English Version | Bahasa Indonesia

Minim Anggaran, Benda Cagar Budaya Rawan Hilang

08 Nopember 2011 08:53



Candi Sanggrahan

Beberapa situs purbakala seperti candi dan ratusan benda cagar budaya di Kabupaten Tulungagung rawan hilang. Upaya untuk mengamankan, menyelamatkan, merawat, dan melestarikan benda-benda tersebut terkendala oleh anggaran yang minim, demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayan Tulungagung, Heru Dwi Cahyono pada (2/11).

Selain anggaran yang minim, kendala lainnya adalah tidak ada tempat untuk menyimpan benda-beda tersebut. Museum yang terdapat di Kabupaten Tulungagung dinilai sudah tidak mampu lagi menampung benda-benda tersebut. Alhasil, benda-benda yang telah berhasil ditemukan hanya dibiarkan berada di alam terbuka, dengan tanpa perawatan, sehingga sangat rawan rusak bahkan hilang.

Benda-benda yang rawan hilang tersebut meliputi ratusan benda cagar budaya, puluhan candi, benda-benda purbakala dari zaman prasejarah yang terdapat di daerah Wajak, Kecamatan Boyolangu, serta di Kecamatan Campurdarat. Kasus terbaru, yaitu penemuan belasan arca dan sebuah altar yang diduga sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit di daerah wisata Goa Pasir yang berlokasi di kaki Bukit Njunjung, Desa Njunjung, Kecamatan Sumbergempol. Sejak ditemukan pada 2010 silam, hingga kini benda-benda tersebut hanya dibiarkan saja berada di tempat terbuka dengan tanpa perawatan di lokasi sekitar Goa Pasir.

Penemuan benda yang diduga peninggalan Kerajaan Majapahit ini sebenarnya telah mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan maupun BP3 Trowulan dengan melakukan penelitian dan identifikasi. Namun pada kenyataannya, hingga hari ini benda-benda tersebut tampak masih tidak terurus hingga tidak menutup kemungkinan untuk rusak bahkan hilang.

Kasus penjarahan benda cagar budaya sebenarnya telah beberapa kali terjadi. Kasus penjarahan tersebut pernah menimpa benda cagar budaya di kompleks Candi Sanggrahan dan Gayatri yang terletak di Kecamatan Boyolangu. Kenyataan inilah yang seharusnya diperhatikan mengingat kekayaan masa lampau tersebut tidak ternilai harganya.

Salah satu solusi yang harus dilakukan adalah pemerintah menaikkan anggaran untuk perawatan dan penyelamatan benda-benda cagar budaya yang telah berhasil ditemukan. Cara lain adalah membuat museum yang lebih besar di Tulungagung untuk menampung benda-benda tersebut agar tidak terus-menerus berada di alam terbuka sehingga sangat rawan rusak bahkan hilang.  

Tunggul Tauladan/02/11-2011

Sumber Foto: http://id.wikipedia.org/wiki/


Share

Form Komentar


« Index