English Version | Bahasa Indonesia

KBPH Prabu Suryodilogo Disiapkan Jadi Paku Alam X

01 Februari 2012 15:12



Sasana Tinggalan Dalem 76 KGPAA Paku Alam IX

Yogyakarta, Kerajaannusantara.com – Bertempat di Bangsal Sewatama, Puro Pakualaman, Yogyakarta, pada Selasa (31/1) diadakan perhelatan untuk memperingati Tinggalan Dalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam IX yang 76 tahun Jawa. Hadir sebagai pemimpin Puro Pakualaman, Paku Alam IX memberi hormat pada pasukan prajurit Lombok Abang dan Prajurit Drahonder serta para tamu.

Tinggalan Dalem ini merupakan peringatan ulang tahun Paku Alam IX yang ke-76 dalam hitungan penanggalan Jawa. Beberapa sesaji seperti sepasang tebu, 76 apem, dan burung dalam sangkar disiapkan sebagai syarat upacara. Upacara ini juga diisi dengan pemberian pangkat baru bagi para sentono dan abdi dalem Puro Pakualaman.

Dalam upacara tersebut, Paku Alam IX yang berbusana taqwa warna hitam mendengarkan nama-nama sentono dan abdi dalem yang diberi pangkat baru. Terdapat 79 orang yang diberi pangkat baru, termasuk BPH Suryodilogo yang kini bergelar Kanjeng Bendoro Pangeran Hario (KBPH) Prabu Suryodilogo. Putra sulung Paku Alam IX ini disiapkan menjadi Paku Alam X di kemudian hari.

Sebelum diberi pangkat baru, para sentono dan abdi dalem duduk bersila beralaskan karpet berwarna merah. Nama-nama para sentono dan abdi dalem kemudian dibacakan sebagai salah satu prosesi pemberian pangkat, kemudian dibawa keluar dan dikawal oleh prajurit Lombok Abang dan Drahonder. Sambil membawa sesaji, rombongan ini dikawal menuju ke Masjid Puro Pakualaman yang terletak di luar Puro. Sedangkan apem yang dibawa abdi dalem jadi rebutan masyarakat.

Abdi dalem dan prajurit Puro Pakualam membawa sesaji

Seusai upacara, para tamu undangan memberikan ucapan selamat kepada Paku Alam IX dan para sentono yang diberi pangkat baru. Prosesi tersebut kemudian disusul dengan pagelaran Tari Golek Ayun-ayun yang dibawakan empat wanita.

Sehari sebelum berlangsung Tinggalan Dalem KGPAA Paku Alam IX, pihak keluarga membuat apem yang merupakan lambang pangapura (permintaan maaf). Tradisi pembuatan apem tersebut sebenarnya telah dilakukan oleh Sunan Kalijaga ketika berdakwah pada akhir abad ke-15 sampai awal abad ke-16. Dalam pelaksanaan dakwah, beliau senantiasa membuat berbagai simbol keislaman yang dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat awam. Salah satunya adalah kue apem yang berasal dari kata affum yang berarti ampunan, demikian dijelaskan oleh KPH Indro Kusumo, Pangageng Kebudayaan dan Pariwisata Puro Pakualaman.

Dalam kesempatan ini, Drs. Yahya Ombara, Komisaris PT KAI yang sekaligus juga seorang sentono, mendapat pangkat baru sebagai Bupati Anom dan bergelar KMT Brotosarono. Sebagai sentono yang 32 tahun mengabdi pada Puro Pakualaman dan bekerja di PT KAI, Yahya Ombara merasa ada beban moral. “Saya harus menjaga nilai-nilai budaya Puro Pakualam serta prinsip-prinsip penetapan,” kata Yahya di hadapan para wartawan.

Menurut Yahya, nama baru Brotosarono mengandung arti yang luas. “Saya harus menjembatani semua pihak demi kepentingan Puro Pakualam,” katanya. *** Teks dan Foto: Teguh R Asmara


Share

Form Komentar


« Index