English Version | Bahasa Indonesia

Sekala, Siger, Borobudur

22 September 2011 15:36



Lambang Paksi Buay Pernong, satu dari empat Kepaksian di Kerajaan Skala Brak.
Tiga Paksi lainnya adalah Kepaksian Bejalan Di Way, Belunguh, dan Nyerupa

Oleh: Henry Susanto*

Mungkinlah Sekala adalah Sriwijaya? Mungkinkah Siger replika Borobudur? Mungkinkah Siger mahkota Pramodya Wardani? Bagaimanakah kemungkinan sejarahnya?

----------

Kisah ini dimulai dari sejarah migrasi orang-orang dari negeri Hindustan (India) menyebar ke Nusantara yang terjadi ketika meletus perang besar Hindu-Buddha di daerah tersebut pada sekitar 100 tahun SM. Perang itu diabadikan dalam cerita sastra India yang sangat terkenal, yaitu Maha Bharata. Kekuatan Hindu yang berhasil menguasai kekuatan politik dan militer di India saat itu berhasil mendesak kekuatan Buddha hingga menyingkir ke ujung selatan India. Perburuan orang-orang Buddha ke India Selatan terus berlanjut dilakukan pasukan Hindu, maka terjadilah eksodus besar-besaran orang-orang Buddha ke luar India mengarungi samudera yang sekarang ini dikenal sebagai Samudera Hindia.

Tempat pendaratan pelarian orang-orang Buddha dari India tersebut, terutama adalah pesisir selatan Pulau Jawa Dwipa (Jawa) dan pesisir barat Pulau Swarna Dwipa (Sumatera), yaitu pada tempat-tempat yang mempunyai garis pantai landai. Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa Hindu sebagai religi memang lebih dulu ada daripada Buddha, tetapi pengaruh kebudayaan India yang pertama kali masuk ke Nusantara adalah Buddha.

Daerah di Pulau Jawa yang dipergunakan sebagai tempat pendaratan pelarian orang-orang Buddha dari India adalah daerah Jawa Barat dan Yogyakarta. Enclave (daerah kantong) Buddha mulai bermunculan di Jawa. Pada masa itu Pulau Jawa terkenal sebagai Pulau Api yang berbahaya karena banyak terdapat gunung berapi di dalamnya, sehingga banyak dihindari orang dari daerah luar untuk tidak menyinggahi maupun mendatanginya ketika berlayar. Dampaknya, keberadaan orang-orang Buddha di tanah Jawa nyaris tanpa gangguan apa pun dari luar Jawa.

Daerah-daerah pendaratan di Pulau Sumatera, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Lampung. Para pelarian di Pulau Sumatera ini setelah mampu menciptakan keamanan bagi mereka dengan terlebih dahulu meniadakan (menaklukkan) gangguan-gangguan keamanan dari orang-orang asli Sumatera (orang Tumi), membentuk enclave-enclave bercorak Buddhis di pesisir barat Pulau Sumatera.

‘Enclave’ Lampung

Kemungkinan besar enclave Buddhis pertama di Lampung berada di daerah Sekala (banyak terdapat pohon sekala, yaitu seperti lengkuas tetapi besar-besar). Para migran dari India yang mendarat di pesisir barat Lampung kemudian bergerak ke pedalaman pegunungan Lampung bagian barat hingga sampailah mereka di daerah Sekala dalam rangka mencari daerah tempat tinggal yang datar, subur, dan aman terhindar dari kemungkinan kejaran orang-orang Hindu dari India.

Berawal dari daerah Sekala inilah selanjutnya para migran Buddhis dari India tersebut kemudian menjelajah dan menyebar ke daerah-daerah yang ada di Lampung. Tidaklah mengherankan di masa sekarang, apabila orang membicarakan tentang asal-usul orang Lampung selalu mengacu ke arah daerah Sekala, dan di Sekala inilah ditemukan situs Batu Brak (batu-batuan yang lebar dan besar bekas permukiman).

Sebutan kata Lampung itu sendiri berasal dari kata selopun yang maksudnya adalah selo atau duduk bersila, dan puun yang artinya dimuliakan. Daerah Sekala dan sekitarnya yang kemudian menjadi tempat mukim menetap bagi orang-orang Buddhis migran dari India dipimpin oleh pendeta-pendeta Buddhis yang dimuliakan yang mempunyai kebiasaan duduk meditasi bersila (ciri khas posisi duduk atau mudra Buddha). Oleh sebab itu, daerah bagian selatan dari Pulau Swarna Dwipa (Sumatera) kemudian dikenal dengan nama Selopun atau tempat orang mulia yang duduk bersila. Kata Selopun lama-kelamaan sering diucapkan orang pada masa itu secara cepat dengan ucapan "Lo-pun" untuk menunjuk nama daerah kekuasaan Kerajaan Sekala di bagian selatan dari Pulau Swarna Dwipa (Sumatera). Pada masa sekarang ini, daerah bagian selatan dari Pulau Swarna Dwipa (Sumatera) dikenal dengan nama Lampung.

Pada abad ke-6 seorang musafir Tionghoa, I-Tsing pernah singgah di Selopun (Lampung). Musafir I-Tsing ini menyebut Selopun dengan nama Tola P'ohwang. Sebutan Tola P'ohwang diambilnya dari kata Selopun yang diucapkan secara per-ejaan suku kata hingga menjadi So-la-po-un. Berhubung I-Tsing adalah orang China yang ucapan di lidahnya tidak dapat menyebutkan kata "Se" maka diejanya dengan bunyi "To". Kata Selapon diejanya menjadi To-la- P'o-hwang (maksudnya Se-Lo-Po-Un).

Musafir I-Tsing masuk dan singgah ke Selopun berlayar dari China melalui Laut Jawa, dan berlabuh pada sebuah kota pemukiman berupa kota bandar perdagangan yang berada di muara sungai besar di pantai sebelah timur dari Selopun. I-Tsing menyebut daerah tempat itu sebagai To-la- P'o-hwang (tentu maksudnya adalah Selopun atau Lampung sekarang). Daerah tempat mendarat dan sungai besar tempat berlabuh kapal yang membawanya dari negeri China hingga sekarang dikenal dengan nama To-la- P'o-hwang (Tulangbawang).

Aksara Lampung yaitu aksara Ka-ga-nga mempunyai huruf induk berjumlah 20 yang berasal dari huruf Pallawa dari daerah di India Selatan. Aksara Ka-ga-nga ini, di kemudian hari setelah Lampung mendapat pengaruh agama dan budaya Islam, dikenal dengan sebutan Had Lampung. Penulisan fonetik-nya menjadi berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup sebagaimana penulisan fonetik dalam Huruf Arab, dengan mempergunakan tanda vokal menyerupai fathah di baris atas dan tanda menyerupai kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dommah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, yang masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.

Dapatlah dikatakan bahwa masyarakat Lampung sebelum adanya pengaruh agama dan budaya Islam adalah mempergunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Masyarakat Lampung setelah masuknya pengaruh agama dan budaya Islam mulai mempergunakan aksara Kaganga yang berupa perpaduan huruf Pallawa dan huruf Arab, dan berbahasa Lampung yang merupakan perpaduan dari bahasa Sanskerta, Arab, dan Melayu.

Prahara Pikatan

Kondisi Pulau Jawa yang subur karena terdapat banyak gunung berapi dan cenderung dihindari orang dari luar, merupakan tempat yang strategis untuk pelarian dan mengembangkan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, maupun politik bagi orang-orang Buddha pelarian dari India. Migrasi pelarian orang-orang Buddha dari India ke Pulau Jawa makin intensif pada 100 tahun SM, ketika India dipimpin Raja Harsya (Hindu) dengan ketenarannya dalam sejarah India sebagai Beludru Berlumur Darah karena menerapkan hukum bakar hidup-hidup pada para pengikut maupun pendeta Buddha yang tertangkap.

Sejalan dengan semakin berkembangnya kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan politik di Pulau Jawa, pada abad ke 3 Masehi munculah kerajaan bercorak Buddhis pertama di Jawa, yaitu Kerajaan Mataram Kuno yang didirikan oleh Sanaha sebagai pendiri Dinasti Sanjaya di tanah Jawa. Pada masa tersebut, bertepatan dengan berakhirnya peperangan antara Hindu dan Buddha di India, masyarakat Hindu dan Buddha mulai dapat hidup tenang berdampingan di India. Hubungan persahabatan dan perdagangan antara India dan Mataram Kuno mulai terjalin. Hal tersebut juga berdampak pada masuk dan berkembangnya juga masyarakat dan kebudayaan Hindu dari India di Mataram Kuno (Jawa), yang hidup damai berdampingan dengan masyarakat maupun budaya Buddha di bawah pemerintahan Dinasti Sanjaya.

Samaratungga sebagai raja ke-7 dari Kerajaan Mataram Kuno (Dinasti Sanjaya) mempunyai dua orang anak, yang pertama seorang putri bernama Pramodya Wardani, sedangkan yang kedua seorang putra yang bernama Rakai Pikatan. Ketika beranjak dewasa, dikabarkan bahwa Rakai Pikatan mempunyai banyak guru Hindu dan akhirnya menjadi pemeluk Hindu. Sedangkan kakak Rakai Pikatan, yaitu Pramodya Wardani adalah pemeluk Buddhis sebagaimana ayahnya.

Pramodya Wardani dipersunting seorang putra pembesar enclave Buddhis dari daerah Sekala di Lampung, yaitu Balaputera Dewa. Sebagai hadiah perkawinan kepada anaknya (Pramodya Wardani) dan menantunya (Balaputera Dewa) sekaligus untuk menunjukkan kejayaan Buddha di Tanah Jawa, Samaratungga membangunkan Candi Borobudur.

Pada masa Samaratungga lengser keprabon, yang seharusnya menjadi raja pengganti adalah putra laki-laki dari Samaratungga, yaitu Rakai Pikatan. Namun, mengingat Rakai Pikatan sudah menjadi penganut Hindu, tidaklah mungkin untuk diangkat menjadi raja pada kerajaan yang bercorak Buddhis. Oleh sebab itu, diberikanlah takhta kerajaan kepada Pramodya Wardani untuk memerintah sebagai ratu di Mataram Kuno.

Belum lama pemerintahan Ratu Pramodya Wardani berjalan, meletuslah pemberontakan Rakai Pikatan yang didukung oleh para pendeta-pendeta Hindu dari dalam maupun luar kerajaan. Pasukan kerajaan Pramodya Wardani dengan dibantu pasukan yang dibawa suaminya (Balaputera Dewa) dari daerah asalnya mencoba membantu memadamkan pemberontakan Rakai Pikatan.

Keikutsertaan pasukan dari Balaputera Dewa dalam membela takhta Pramodya Wardani justru menyulut kecurigaan Rakai Pikatan dan sebagian besar pembesar istana akan adanya usaha perebutan takhta Kerajaan Mataram Kuno oleh tangan bukan keturunan Dinasti Sanjaya. Para pembesar istana (Buddhis) yang awalnya menopang kekuatan Pramodya Wardani menjadi berbalik bergabung dengan Rakai Pikatan (Hindu) memerangi Pramodya Wardani. Tak pelak, gabungan pasukan Pramodya Wardani dan pasukan Balaputera Dewa menjadi kewalahan, dan akhirnya terpaksa harus menelan kekalahan serta harus menyingkir keluar dari istana.

Kekalahan Pramodya Wardani dan Balaputera Dewa menempatkan Rakai Pikatan bartakhta sebagai raja di Mataram kuno. Kerajaan Jawa yang dulunya bercorak Buddhis berubah menjadi bercorak Hindu. Rakai Panangkaran kemudian juga membangun Candi Prambanan (Hindu) sebagai tandingan Candi Borobudur (Buddha) yang pernah dibangunkan oleh ayahnya (Samaratungga) sebagai hadiah perkawinan untuk Pramudya Wardani dan Balaputera Dewa.

Pada masyarakat Jawa, terdapat cerita rakyat tentang asal mula Candi Prambanan, yaitu dikisahkan bahwa seorang ksatria sakti dari luar istana yang bernama Bandung Bondowoso berminat meminang Putri Roro Jonggrang yang merupakan putri seorang raja Jawa. Pinangan itu diterima Roro Jongrang, tapi sang raja minta syarat bahwa Bandung Bondowoso harus dapat membangun 1.000 candi dalam waktu satu malam sebagai maskawinnya.

Berbekal kesaktiannya, Bandung Bondowoso mencoba menyelesaikan pembuatan 1.000 candi dalam waktu satu malam. Namun, manakala baru selesai membangun 999 candi, dan tinggal satu candi lagi yang harus dibangun, sang raja menyuruh pembantu-pembantunya untuk menggagalkan usaha Bandung Bondowoso. Maka gagallah Bandung Bondowoso membangun 1.000 candi. Kisah Bandung Bondowoso tersebut merupakan kiasan kegagalan Balaputera Dewa dalam membela mempertahankan takhta kerajaan istrinya (Pramodya Wardani) di Mataram Kuno melawan pemberontakan Rakai Pikatan.

Kerajaan Sekala

Kegagalan memadamkan pemberontakan Rakai Pikatan telah membawa Balaputera Dewa dan istrinya (Pramodya Wardani) berikut pasukan yang tersisa pulang kembali ke Sekala di Lampung. Atas dukungan keluarga besar Balaputera Dewa yang berada di Sekala, Balaputera Dewa mendirikan kursi singasana (pepadun) kerajaannya sendiri yang bercorak Buddhis di pesisir barat Lampung dengan lambang-lambang kebesarannya berupa songsong (payung) kuning, burung srigunting, kijang kencana, dan teratai. Balaputera Dewa kemudian bergelar syailendra (satria gunung), maka dianggap sebagai pendiri Wangsa (Dinasti) Syailendra. Istana pusat kerajaannya berada di daerah Sekala.

Pepadun adalah kursi singgasana raja yang dibuat dari kayu pohon khusus yang bernama pohon belasa kepampang atau nangka bercabang karena pohonnya memiliki dua cabang besar, yang satunya nangka dan yang satunya lagi adalah sebukau, yaitu sejenis kayu yang bergetah. Keistimewaan belasa kepampang ini bila terkena cabang kayu sebukau akan dapat menimbulkan penyakit koreng atau penyakit kulit lainnya. Tapi jika terkena getah cabang nangka penyakit tersebut dapat disembuhkan.

Pepadun adalah singgasana yang hanya berhak diduduki oleh raja serta keturunannya. Ada dua makna di dalam mengartikan kata pepadun, yaitu:

Pertama, dimaknakan sebagai pepadun yang maksudnya untuk memadukan pengesahan atau pengakuan untuk mentahbiskan bahwa yang duduk di atasnya adalah raja. Kedua, dimaknakan sebagai pepadun yang berarti tempat mengadukan suatu hal ihwal. Maka jelaslah bahwa mereka yang duduk di atasnya adalah tempat orang mengadukan suatu hal atau yang berhak memberikan keputusan.

Kerajaan Sekala kemudian berkembang dengan pesat sebagai kerajaan bercorak Buddhis yang mampu meluaskan wilayah kekuasaannya hingga ke luar Lampung. Kerajaan Sekala inilah yang kemudian dikenal dalam sumber berita China (catatan musafir China yang bernama Ma Huan) sebagai chi-li-fo-che, yang maksudnya adalah Se-ka-la, yang dilafalkan dalam pengucapan logat China. Orang sekarang mengenalnya sebagai Sriwijaya (awal sebenarnya adalah Sekala). Masih berdasar sumber berita China yang sama, dikatakan bahwa chi-li-fo-che merupakan Kerajaan po-lim-pang, maksudnya adalah kerajaan yang ada pada orang Lampung. Kata po dalam bahasa China artinya adalah orang, dan kata lim-pang adalah logat pengucapan orang-orang China dalam penyebutan kata Lampung.

Berdasarkan informasi dalam Prasasti Talang Tuo yang di dalamnya termuat simbol Kerajaan Sekala (Sriwijaya) berasal dari tahun 684 Masehi, diketahui bahwa Dapunta Hyang Sri Jaya Naga membangun Taman Sriksetra untuk kebahagiaan makhluk agar: terbangunnya Buddhis, Tri Ratna, terhentinya kelahiran kembali, dan tercapainya nirwana". Isi prasasti ini menunjukkan bahwa Kerajaan Sekala adalah bercorak Buddha. Taman Sriksetra yang dimaksud kemungkinan besar adalah dibangun secara besar-besaran di Bukit Siguntang (masuk wilayah Palembang sekarang) sebagai wahana peribadatan Buddhis pengganti Borobudur dan sekaligus menunjukkan kejayaan Sekala (Sriwijaya).

Sebagai tanda penghormatan kepada Pramodya Wardani, maka oleh Balaputera Dewa didudukkanlah sang istri (Pramodya Wardani) menjadi Ratu di Puncak (permaisuri Kerajaan Sekala), serta dibuatkan dan dipakaikan siger (mahkota) untuknya yang berbentuk mirip miniatur Candi Borobudur sebagaimana yang bernah dibuatkan oleh Samaratungga sebagai hadiah perkawinan untuk mereka semasa masih di Mataram Kuno. Perpaduan antara pepadun dan siger memunculkan sistem kekerabatan di Kerajaan Sekala yang bersifat patrilineal primogenitur, yaitu bahwa pewarisan takhta berlaku sangat ketat pada jalur keturunan laki-laki pertama dari Balaputera Dewa (selaku penguasa pepadun atau singasana Kerajaan Sekala) dan Pramodya Wardani (selaku pemakai sah siger atau mahkota Kerajaan Sekala).

Sumber: http://www.lampungpost.com

Sumber Foto: http://buaypernong.blogspot.com

______________

* Henry Susanto, Dosen Pendidikan Sejarah FKIP Unila


Share

Form Komentar

ANJANI 10 Maret 2012 00:14

Agak membingungkan. Tertulis pada abad 3[berarti sekitar th 200an] berdiri kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Buddhis, sementara dalam sejarah yang lain disebut Mataram Hindu dan berdiri th 600an setelah kerajaan Kalingga th 500an.Yang bener mana? Kalo yang berkaitan dengan legenda Roro Jonggrang setahu saya bukan Candi Prambanan, tapi Candi Sewu yang letaknya 1 km sebelah utara candi Prambanan.


« Index