English Version | Bahasa Indonesia

Seni Musik

Tingkilan

Merupakan musik tradisional dari Kutai Kartanegara. Tingkilan lazim dimainkan pada acara-acara seperti pernikahan, pascapanen, Maulud Nabi Muhammad SAW, Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, Idul Fitri, Idul Adha, Nuzulul Qur'an, Tahun Baru Islam (Hijriah), dan upacara adat yang bersifat sakral seperti Erau.

Tingkilan terdiri dari ensamble, yaitu gambus, ketipung, kendang, dan biola. Secara spesifik keterangan dari alat alat-alat musik dalam Tingkilan sebagai berikut:

1.      Gambus

Gambus merupakan alat musik petik seperti mandolin. Alat musik ini berasal dari Timur Tengah. Pengaruh dari Timur Tengah dibawa oleh orang-orang Melayu yang banyak bermukim di pesisir Kalimantan Timur. Kebanyakan orang-orang Melayu ini beragama Islam.

Gambus yang digunakan dalam Tingkilan menggunakan kayu nangka sebagai badannya. Berat gambus ini sekitar 50 gram dan memiliki panjang 70 cm. Badan gambus bercat coklat, sedangkan dawainya dari bahan nilon. Dawai dalam gambus bervariasi, mulai dari berdawai empat hingga duabelas.

2.      Ketipung

Merupakan kendang kecil. Sebagaimana gambus, alat musik ketipung mendapat pengaruh yang kuat dari budaya Timur Tengah.

3.      Kendang

Alat musik ini merupakan fondasi dari ensamble gamelan yang dipakai untuk mengiringi beberapa kesenian, misalnya Tari Ganjur. Kendang merupakan produk budaya Jawa yang dipakai untuk mengiringi seni musik Tingkilan di Kutai Kartanegara. Ketika Gambus mulai dipetik, maka kendang akan mengiringi alunan suara gambus. Kendang ini juga berfungsi untuk kemudian mengatur tempo dalam Tingkilan.

4.      Biola

Pada dasarnya biola merupakan produk budaya Eropa. Masuknya biola diperkirakan terjadi ketika Pemerintah Hindia Belanda berkuasa di nusantara. Lewat budaya akulturasi, akhirnya biola masuk sebagai salah satu instrument dalam Tingkilan.

Selain alat musik tersebut di atas, tidak jarang dalam setiap pementasan alat musik Tingkilan juga dipadukan dengan beberapa alat musik lainnya seperti gitar bass, drum, dan rebana.

Tingkilan merupakan seni musik tradisional yang banyak menyisipkan pesan moral dalam lirik-lirik lagunya karena memuat banyak nasehat. Selain nasehat, tidak jarang lirik lagu juga berisi tentang gambaran keindahan alam, percintaan, kalimat memuji, atau menyindir dengan kata-kata lucu.

Pada zaman dahulu, Tingkilan dinyanyikan oleh sepasang pria-wanita. Mereka bernyanyi bersahutan. Dari unsur sahut-sahutan inilah maka dikenal istilah betingkilan yang bermakna bertingkah-tingkah atau bersahut-sahutan. Lewat istilah betingkilan tersebut, maka musik ini dikenal dengan nama Tingkilan.

Tingkilan sering ditampilkan untuk mengiringi tari tradisional Kutai, yaitu Tari Jepen. Tari Jepen dikenal sebagai tari pergaulan di kalangan masyarakat Kutai Kartanegara. Para penari Jepen mengenakan pakaian yang terdiri dari sanggul Kutai (baik sanggul yang berasal dari rambut palsu maupun dari rambut asli penari), kebaya sebagai baju atasan, dan kain batik baju bawahan. Pada bagian bawah sanggul diberi sisir berbentuk setengah lingkaran.

Tingkilan memainkan beberapa lagu dalam setiap penampilannya. Salah satu lagu yang populer adalah lagu Buah Bolok yang diciptakan oleh Masdari Achmad. Buah Bolok adalah buah yang terdapat di Kalimantan Timur. Buah ini memiliki rasa asam namun sedikit manis. Lirik lagu Buah Bolok tersebut sebagai berikut:

Buah Bolok

Buah Bolok kuranji papan
Dimakan mabok dibuang sayang
Busu embok etam kumpulkan
Rumah-rumah jabok etam lestarikan

Buah Salak muda diperam
Dimakan kelat dibuang sayang
Sepupu densanak etam kumpulkan
Untuk menyambut wisatawan

Buah terong denganan nyaman
Jukut blanak tulung panggangkan
Museum Tenggarong Mulawarman
Yok densanak etam kerangahkan

Buah Bolok keranji papan
Dimakan mabok dibuang sayang
Keroan kanak sekampongan
Etam begantar bejepenan

Sumber:

  • Fl. Sudiran dalam Jurnal Humaniora Volume 18. No. 1 Februari 2008 “A brief study on the musical performance of Tingkilan from East Kalimantan”
  •  “Tingkilan” tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Tingkilan, diakses pada tanggal 16 April 2011

 

Dibaca : 4066 kali
« Kembali ke Seni dan Budaya Istana

Share

Form Komentar