English Version | Bahasa Indonesia

Kisah Candi Gedhong Putri

26 Oktober 2011 08:03



Candi Gedhong Putri

Candi Gedhong Putri terletak di Dusun Gedhong Putri, Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Candi ini diyakini sebagai cikal bakal Pemerintahan Kabupaten Lumajang sekarang.

Prasasti Mulan Malurung menyebutkan bahwa di kaki Gunung Semeru terdapat sebuah pemerintahan yang dipimpin oleh seorang putri bernama Nararya Kirana dari Kerajaan Singosari. Daerah tersebut dikenal dengan nama Lamajang.

Lamajang merupakan nama kuno untuk menyebut Kabupaten Lumajang. Di daerah Lamajang inilah Candi Gedhong Putri ditemukan oleh seorang pencari kayu pada tahun 1897. Penelitian yang dilakukan kemudian terhadap temuan puing-puing candi menyebutkan, bahwa pusat pemerintahan Lumajang terletak di Candi Gedhong Putri. Hingga hari ini, Pemerintah Kabupaten Lumajang meyakini bahwa cikal bakal Lumajang berawal dari Candi Gedhong Putri.

Secara fisik, berdasarkan catatan sejarah yang ditulis oleh Pemerintah Hindia Belanda kala menguasai Lumajang, kondisi Candi Gedhong Putri terdiri dari 3 bagian atau tingkat. Selain itu, menurut perkiraan terdapat pintu atau jendela rumah kuno di sekitar Candi Gedhong Putri. Perkiraan tersebut merujuk pada penemuan 7 lempeng batu andesit berbentuk persegi panjang. Batu andesit ini memiliki lubang dan diperkirakan sebagai tempat untuk meletakkan engsel yang terbuat dari kayu jati atau batu. Merunut dari temuan tersebut, maka kemungkinan besar kawasan Candi Gedhong Putri merupakan pemukiman kuno yang kini disebut Situs Gedhong Putri seluas 160 M².

Para arkeolog juga berusaha untuk mengungkap penyebab keruntuhan Candi Gedhong Putri. Salah satu indikator yang dipergunakan untuk mengungkap keruntuhan Candi Gedhong Putri adalah penemuan batu vulkanik di sekitar Candi Gedhong Putri. Menurut catatan seorang arkeolog, Goenadi Nitihaminoto, temuan batu vulkanik yang mempunyai ukuran beragam tersebut berasal dari letusan Gunung Semeru pada tahun 1600-an, 1885, 1895, dan 1941. Letusan-letusan tersebut diyakini sebagai penyebab utama kehancuran Candi Gedhong Putri yang kini hanya menyisakan tumpukan batu-bata saja.

Meskipun hanya berupa tumpukan batu-bata, namun berbagai kisah mistis masih sangat kental menyelimuti seputar Candi Gedhong Putri. Salah satu kepercayaan sebagian dari masyarakat setempat adalah tentang batu-bata yang kini masih banyak ditemukan di sekitar Candi Gedhong Putri. Sebagian masyarakat percaya bahwa jika seseorang mengambil batu-bata tersebut dan dipakai untuk membuat tungku, maka masakan yang diolah dengan menggunakan tungku tersebut sulit untuk matang. Bahkan, jika matang sekalipun, rasanya tidak enak dan cepat menjadi basi.

Sebagaian masyarakat juga mempercayai bahwa di bawah tumpukan batu-bata Candi Gedhong Putri terdapat lubang yang menuju ke laut selatan. Selain itu, di sebelah selatan candi, berjarak sekitar 50 meter, akan ditemukan kubangan air yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai tempat pemandian putri raja pada masa dahulu. Air yang keluar dari kubangan ini juga dipercaya sebagai obat awet muda.

Di sebelah utara Candi Gedhong Putri juga terdapat Altar Naga Lingga-Yoni. Lubang tempat lingga berukuran 17 cm, ukuran cerat 24x17 cm, dengan ketebalan 17 cm, serta lubang saluran air dengan lebar 2,5 cm. Sedangkan Yoni memiliki tinggi 64 cm, lebar 63 cm, dengan diameter 42 cm.

Menurut penuturan masyarakat sekitar, di tempat tersebut dulu pernah terdapat patung Dewa Syiwa. Namun, patung ini dihancurkan oleh seorang kyai karena kecenderungan masyarakat setempat untuk menjadikan patung tersebut sebagai sesembahan dengan cara memberikan bunga dan uang.

Tunggul Tauladan/15/10-2011

Sumber Foto: http://www.beritajatim.com


Share

Form Komentar

arifianto 22 Nopember 2011 00:40

Sip.. sip ..sip.... buka dan kupas sejarah yang ada biar kami tau tentang kebenaran cerita yang ada sejak jaman dulu. biar kami bangga jadi anak indonesia yang kaya dengan budaya dan sejarah yang ada. terima kasih nenek moyang. Jasamu akan selalu bersinar.


« Index