English Version | Bahasa Indonesia

Trowulan, Wadah Implementatif Keilmuan Masa Kini

22 Agustus 2011 08:57




Oleh: Inu dan Danang

Ketika sumber daya budaya hanya dimaknai dari perspektif keilmuan maka semuanya akan menjadi wacana tak berujung setelah sampai ke masyarakat. Fenomena eksklusif keilmuan seperti itu telah berlangsung lama. Terutama dalam hal pengelolaan sumber daya budaya. Lalu, apakah yang akan terjadi jika suatu sumber daya budaya dijelajahi hingga tuntas oleh berbagai disiplin ilmu? Bukan untuk kepentingan keilmuan yang teoritis namun untuk kepentingan implementatif yang praktis.

Pengelolaan sebuah situs Arkeologi sebagai bagian dari tinggalan sumber daya budaya memang tidak mudah. Semakin banyak pihak yang “bermain” di dalamnya, maka urusan pun menjadi semakin panjang, bahkan terkadang menjadi kusut. Setidaknya itulah gambaran Trowulan saat ini. Situs yang diduga sebagai bekas ibukota Kerajaan Majapahit tersebut sekarang dalam kondisi carut marut.

Masyarakat setempat yang memanfaatkan tanah Trowulan untuk membuat bata selalu disudutkan dengan alasan merusak situs. Sementara itu, pemerintah dengan itikad baik malah melakukan pengrusakan atas nama ilmu pengetahuan. Sebenarnya dimana benang merah semua permasalahan tersebut?

Majapahit menurut catatan sejarah adalah sebuah kerajaan yang sohor pada masanya. Kejayaannya tidak dapat dilepaskan dari sektor-sektor yang menjadi penopang kehidupan kerajaan. Sektor tersebut adalah pertanian dan maritim.

Gambaran mengenai kehidupan pertanian masa Majapahit tersebut dapat diketahui dari berbagai sumber. Prasasti, relief, karya sastra Jawa Kuno, dan peninggalan arkeologis lainnya baik yang bersifat artefaktual maupun non artefaktual yang dapat memberikan gambaran mengenai hal tersebut.

Temuan prasasti yang dapat memberikan gambaran mengenai kehidupan pertanian masa Majapahit antara lain Prasasti Kwak I 879 M, prasasti Ngabean V (prasasti Ra Tawun) 883 M, prasasti Kamalagi 831 M, prasasti Watukura I 902 M, prasasti Harinjing 921 M, prasasti Bakalan (prasasti Wulig) 934 M, prasasti Kamalagyan 1039 M, prasasti Kandangan 1350 M, dan prasasti Trailokyapuri 1486 M. Prasasti-prasasti tersebut memuat data mengenai jenis-jenis pertanian, pejabat-pejabat yang mengurusi pertanian, pajak pertanian, pengairan, usaha-usaha yang dilakukan oleh penguasa untuk memajukan sektor pertanian serta gambaran mengenai proses bertani padi dari mulai pengolahan tanah, menyebar benih, menanam, menuai, dan mengolah hasil panenannya. Dari data prasasti tersebut sudah dapat dirasakan kompleksitas kehidupan pertanian pada masa itu.

Selain prasasti, kehidupan pertanian masa Majapahit dapat juga dilacak dari karya sastra dan relief candi. Sumber karya sastra jawa kuno yang menyinggung tentang hal tersebut antara lain Kakawin Ramayana, Kitab Tantu Panggelaran, Kitab Arjunawiwaha, Kitab Sutasoma dan Kitab Pararaton. Relief candi yang dapat membantu merekonstruksi kondisi pertanian masa itu antara lain relief yang ada di Candi Rimbi dan Candi Gambar Wetan di Jawa Timur.

Kondisi fisik Jawa Timur merupakan hutan tropis musiman yang mempunyai curah hujan lebih sedikit dibanding daerah lain di Pulau Jawa. Sehingga jika musim kemarau akan sangat kering dan akan hijau kembali setelah musim hujan. Untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan seperti itu maka masyarakat Majapahit harus menyusun manajemen perairan yang baik. Secara logika mereka harus membangun bendungan, kanal-kanal, serta saluran irigasi untuk mengatasi masalah musim tersebut.

Trowulan sendiri diduga memang dirancang untuk menjadi sebuah kota kanal. Hasil penelitian foto udara pada era 1980-an menyebutkan bahwa Trowulan dikelilingi oleh kanal-kanal yang saling berpotongan. Kanal-kanal tersebut difungsikan sebagai sarana transportasi, sarana irigasi, dan sarana pertahanan.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa masyarakat Majapahit pada masa lampau telah mengenal sistem pertanian yang maju dengan teknik bercocok tanam yang cukup tinggi. Berkembangnya petanian pada masyarakat di masa Majapahit dilandasi oleh berbagai kemungkinan yang mendukung. Kondisi geografis yang yang merupakan dataran rendah yang cukup luas, ditunjang dengan aliran-aliran sungai serta keberadaan gunung berapi merupakan faktor yang berperan penting bagi pertanian. Keberadaan faktor utama tersebut ditunjang lagi dengan peran penguasa yang ada pada masa itu yang ikut campur tangan dalam mengontrol sektor pertanian. Membuat sistem pertanian berkembang dengan sangat baik.

Jika kita melompat mundur ke dalam babakan sebelum tumbuh dan berkembangnya kerajaan Hindu Budha di bumi Jawa Timur, akan diketahui bahwa hal bertani bukanlah hal asing disini. Terpaut ribuan tahun yang lalu, saat manusia prasejarah memilih daerah Jawa Timur sekarang sebagai tempat huniannya. Sangat mungkin jika kemahiran masyarakat Majapahit dalam bertani bukan sesuatu yang instan. Tapi mengalami proses evolusi yang sangat panjang.

Kemungkinan besar aktivitas bercocok tanam yang tertua di Jawa berasal dari wilayah Jawa Timur. Hal tersebut dibuktikan dari tinggalan arkeologis pada beberapa situs gua dan ceruk di wilayah Jawa Timur. Kemudian dikenallah istilah budaya Sampung yang dicirikan dengan temuan sudip-sudip dari tulang. Diduga masyarakat pendukung budaya Sampung ini adalah masyarakat yang sudah cukup mapan. Mereka tidak lagi mengandalkan perburuan untuk kelangsungan hidup, tetapi diduga sudah lebih banyak memanfaatkan sumber pangan dan tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka.

Dari sektor pertanian kemudian terciptalah sebuah organisasi yang lebih teratur. Hingga kedatangan orang-orang India dalam penyebaran agama Hindu-Buddha. Organisasi sosial di Trowulan semakin kompleks lagi. Bumi Trowulan kemudian ditempati oleh kerajaan sohor seperti Majapahit. Tanah kembali diolah untuk menghasilkan beras yang melimpah. Kelebihan beras tersebut kemudian menjadi bahan ekspor yang dipertukarkan dengan komoditas dari pulau lain. Dan tidak mengherankan bila Majapahit menjadi kerajaan maritim yang disegani juga berawal dari kokohnya kehidupan pertanian di dalam kerajaan.

Trowulan kemudian mengalami fase ditinggalkan dan dihuni kembali. Berkali-kali hingga Majapahit runtuh dan menyisakan misteri di dalam buminya hingga saat ini. Kemudian muncullah masa dimana kolonialisme menjadi tuan atas tanah nusantara, termasuk Trowulan. Hanya hutan jati yang dijumpai disini. Lewat novel Pramoedya Ananta Tour, “Anak Semua Bangsa”, dapat diketahui bahwa Trowulan yang berada di Mojokerto menjadi lahan tebu pemasok bahan dasar gula pabrik-pabrik gula di Surabaya.

Ketika masa kolonial itu pun telah lewat dan menyisakan lingkungan seperti sekarang ini. Dengan banyak linggan di tengah-tengah sawah dan kebun penduduk. Kita ditarik kembali untuk merefleksikan kehidupan berabad-abad silam. Bahwa manusia jawa pertama membudidayakan tanaman pertama kali di tempat ini, bahwa beras-beras komoditas ekspor Majapahit dilahirkan dari bumi kering Trowulan saat ini, bahwa kejayaan industri gula Hindia Belanda dipengaruhi oleh seberapa besar kiriman tebu dari Mojokerto. Lalu bagaimana dengan Trowulan saat ini? Bahwa Trowulan menjadi salah satu produsen bata terbaik di Jawa Timur?!

Adalah sebuah kenyataan jika pertanian bukan sesuatu yang menarik lagi sekarang. Sektor pertanian belum sepenuhnya mampu menopang kebutuhan ekonomi masyarakat Trowulan. Masyarakat membutuhkan kegiatan sampingan selama menunggu musim panen. Lagipula kegiatan pertanian terkendala oleh faktor musim.

Entah kapan usaha pembuatan bata ini bermula di Trowulan. Data dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menyebutkan bahwa situs Trowulan telah mengalami kerusakan sejak 1990. Saat itu setidaknya ada 5.000 keluarga yang menyulap tanah Trowulan menjadi bata demi kelangsungan hidup. Bagaimana kondisi Trowulan setelah 20 tahun sejak 1990? Dapat terbayang berapa banyak tanah Trowulan yang telah menjadi dinding pabrik-pabrik serta gedung perkantoran dan perbelanjaan di Surabaya dan sekitarnya.

Selama menggali tanah untuk membuat bata tidak jarang artefak masa Majapahit ditemukan. Tumpukan bata kuno, arca, perhiasan emas, dan lain sebagainya. Dahulu, bara kuno yang ditemukan digiling dan dijadikan bahan bubuk semen merah. Sekarang bata-bata tersebut dikumpulkan untuk kemudian dijadikan bahan untuk membuat agar rumah dan bahkan dibiarkan begitu saja.

Kegiatan tersebut jelas bertentangan dengan upaya pelestarian situs Trowulan. Kegiatan masyarakat Trowulan yang menggali tanah untuk dijadikan bata terbukti telah merusak situs Trowulan dengan sangat cepat. Pembuatan bata yang terhitung lebih menguntungkan dibanding dengan bertani membuat kegiatan tersebut sangat diminati. Kemudian semuanya dikembalikan kepada sesuatu yang mahapenting, yaitu urusan “perut”.

Urusan “perut” membuat pertumbuhan industri bata semakin tidak terkendali begitu juga dengan perizinannya. Tidak jauh berbeda dengan perdagangan benda purbakala yang adem ayem saja pergerakannya karena tidak ada tindakan tegas dari pihak terkait. Di dalam sehari saja para pembuat bata mampu menggali tanah minimal 2x2 meter dengan kedalaman sekitar 1-1,5 meter. Ratusan bata tersingkap dari penggalian “liar” tersebut. Bahkan beberapa benda purbakala ditemukan saat menggali. Ironisnya ketika niat baik masyarakat untuk mengembalikan temuan purbakala tersebut terkadang tidak ditindaklanjuti oleh pihak terkait. Bahkan masyarakat tidak mendapatkan imbalan yang sepantasnya. Fenomena tersebut sedikitnya banyak menjadi faktor keberadaan perdagangan gelap benda cagar budaya di Trowulan dan mungkin di tempat lain di Indonesia. Ketika semuanya berujung pada urusan “perut”.

Lalu dimana peran pemerintah dan akademisi selama ini? Setelah berpuluh tahun berlalu Trowulan masih tetap seperti ini. Malah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan dari sudut pandang Arkeologi. Apakah pernah terfikir untuk melakukan penelitian bersama, lintas ilmu, untuk mencari solusi terbaik dari semua permasalahan yang semakin njelimet ini? Arkeologi, antropologi, lingkungan, biologi, pertanian, peternakan, kimia, fisika, sosiologi, ekonomi jalan bersama melakukan penelitian yang bersifat implementatif. Sementara itu pemerintah secara rutin melakukan pendampingan kepada masyarakat agar lebih memahami makna tinggalan budaya yang ada di wilayah mereka.

Selama ini masyarakat hanya kaum marginal yang selalu tersingkir oleh kepentingan keilmuan. Penelitian yang dilakukan di Trowulan sebagian besar tidak membawa dampak langsung kepada masyarakat. Padahal cermin kejayaan Majapahit dapat saja ditelaah ulang dan diimplementasikan dengan bentuk yang baru.

Jika kehidupan agraris Majapahit didukung oleh sarana perairan seperti bendungan dan kanal, bagaimana dengan kehidupan agraris masyarakat Trowulan masa kini? Yang masyarakat butuhkan untuk pertanian dengan lingkungan seperti Trowulan adalah manajemen pengairan yang baik. Dengan demikan, mereka dapat bertani sepanjang tahun dengan hasil yang melimpah.

Pada dasarnya kehidupan masyarakat Trowulan berdasarkan pada kegiatan pertanian. Namun kendala musim menjadi tantangan yang sangat berat. Belum lagi godaan untuk menjadi pembuat bata dengan penghasilan yang lebih besar menyebabkan mereka lebih memilih menjadi pembuat bata. Mungkin masyarakat akan memilih formula yang lebih baik untuk mendongkrak perekonomian mereka selain dari membuat bata, jika memang formula tersebut tersedia.

Sudah saatnya untuk berbenah bagi semua pihak yang berkepentingan di Trowulan. Pemerintah, akademisi, masyarakat bahu membahu menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan. Tuding- menuding atau salah-menyalahkan tidak akan mengubah apa pun yang telah hilang. Penelitian multidisipliner yang berjalan sinergis kemungkinan besar dapat menjadi alternatif penyelamatan situs Trowulan yang tidak mengenyampingkan masyarakat setempat.

Sumber: http://www.arupadhatu.or.id/

Sumber foto: http://id.wikipedia.org/


Share

Form Komentar

satriyan 07 Januari 2012 19:28

setuju dengan pemikiran anda. izin dijadikan acuan buat nulis blog terima kasih


« Index