English Version | Bahasa Indonesia

Penelusuran Jejak Sejarah Kerajaan di Bengkulu

22 September 2011 15:32



Ilustrasi: Konservasi naskah kuno

Suhardi, peneliti dan kurator Museum Bengkulu kini sedang menelusuri jejak sejarah kerajaan-kerajaan di Bengkulu. Penelitian ini berawal dari “keanehan” yang terjadi sehubungan dengan tidak ditemukannya catatan sejarah kerajaan-kerajaan di Bengkulu pada naskah kuno Ka ga nga.

Menurut Suhardi, Naskah Ka ga nga yang berada di Bengkulu adalah naskah tulisan asli masyarakat Melayu Bengkulu. Naskah tersebut ditulis dengan perpaduan antara aksara Semit Kuno, Proto Melayu, dan Pallawa (kemungkinan besar dari Naskah Melayu berupa Huruf Jawi).

Aksara Ka ga nga telah dikenal sebagai salah satu bukti tertulis tentang peradaban masa lalu. Persebaran aksara Ka ga nga antara lain berada di wilayah Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, hingga Aceh.

Di Bengkulu, Aksara Ka ga nga berkerabat dekat dengan Aksara Rejang. Hal ini merujuk pada penyebutan istilah Ka ga nga yang diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), seorang antropolog dari Universitas of Hull di Inggris dalam bukunya yang berjudul Folk literature of South Sumatra. Redjang Ka-Ga-Nga texts. Selain Aksara Rejang, Ka ga nga juga berkerabat dengan Serat Ulu dan Serat Batak  

Naskah Ka Ga Nga diperkirakan telah ada sejak abad ke XII pada masa Hindu-Budha. Naskah ini memuat berbagai hal seputar kondisi masyarakat dan kebudayaan rakyat Bengkulu, seperti pengobatan, kejadian alam, hukum adat, tata cara bertani, pantun, hingga jampi atau mantra.

Meskipun Museum Bengkulu berhasil menterjemahkan beberapa teks Ka Ga Nga, namun tak satupun yang menyebutkan tentang sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di Bengkulu. Padahal jika dilihat dari fakta sejarah, kerajaan-kerajaan di Bengkulu baru muncul menjelang abad ke XVII, sehingga menurut logika, sedikit-banyak, disebutkan dalam Naskah Ka Ga Nga. Kerajaan-kerajaan yang tercatat pernah ada di Bengkulu tersebut antara lain: Kerajaan Sungai Lemau, Sungai Itam, Anak Sungai, Selebar, dan Empat Petulai.

“Keanehan” tersebut memantik analisa para peneliti yang menyimpulkan beberapa hipotesa. Pertama, masyarakat di Bengkulu pada umumnya adalah kumpulan komunitas atau komunal sehingga tidak terikat dengan kerajaan tertentu. Hal ini dipertegas bahwa biasanya kerajaan-kerajaan di Sumatera tidak memiliki kewenangan untuk mengikat – sebagaimana di Jawa --, sehingga keberadaan kerajaan tersebut tidak berpengaruh secara langsung terhadap keberadaan dan keberlangsungan sebuah komunal dan secara legitimasi, masyarakat kurang mengakui keberadaan kerajaan tersebut.

Kedua, sehubungan dengan kurang diakuinya keberadaan sebuah kerajaan oleh masyarakat di sekitarnya, maka kontrol sosial masyarakat terhadap raja menjadi sangat tinggi. Hal ini berimbas pada kedudukan raja yang diasumsikan bukan sebagai sesuatu yang agung (sebagaimana kedudukan seorang pemimpin dalam sistem demokrasi yang bisa dikritisi sewaktu-waktu). Keadaan tersebut menjadikan kerajaan tersebut dinilai kurang penting untuk disebutkan dalam naskah, dibandingkan dengan penulisan tentang pengobatan, pantun, kejadian alam, hingga mantra.

Kedua hipotesa tersebut masih merupakan asumsi awal. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk melacak jejak kerajaan-kerajaan di Bengkulu sekaligus mencari jawaban alasan tidak dituliskannya sejarah kerajaan-kerajaan dalam Naskah Ka Ga Nga.

(Tunggul Tauladan/04/09-2011)

Sumber Foto: http://foto.vivanews.com/


Share

Form Komentar


« Index