English Version | Bahasa Indonesia

Proyek Migas Ancam Keberadaan Situs Kerajaan Malawapati

09 Nopember 2011 10:54



Situs Kayangan Api

Keberadaan Blok Cepu sebagai tambang minyak bumi dan gas (migas) kini dinilai cukup mengancam keberadaan sejumlah situs purbakala. Hal ini dikarenakan beberapa situs berada di kawasan ring I yang setiap saat bisa tergusur apabila Blok Cepu melakukan proyek migas. Situs tersebut antara lain: situs Mlawatan di Desa Wotangare, Kecamatan Kalitidu dan situs Kayangan Api di Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngasem.

Jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Bojonegoro melalui Kepala Disbudpar Bojonegoro, Suismoyo yang didamping Kabid Pelestarian dan Pengembangan Budaya, Saptatik pada Selasa (8/11) mengharapkan keberadaan situs-situs tersebut dapat dipertahankan. Hal ini dianggap penting karena nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalam situs-situs tersebut sangat layak untuk tetap dilestarikan.

Dilihat dari sisi sejarah, situs Mlawatan sebagai peninggalan Kerajaan Malawapati yang terkenal dengan rajanya, Prabu Anglingdarma, memiliki kaitan yang erat dengan daerah Bojonegoro. Hal ini dibuktikan dengan kesamaan nama sejumlah tempat di Bojonegoro dengan beberapa nama yang tertulis dalam Serat Anglingdarma. Tempat-tempat tersebut antara lain: Dusun Budak, Tanah Tibong (tempat istri Anglingdharma membakar diri), Kedungandu, dan nama sebutan Demang Klingsir (orang yang pekerjaannya menangkap dan pemelihara burung).

Pelestarian terhadap situs-situs tersebut sebenarnya bisa dilakukan karena sebelumnya Blok Cepu telah berhasil mempertahankan situs kubur Kalang di Desa Kawengan, Kecamatan Kedewan. Keberadaan situs ini hingga hari ini masih baik dan terpelihara, padahal lokasi situs ini berada di kawasan yang terkenal sebagai penghasil minyak sejak zaman Belanda di bawah Pertamina Cepu, Jawa Tengah. Jika keberadaan situs kubur Kalang berhasil dipertahankan, maka Jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Bojonegoro mengharapkan hal yang sama berlaku juga untuk situs Mlawatan dan Kayangan Api, meskipun termasuk ke dalam kawasan ring I Blok Cepu.

Tanda-tanda ke arah penyelamatan terhadap situs-situs tersebut tampaknya bisa dilakukan. Keyakinan ini didasari oleh beberapa hal. Pertama, hingga saat ini belum ada tanah yang memuat keberadaan situs-situs tersebut telah dibebaskan untuk proyek Blok Cepu. Kedua, sejak enam bulan yang lalu, jajaran operator migas Blok Cepu yaitu Mobil Cepu Limited (MCL), telah mengetahui bahwa keberadaan situs-situs tersebut telah masuk ke dalam kawasan Blok Cepu. Hal ini dibuktikan dengan pendataan yang dilakukan oleh petugas MCL terkait keberadaan situs yang termasuk ke dalam kawasan ring I. Jika pendataan telah dilakukan dan pembebasan tanah hingga hari ini belum terbukti, maka peluang ancaman berupa penggusuran terhadap benda-benda bersejarah tersebut diharapkan bisa semakin diperkecil.

Tunggul Tauladan/03/11-2011

Sumber foto: http://oase.kompas.com


Share

Form Komentar


« Index