English Version | Bahasa Indonesia

Raja Insana Kunjungi BKPBM

19 Nopember 2011 10:19




Yogyakarta, KerajaanNusantara.Com -- Atupas Maubes Tuan Alexander Un Usfinit, pemimpin Kerajaan Insana di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada (18/11) melakukan kunjungan ke Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM). Kedatangan Raja Insana ini disambut oleh Pemangku BKPBM Mahyudin Al Mudra SH., MM., Konsultan BKPBM Dr. Aris Arif Mundayat, dan Yuhastina Sinaro SST. Par., MA.

Kedatangan  Atupas Maubes Tuan Alexander ke BKPBM dalam rangka silaturahmi sekaligus menjalin kerjasama budaya dan sejarah . Hal ini dilakukan mengingat BKPBM merupakan lembaga yang serius dalam menggali, mengumpulkan, mempublikasikan, dan melestarikan kebudayaan Melayu, termasuk di dalamnya sejarah kerajaan-kerajaan di seluruh dunia.

Dalam silaturahmi kali ini, Atupas Maubes Tuan Alexander memperkenalkan tentang budaya di wilayah Kerajaan Insana. Kekayaan budaya tersebut telah dibukukan oleh  Atupas Maubes Tuan Alexander dalam buku yang berjudul Maubes Insana: Salah Satu Masyarakat di Timor dengan Struktur Adat yang Unik. Sebagai salah satu wujud apresiasi terhadap kinerja BKPBM, Atupas Maubes Tuan Alexander akan mengirimkan buku yang telah dicetak dalam bahasa Indonesia dan Inggris tersebut. 

Sebelum melakukan kunjungan ke BKPBM, Atupas Maubes Tuan Alexander telah melakukan kunjungan ke kerabat Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, KGPH Hadiwinoto. Kunjungan tersebut dalam rangka transfer ilmu menyoal pengelolaan tanah keraton yang telah berhasil diterapkan di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Atupas Maubes Tuan Alexander bermaksud menimba ilmu dan menerapkannya untuk mengelola tanah keraton di Kerajaan Insana.

Atupas Maubes Tuan Alexander Un Usfinit adalah Raja ke-17 dari Kerajaan Insana. Beliau diangkat menjadi Raja Insana pada tahun 1999. Penobatan Atupas Maubes Tuan Alexander Un Usfinit terjadi pada tahun 2007.  

Sejarah berdirinya Kerajaan Insana masih belum ditemukan secara pasti. Hingga kini, bukti-bukti yang berhasil dilacak seputar sejarah Kerajaan Insana merupakan catatan-catatan dan perjanjian dari beberapa pihak, misalnya pada 1760, Von Pluskow menandatangani suatu perjanjian dengan Insana. Dikumentos Sar Zedas (1722-1725) menyebutkan tentang daerah Ainan yang memilki pelabuhan bernama Mena. Kata “Mena” ini dikuatkan oleh beberapa penulis sebelumnya yang menyebutkan tentang Ratu atau Raja Mena. Kata “Mena” ini dapat dipastikan merupakan nama pelabuhan Insana sebagaimana disebutkan oleh Apollonius Scote dalam Historia de San Dominggo (1640).

Catatan Antonio Pigafetta yang disadur oleh Le Roux, menyebutkan bahwa pada 1522 di bagian selatan Pulau Timor ada empat raja, yaitu Oibich, Lichsana, Suai, dan Kabanaza. Nama “Lichsana” kemungkinan besar adalah Insana karena kerajaan ini diketahui memiliki pelabuhan di pantai utara, yaitu Mena.

Bukti tertulis selanjutnya adalah perjanjian yang dilakukan oleh Kerajaan Insana yang diwakili oleh Raja Insana, Malafu dengan Pemerintah Hindia Belanda melalui Reidel, Residen Timor. Perjanjian ditandatangani kedua belah pihak pada 22 September 1879. Kini naskah perjanjian ini masih disimpan di Sonaf Maubes, Istana Kerajaan Insana.

Tunggul Tauladan/05/11-2011

Sumber foto: http://openlibrary.org


Share

Form Komentar


« Index