English Version | Bahasa Indonesia

Senjata Pusaka

Pedang Sultan Kutai Kartanegara

Salah satu senjata pusaka milik Kesultanan Kutai Kartanegara adalah Pedang Sultan Kutai. Sebagaimana yang terjadi pada Mahkota Sultan Kutai, Pedang Sultan Kutai ini juga tidak bisa disaksikan di Kesultanan Kutai Kartanegara karena kini pedang ini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta.

Pedang pusaka Sultan Kutai Kartanegara ini terbuat dari emas. Berbagai hiasan tampak jelas terlihat, baik pada gagang maupun sarung pedang. Pada gagang pedang terlihat hiasan berbentuk harimau dalam posisi siap menerkam. Harimau merupakan binatang yang  terdapat pada lambang Kesultanan Kutai Kartanegara. Sedangkan pada bagian ujung sarung pedang berhiaskan seekor buaya.   

Keris Bukit Kang

Sejarah Keris Bukit Kang sarat akan fakta dan mitos. Fakta tersebut terlihat dari munculnya nama tokoh penting seputar penemuan keris, yaitu Aji Putri Karang Melenu yang merupakan permaisuri dari Raja Kutai Kartanegara pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti. Sedangkan segi mitos terlihat dari proses penemuan keris.

Menurut legenda, Keris Bukit Kang diyakini sebagai tusuk konde Aji Putri Karang Melenu. Pada awalnya, keris ini belum dipergunakan sebagai tusuk konde karena keris ini berada dalam satu tempat dengan Aji Putri Karang Melenu yang ditemukan berada dalam sebuah gong bersama dengan Keris Bukit Kang dan sebutir telur ayam.

Gong yang membawa Aji Putri Karang Melenu berada di atas sebuah balai bambu kuning. Balai tersebut berada di atas tanduk seekor binatang yang muncul di perairan Kutai. Binatang tersebut menyerupai bentuk lembu yang memakai mahkota tetapi bukan raja, mempunyai belalai dan gading tetapi bukan gajah, mempunyai sisik tetapi bukan naga, mempunyai sayap tetapi bukan burung, mempunyai taji tetapi bukan ayam, mukanya menyerupai raksasa tetapi bukan raksasa, dan mempunyai tanduk tetapi bukan sapi. Binatang ini kemudian disebut Lembu Suana. Pada perkembangannya, Lembu Suana kemudian dipakai sebagai simbol (maskot) Kabupaten Kutai Kartanegara. 

Meriam Aji Entong

Meriam pusaka bernama Aji Entong ini merupakan meriam buatan VOC (Vereenigde Oost indische Compagnie). Pada masanya, Meriam Aji Entong ditempatkan di Terantang, Kecamatan Anggana, di daerah muara sungai Mahakam. Meriam ini berfungsi sebagai pertahanan untuk menghalau musuh yang datang melalui Selat Makassar.  

Meriam Sapu Jagat dan Meriam Gentar Bumi

Meriam Sapu Jagat dan Meriam Gemtar Bumi merupakan dua buah meriam yang dianggap memiliki kesaktian. Kedua meriam ini digunakan oleh Aji Pangeran Sinom Panji Mendapa ing Martadipura (1605–1635 M) ketika terjadi perang antara Kerajaan Kutai dengan Kerajaan Kutai Kartanegara. Di akhir perang, Kerajaan Kutai berhasil dikalahkan. Kedua meriam ini kini disimpan sebagai pusaka peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Meriam Sri Gunung

Meriam Sri Gunung merupakan salah satu senjata pusaka yang dimiliki oleh Kesultanan Kutai Kartanegara sebagai alat perang untuk menghalau serbuan kaum kolonialis Inggris dan Belanda. Meriam ini dipergunakan oleh Awang Long gelar Pangeran Senopati untuk menembak armada Inggris dan Belanda yang menyerang ke Tenggarong dalam perang pada tahun 1844.

Perang terjadi ketika Kesultanan Kutai Kartanegara diperintah oleh Sultan Aji Muhammad Salehudin (1782–1845 M). Pada awalnya perang ini terjadi antara pasukan dari Kesultanan Kutai Kartanegara yang dipimpin oleh Awang Long selaku Panglima Pasukan Sepangan dengan armada Inggris yang dipimpin oleh James Erskine Murray. Perang pertama ini dimenangkan oleh pasukan Kesultanan Kutai Kartanegara pimpinan Awang Long, sedangkan James Erskine Murray tewas.

Pada akhir perang, pasukan Awang Long yang kala itu sedang mengejar armada Inggris ternyata salah sasaran ketika menyerang sebuah kapal dagang dari Belgia yang sedang terdampar di Muara Badak. Penumpang kapal banyak yang terbunuh, muatan kapal dirampas, dan kapal dibakar oleh pasukan Awang Long. Beberapa awak kapal yang selamat melarikan diri ke laut lepas dan melapor kepada Gubernemen Hindia Belanda yang berkedudukan di Makassar.

Gubernemen Hindia Belanda yang berkedudukan di Makassar kemudian mengirimkan armada perang untuk menyerang Kesultanan Kutai Kartanegara. Armada ini dipimpin oleh Letnan I Laut bernama T. Hooft. Perang besar antara armada Belanda dan pasukan Awang Long tak terhindarkan. Di akhir perang, Belanda berhasil mengalahkan pasukan dari Kesultanan Kutai Kartanegara. Sedangkan Awang Long gugur setelah tertimpa reruntuhan benteng yang dihantam peluru meriam Belanda. Jazad anak bungsu Mangkubumi Kesultanan Kutai Kartanegara, Ni Raden Pati Perbangsa dari isterinya Ni Dayang Manta ini dimakamkan di kampung “Panji“ atau “Teluk Menangis“, tak jauh dari pusat kota Tenggarong.

Tombak Kerajaan Majapahit

Kesultanan Kutai Kartanegara memiliki beberapa tombak yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Tombak-tombak tersebut kini disimpan di Museum Mulawaman, Jalan Diponegoro, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Tombak dari Kerajaan Majapahit yang dimiliki oleh Kesultanan Kutai Kartanegara menunjukkan adanya hubungan di antara kedua kerajaan tersebut. Salah satu hubungan tersebut dijelaskan dalam buku Salasilah Kutai yang menuliskan bahwa ketika Maharaja Sultan yang memerintah di Kerajaan Kutai Kartanegara antara tahun 1370–1420 M melakukan kunjungan bersama dengan Maharaja Sakti ke Kerajaan Majapahit untuk belajar tentang adat istiadat dan tatacara pemerintahan (Ramli Nawawi et.al., 1992/1993:139).

Setelah kunjungan, Maharaja Sultan menjalin hubungan yang lebih erat dengan Kerajaan Majapahit. Hubungan tersebut bersifat saling mempengaruhi pada beberapa bidang, antara lain pada bidang pemerintahan, budaya, dan agama, yaitu agama Hindu menjadi agama negara di Kerajaan Kutai Kartanegara sebagaimana yang terjadi pada Kerajaan Majapahit.

Dibaca : 6729 kali
« Kembali ke Koleksi

Share

Form Komentar

farida 07 September 2012 23:09

trims dapat menambah wawasan kami

ida 07 September 2012 23:12

trims dapat menambah wawasan kami