English Version | Bahasa Indonesia

Kesultanan Kutai Kartanegara Tak Setuju Lembuswana Ganti Nama

22 Maret 2011 14:52


Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura tak setuju terhadap keinginan DPRD Kukar mengenai rencana mengubah nama Patung Lembuswana yang terletak di Pulau Parai Kumala. Kesultanan menyebut, masalah di patung itu tak bisa diselesaikan semudah dengan mengubah nama saja.

“Ini bukan masalah nama saja, tapi sejarah. Patung itu tak bisa diubah namanya saja, karena ciri-ciri patung itu semua persis dengan ciri-ciri hewan ajaib Lembuswana yang ada di sejarah Kutai. Tidak mungkin ada dua bentuk yang sama, sementara namanya beda. Bisa terjadi hal yang membingungkan nantinya di sejarah Kutai,” tegas kesultanan melalui Pangeran Ario Jaya Winata atau yang akrab dipanggil Aji Boli.

Aji Boli mengatakan bahwa dia mendapat pesan singkat dari Sultan Salehuddin II, bahwa kesultanan tak setuju bila patung itu tetap berdiri dan diganti namanya saja. “Jadi pilihannya hanya patung itu diperbaiki dan diganti dengan posisi baru, atau dirobohkan sama sekali. Karena memang posisi patung itu salah. Enak betul kok mau diganti namanya saja, ini berhubungan dengan sejarah Kutai yang harus disampaikan secara utuh dan benar ke keturunan selanjutnya,” tegasnya.

Seperti diketahui, DPRD Kukar sebelumnya berpendapat sangat merugikan bila patung Lembuswana di Pulau Parai Kumala dirubuhkan dan diganti patung baru. Karena itu, DPRD memilih untuk mengganti namanya saja.

“Bupati nantinya harus mengeluarkan surat keputusan yang menyatakan bahwa patung di Pulau Parai Kumala adalah bukan patung Lembuswana. Kita ganti namanya. Nama ini nanti akan dipikirkan nanti,” kata anggota Komisi III, Salehuddin.

Salah satu alasan DPRD menolak dirubuhkan, karena patung itu termasuk aset Pemkab Kukar yang bernilai miliaran rupiah. "Patung karya seniman terkenal asal Bali, Nyoman Nuarta tersebut memiliki nilai seni tinggi. Meskipun di APBD Kukar 2010 sudah dialokasikan dana untuk pembuatan gantinya, tapi patung itu sebaiknya tetap berdiri sebagai simbol objek wisata Pulau Parai Kumala," katanya lagi. 

Sekadar informasi, polemik ini semakin menajam mengingat biaya untuk pembangunan patung itu mencapai Rp 37 miliar. Hanya saja, patung raksasa berbahan tembaga itu dibuat Nyoman Nuarta dalam posisi duduk. Kondisinya beda dengan patung Lembuswana versi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, yang menyebut patung Lembuswana posisinya berdiri.

Sebelumnya, Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, ketika melantik Penjabat (Pj) Bupati Kukar, Sulaiman Gafur, 30 November 2009 lalu, juga memerintahkan Pemkab Kukar "mendirikan" patung Lembuswana duduk di Pulau Kumala itu. Pj Bupati Sulaiman Gafur lalu menganggarkan biaya mendirikan patung hewan ajaib yang menjadi ikon daerah ini, masuk di Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kukar 2010 sebesar Rp 8 miliar.

Sumber: http://www.kaltimpost.co.id/
Sumber Foto: http://www.flickr.com/photos/rizki/


Dibaca : 3328 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar