English Version | Bahasa Indonesia

Candi Lumbung Direlokasi karena Ancaman Lahar Dingin Gunung Merapi

01 Oktober 2011 10:05




Sebuah candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno terpaksa direlokasi akibat erupsi Gunung Merapi pada November 2010 silam. Letusan yang disusul dengan banjir lahar dingin hingga memenuhi sungai Pabelan dan menggerus bibir sungai mengakibatkan Candi Lumbung terancam keberadaannya. Bahkan akibat gerusan tersebut, Candi Lumbung hanya berjarak sekitar 1 meter dari tebing sungai yang memiliki ketinggian 20 meter.

Berbagai upaya untuk menyelamatkan benda bersejarah ini telah dilakukan. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah akhirnya memutuskan untuk merelokasi Candi Lumbung sebagai jalan keluar terbaik sebelum candi ini ambruk oleh gerusan lahar dingin Gunung Merapi dan hanyut tertelan arus sungai Pabelan. Proses relokasi secara manual telah disiapkan sejak 23 Agustus silam.

Candi Lumbung akan direlokasi dari tempat semula yang berlokasi di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah ke tempat yang lebih aman di Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Kedua tempat ini terpaut jarak sekitar 500 meter.

Proses relokasi candi yang dilakukan secara manual telah dimulai sejak Senin, (12/09). Sebanyak 25 petugas merelokasi satu per satu batu candi, mulai bagian atas, kemudian mengikat dengan tambang, meluncurkan di papan kayu, menandai batu candi dengan nomor registrasi untuk memudahkan penyusunan kembali, dan memasukkannya ke dalam truk untuk dibawa ke lokasi relokasi.

Relokasi yang dilakukan terhadap candi berukuran 8 x 8,5 meter ini hanya bersifat sementara. Menurut salah seorang tim relokasi, cara ini dilakukan hanya untuk jangka waktu lima tahun. Setelah ancaman lahar dingin Gunung Merapi dianggap telah usai dan lokasi candi telah diperkuat sehingga diperkirakan aman dari ancaman lahar dingin, Candi Lumbung akan dikembalikan ke tempatnya semula.

Nama Candi Lumbung diberikan karena candi ini memiliki bentuk menyerupai lumbung padi. Bentuk tersebut cukup unik karena dinilai berbeda dari kebanyakan candi peninggalam Mataram Kuno lainnya. Keberadaan candi yang diperkirakan dibangun pada abad ke IX ini juga tidak bisa dipisahkan dari Candi Asu dan Candi Pendem yang berlokasi di seberang sungai Pabelan karena pada dasarnya ketiga candi tersebut merupakan candi tunggal.

Tunggul Tauladan/07/09-2011 

Sumber Foto: http://foto.detik.com/


Share

Form Komentar


« Index