaton. Kedua dusun ini terletak kira-kira di bagian tengah yang dahulu dikelilingi tembok keliling yang sering disebut cepuri. Tembok keliling (cepuri) ini tidak simetris, di bagian tenggaranya terlihat melengkung sehingga membentuk sudut tumpul yang oleh warga setempat kemudian disebut dengan nama Bokong Semar.

Sisa-sisa benteng juga masih dapat dilihat di antara kompleks Makam Hasta Rengga dan Kompleks Makam Kotagede serta Masjid Agung Kotagede yang oleh penduduk setempat dikenal dengan nama Benteng Raden Rangga. Benteng ini tampak hancur dari atas ke bawah dengan lebar lubang kira-kira selebar bahu orang dewasa. Menurut legenda, benteng ini hancur karena ditabrak oleh Raden Rangga, putra Panembahan Senapati. Benteng-benteng Kesultanan Mataram Islam yang ada di Kotagede diperkirakan didirikan pada sekitar tahun 1592-1593 M.  Kotagede pada masa jayanya juga dilengkapi dengan penyediaan taman istana yang berlokasi di Danalaya (terletak di sebelah selatan Kotagede), museum penyimpanan pusaka kerajaan (Prabayeksa), tempat perburuan binatang (Krapyak), masjid, makam, dan fasilitas-fasilitas umum lainnya.

Selain Panembahan Senapati, terdapat beberapa tokoh Kesultanan Mataram Islam yang juga dikebumikan di Kotagede. Salah satunya adalah Ki Ageng Pemanahan, ayahanda Panembahan Senapati, tokoh pendiri tanah perdikan Mataram yang merupakan pemberian dari Sultan Hadiwijaya (penguasa Kesultanan Pajang) sebelum Mataram menjadi kerajaan merdeka. Ada juga makam Panembahan Hanyakrawati (nama kecilnya Raden Mas Jolang), penerus Panembahan Senapati selaku penguasa Kesultanan Mataram Islam yang bertahta pada periode tahun 1601 hingga 1613 M. Setelah wafat, Panembahan Hanyakrawati diberi gelar Panembahan Sedo Krapyak, karena beliau meninggal dunia ketika sedang berburu di Hutan Krapyak yang terletak di sebelah barat Kotagede.

Kompleks Makam Kotagede juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi Kanjeng Ratu Retno Dumilah, istri kedua Panembahan Senapati yang merupakan putri dari Rangga Jemuna, Adipati Madiun. Beberapa tokoh Mataram lainnya yang dikebumikan di Kotagede antara lain Nyai Ageng Mataram dan Nyai Ageng Nis (istri Ki Ageng Pemanahan), Panembahan Joyoprono (penasehat Ki Ageng Pemanahan), Nyai Ageng Pati (istri Ki Ageng Penjawi, putra dari Ki Ageng Henis yang juga merupakan ayah dari Ki Ageng Pemanahan), Nyai Ageng Juru Mertani (istri Ki Juru Mertani, suaminya adalah patih pertama Kesultanan Mataram Islam sekaligus sepupu dari Ki Ageng Pemanahan), dan tokoh-tokoh Mataram lainnya. Total, ada lebih dari 700 makam yang ada di kompleks Makam Kotagede.

Di Kotagede ada juga makam Ki Ageng Mangir, menantu sekaligus musuh Panembahan Senapati karena dianggap membangkang kepada Mataram. Konon, kepala Ki Ageng Mangir dibenturkan ke singgasana Panembahan Senapati yang disebut “Watu Gilang”. Jenazah Ki Ageng Mangir kemudian diletakkan pada posisi yang cukup unik, sebagian ada di dalam benteng makam, namun sebagian lain berada di luarnya. Raga yang diletakkan terpisah itu sebagai tanda bahwa di satu sisi Ki Ageng Mangir adalah menantu Panembahan Senapati atau masih termasuk keluarga Mataram, namun di sisi lain, ia juga menjadi musuh Panembahan Senapati karena berani memberontak terhadap Mataram. Di dekat Watu Gilang, ada tiga buah bola yang terbuat dari batu dengan warna agak kekuning-kuningan, yang dikenal dengan nama “Watu Cantheng”. Sebagian kalangan yang menduga bahwa “Watu Cantheng” adalah semacam mainan anak-anak zaman dulu milik putra Panembahan Senapati, namun ada juga yang memperkirakan bahwa benda tersebut adalah peluru meriam kuno.

Kompleks makam Dinasti Mataram di Kotagede terletak di sebelah selatan Pasar Kotagede, dengan jarak sekitar 100 meter. Kota kuno Kotagede yang kini menjadi area pemakaman tokoh-tokoh Mataram itu ibarat penghubung tradisi pada era Hindu dan Buddha dengan masa Islam. Hasil akulturasi 2 budaya dari ajaran kepercayaan yang berbeda itu dapat dilihat dari berbagai peninggalan dan corak bangunan di kompleks pemakaman dan Masjid Agung Kotagede. Salah satunya adalah pintu gerbang untuk masuk ke kompleks Makam Kotagede yang berwujud Gapura Padaruksa. Model gapura seperti itu telah ada sejak masa Kerajaan Majapahit yang menganut ajaran Hindu dan Buddha. Gapura pertama mempunyai atap penutup sebagai penghubung kedua sisi bangunan pembatas. Di antara gapura pertama menuju gapura kedua, terdapat Bangsal Duda di bawah pohon beringin pohon beringin tua, yang bernama “Waringin Sepuh”, yang masih berdiri kokoh hingga kini. Konon, beringin keramat ini ditanam oleh Sunan Kalijaga sebelum Kotagede dibangun menjadi kota.

Bangunan kompleks Makam Kotogede dikelilingi oleh tembok yang cukup tinggi dan masih terlihat kokoh dengan tipikal bangunannya yang bercorak arsitektur khas Hindu. Setiap gapura yang ada di kompleks Makam Kotagede mempunyai pintu tebal yang terbuat dari kayu dan dihiasi dengan ornamen ukiran khas Jawa. Setiap hari selama 24 jam non-stop, area pemakaman ini dijaga oleh beberapa orang abdi dalem dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat secara bergantian. Sekarang, Kompleks makam Kotagede telah dibuka untuk umum sebagai tempat tujuan wisata sejarah dan budaya. Namun, ada aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi oleh para pengunjung yang datang ke tempat sakral ini.

Makam Kotagede dibuka untuk umum hanya pada hari-hari tertentu, yaitu Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat, dari jam 08.00 pagi hingga pukul 17.00 sore. Namun, jika pengunjung hanya ingin melihat bangunan-bangunan tradisional peninggalan Mataram dapat dilakukan setiap hari. Sebelum menuju kompleks makam, harus melalui 3 gapura terlebih dulu, dan pengunjung yang hendak masuk ke area makam diwajibkan pakaian adat Jawa yang telah disediakan di sana. Selain itu, para pengunjung dilarang membawa kamera dan memotret apapun di kompleks pemakaman dan juga tidak boleh mengenakan perhiasan emas. Aturan-aturan tersebut dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur Dinasti Mataram yang disemayamkan di tempat itu.

Warisan  Mataram di Kotagede

Masih banyak peninggalan berharga warisan dari Kesultanan Mataram Islam yang ada di kompleks Makam Kotagede sampai sekarang. Berbagai peninggalan yang menunjukkan kejayaan Kesultanan Mataram Islam di bidang ekonomi, sosial, dan pemerintahan, tersebut antara lain: Kedaton, Alun-alun, Kemasan, Belehan, Mandarakan, Bumen, Kebon Dalem, Pandean, Sareman, Sayangan, Jagalan, Singosaren, Samakan, dan lain sebagainya. Berbagai “warisan yang harus terus dilestarikan” atau toponim di situs Kotagede itu menjelaskan bahwa di masing-masing tempat tersebut pernah digunakan sesuai fungsinya pada masa itu.

Toponim Kedaton, misalnya, menunjukkan bahwa tempat itu pernah dipakai sebagai singgasana atau keraton. Kebon Dalem memberi penggambaran bahwa tempat itu pernah digunakan sebagai tempat kediaman raja dan para bangsawan tinggi kerajaan. Alun-alun menunjukkan bahwa tempat tersebut merupakan lokasi lapangan atau halaman kerajaan. Mandarakan menunjukkan bahwa tempat tersebut pernah menjadi tempat kediaman Tumenggung Mandaraka. Jayapranan memperlihatkan bahwa tempat itu pernah menjadi kediaman seorang bangsawan bernama Jayaprana, dan seterusnya.

Selain warisan berupa bekas bangunan keraton, benteng, makam, rumah tradisional, dan lain sebagainya, di Kotagede juga dapat dijumpai sebiuah masjid bersejarah. Masjid Agung Kotagede ini merupakan masjid tertua di Yogyakarta yang didirikan pada masa kejayaan Kesultanan Mataram Islam di bawah pimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645 M), atau pada sekitar tahun tahun 1640 M. Masjid bersejarah ini terletak tidak jauh dari "Waringin Sepuh" yang dikenal keramat itu. Di muka bangunan masjid, terdapat sebuah gapura yang berbentuk paduraksa di mana di depan gapura itu ada sebuah tembok berbentuk huruf L dengan dihiasi oleh pahatan beberapa gambar yang merupakan lambang kerajaan. Paduraksa dan simbol huruf L tersebut merupakan salah satu bentuk toleransi Sultan Agung terhadap warga Kesultanan Mataram Islam yang masih menganut agama Hindu maupun Buddha namun telah turut membantu pembangunan masjid ini.

Masjid Kotagede pernah direnovasi oleh keluarga Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X (1893-1939). Sebagai tanda renovasi, dibuatlah sebuah prasasti setinggi 3 meter. Bagian dasar prasasti yang berwarna hijau itu berbentuk bujur sangkar dan pada bagian puncaknya terdapat mahkota yang merupakan ikon Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Diletakkan juga sebuah jam di sisi selatan prasasti tersebut sebagai acuan waktu shalat 5 waktu. Bangunan inti Masjid Kotagede adalah bangunan Jawa berbentuk limasan di mana atapnya berbentuk limas dengan ruangan masjid yang dibagi 2, yakni ruangan inti dan serambi masjid. Masjid tua ini masih difungsikan dengan baik hingga sekarang. Selain digunakan untuk melaksanakan ibadah shalat, masyarakat setempat juga menggunakan masjid ini sebagai tempat dilaksanakannya berbagai macam kegiatan keagamaan. Di sekitar Masjid Agung Kotagede, terdapat rumah-rumah yang menjadi tempat tinggal para abdi dalem penjaga makam.

Dibaca : 5879 kali
« Kembali ke Makam

Share

Form Komentar

dewi windiyarti 09 Desember 2012 15:43

senang sekali dengan situs ini karena bisa belajar sejarah keraton surakarta dan yogyakarta, bukankah bangsa yang besar harus tahu sejarhnya,ijin berbagi terima kasih