English Version | Bahasa Indonesia

Gladi Resik Upacara Bekakak Berlangsung Meriah

13 Januari 2012 16:09




Yogyakarta, KerajaanNusantara.Com -- Gladi resik upacara adat Bekakak di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta berlangsung meriah. Meskipun hanya persiapan untuk acara puncak yang digelar esok harinya, gladi resik pada Kamis (12/1) malam itu tetap menyedot perhatian masyarakat. Banyak penonton memadati sepanjang jalan menuju Balai Desa Ambarketawang untuk melihat jalannya acara secara langsung.

Upacara adat Bekakak dilangsungkan sekali dalam setahun, yakni pada setiap Jum'at pekan kedua di bulan Sapar (Safar). Oleh karena itu, tradisi ini juga sering disebut dengan istilah Saparan. Asal mula Upacara Bekakak berasal dari cerita rakyat yang masih terkait dengan sejarah awal berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Tradisi ini dilakukan untuk menghormati abdi dalem setia Sri Sultan Hamengkubuwono I, pasangan Ki Wirosuto dan Nyi Wirosuto, yang bertugas menjaga serta merawat Pesanggrahan Ambarketawang. Pesanggrahan yang terletak di sebelah barat Kota Yogyakarta ini pernah ditinggali sementara oleh keluarga kerajaan selama masa pembangunan Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Gladi resik malam itu memang sudah menjadi ritual rutin sebelum digelarnya upacara puncak pada keesokan harinya. Inti dari gladi resik ini adalah mengarak sesaji atau persembahan berupa dua pasang boneka pengantin yang dibuat dari hasil bumi menuju Balai Desa Ambarketawang.

Sesaji berupa pasangan pengantin inilah yang akan kembali diarak pada keesokan harinya dari Balai Desa Ambarketawang menuju Pesanggrahan Gunung Gamping untuk “disembelih”. Hasil “sembelihan” ini kemudian dibagi-bagikan kepada pengunjung lantaran dipercaya bisa mendatangkan berkah dan keselamatan.

Jalannya Acara Gladi Resik

Dari pantauan www.KerajaanNusantara.com, sejak pukul 19.00 WIB masyarakat sudah berbondong-bondong menuju Balai Desa Ambarketawang. Sebagian penonton rela berdesakan di tepi jalan untuk menunggu rombongan arak-arakan, namun banyak pula yang langsung datang pusat dilangsungkan acara gladi resik ini, yaitu Balai Desa Amberketawang.

Di Balai Desa Ambarketawang telah terlihat kesibukan dari panitia yang akan menyambut kedatangan arak-arakan. Sejumlah perlengkapan upacara, seperti nasi tumpeng, sesaji, dan sebagainya sudah disiapkan. Di Balai Desa ini, para pejabat teras Kecamatan Gamping dan Desa Ambarketawang juga bersiap-siap untuk menerima rombongan arak-arakan.

Di belakang ruang utama Balai Desa Ambarketawang telah disiapkan pula arena yang digunakan untuk pergelaran wayang kulit. Para sinden, penabuh gamelan, dan perangkat acara lainnya pun sudah mulai beraksi memainkan rangkaian praacara wayang kulit sembari menunggu kedatangan arak-arakan.

Sekitar pukul 21.00 WIB, barisan awal arak-arakan mulai terlihat. Rombongan arak-arakan ini terdiri dari pasukan prajurit (antara lain perwakilan dari Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan laskar dari Ambarketawang sendiri), iring-iringan dua pasang boneka pengantin, berbagai kesenian rakyat seperti jathilan dan reog, serta sepasang ogoh-ogoh atau boneka raksasa berwujud genderuwo yang berada di barisan terakhir.

Laskar prajurit di Upacara Bekakak

Sesampainya di balai desa, rombongan ini disambut oleh para pejabat teras dan tokoh masyarakat. Setelah itu diadakan doa bersama agar acara puncak di keesokan hari dapat berjalan dengan lancar. Sepanjang malam itu, boneka pengantin dan sepasang ogoh-ogoh disemayamkan di Balai Desa untuk diarak kembali pada acara puncak nanti.

Setelah semua rangkaian acara selesai, para penonton pun membubarkan diri dengan tertib. Ada yang langsung pulang ke rumah masing-masing, namun banyak pula yang tetap bertahan di balai desa untuk menyaksikan pergelaran wayang kulit semalam suntuk. (Iswara N Raditya/Brt/01/01-2012)

Foto: Dokumentasi BKPBM


Share

Form Komentar


« Index