English Version | Bahasa Indonesia

Nekara dari Tiongkok di Era Kerajaan Putabangun

18 Mei 2011 14:53



Gong Nekara

Kerajaan Putabangun pernah memiliki sebuah nekara raksasa yang berasal dari Tiongkok. Nekara yang terbuat dari perunggu ini dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Gong Nekara atau Gong Besar. Dalam istilah bahasa Inggris nekara ini disebut bronzen drum.

Nekara setinggi 96 cm dan berdiameter 252 cm ini dinyatakan sebagai nekara terbesar di dunia. Kebesaran nekara di Selayar ini hanya tertandingi dengan nekara serupa yang ada di Dongson-Vietnam. Nekara di Selayar ini dinyatakan sebagai peninggalan zaman perunggu dan sangat penting untuk penelitian sejarah Asia Tenggara dan Nusantara karena kapasitas Selayar sebagai lalu lintas perdagangan Asia dan Eropa tempo dulu.

Menurut sejarah, gong nekara di Selayar ini pernah memainkan tiga fungsi utama di Kerajaan Putabangun, yaitu fungsi keagamaan, politik, dan sosial budaya. Nekara ini menjadi tanda kebesaran (gaukang) Kerajaan Putabangun. Sebuah kerajaan yang berlokasi di daerah yang kini kita kenal dengan nama Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Gong nekara yang ditemukan oleh seorang penduduk Kerajaan Putabangun bernama Sabura pada tahun 1686 Masehi ini kemudian dianggap sebagai benda pusaka hingga tahun 1760 M. Ketika Kerajaan Putabangun runtuh dan digantikan oleh Kerajaan Bontobangun, nekara ini dipindahkan ke ibukota Kerajaan Bontobangun di Matalalang. Hingga hari ini, nekara tersebut tetap berada di Matalalang, tepatnya di Kampung Matalalang, Desa Bontobangun, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Gong berbentuk mirip kendang terbalik ini memiliki keunikan dan nilai artistik cukup tinggi yang diindikasikan melalui hiasan berbagai ornamen flora dan fauna di sepanjang badan nekara. Pada bagian atas nekara terdapat lubang-lubang kecil yang konon pernah dipakai sebagai tempat meletakkan permata dan batu mulia. Nekara juga berhiaskan empat arca kodok dengan panjang 20 cm di bagian tepinya, namun kini tinggal 3 arca. Selain itu juga dilengkapi dengan empat buah “telinga” sebagai pegangan. Pada bidang pukul nekara terdapat hiasan bintang berjumlah 16. Sedangkan pada bagian bawah nekara terdapat hiasan pola kotak, geometris, spiral, ornamen pohon, dan gajah.  

(Tunggul Tauladan/11/05-2011)

Sumber foto: http://www.92pulau.com/


Share

Form Komentar


« Index