English Version | Bahasa Indonesia

Militer dan Jenjangnya

Militer di Kesultanan Kutai Kartanegara dibagi menjadi dua, Barisan Pangkon Panjang dan Barisan Pangkon Dalam. Di dalam Barisan Pangkon Panjang terdapat pasukan khusus pengawal atau pendamping Sultan. Pada pasukan ini dilengkapi dengan tombak bermata tiga. Tombak ini melambangkan keberadaan Sultan karena jika dalam suatu medan peperangan terlihat tombak ini, maka dapat dipastikan bahwa Sultan juga turut serta dalam perang. Namun sebaliknya, jika dalam sebuah peperangan tidak terlihat tombak ini, maka Sultan tidak turut serta dalam perang. Tombak bermata tiga melambangkan berpadunya Kerajaan Batara di kayangan dengan Kerajaan Dewa di pertiwi yang menciptakan Kerajaan Adji di bumi. Kayangan disebut kerajaan pertama, pertiwi disebut kerajaan kedua, dan bumi disebut kerajaan ketiga.         

Barisan Pangkon Panjang dilengkapi dengan beberapa persenjataan, yaitu keliau (perisai), tombak bermata satu, tombak bermata tiga, dan mandau. Barisan ini mempunyai identitas, yaitu bendera yang berbentuk segitiga dan bergambar naga. Sedangkan pada Barisan Pangkon Dalam memiliki identitas berupa bendera yang berbentuk segitiga, terdapat lingkaran di tengah-tengah bendera, dan terdapat gambar lembuswana di tengah-tengah lingkaran. 

Jenjang kemiliteran di Kesultanan Kutai Kartanegara dibagi menjadi empat, yaitu Panglima, Wakil Panglima, Komandan, dan Prajurit. Sesuai dengan pembagian tersebut terdapat tanda kepangkatan untuk masing-masing tingkatan. Panglima memiliki tanda pangkat berbentuk mata tombak bermata tiga sebanyak dua buah, Wakil Komandan sebanyak satu buah, sedangkan Komandan dan Prajurit tidak memiliki gambar mata tombak bermata tiga. Tanda pangkat ini disandang pada kedua pundak.

Selain prajurit di atas, Kesultanan Kutai Kartanegara juga memiliki pasukan elit yang disebut Prajurit Sepangan. Prajurit Sepangan bertugas sebagai ujung tombak pasukan ketika terjadi peperangan. Berbagai kiprah pernah diukir oleh Prajurit Sepangan di medan perang, misalnya perang pada tahun 1844 antara Kesultanan Kutai Kartanegara yang kala itu diperintah oleh Sultan Aji Muhammad Salehudin (1782–1845 M) dengan armada Inggris yang dipimpin oleh James Erskine Murray. Dalam peperangan ini, Prajurit Sepangan berhasil mengalahkan armada Inggris hingga menewaskan James Erskine Murray 

Salah satu Panglima Prajurit Sepangan yang melegenda bernama Awang Long yang bergelar Pangeran Senopati Awang Long, putra keempat Mangkubumi Kesultanan Kutai Kartanegara, Ni Raden Pati Perbangsa dari istrinya Ni Dayang Manta. Awang Long tercatat sebagai Panglima Muda Prajurit Sepangan yang terlibat dalam pertempuran pada tahun 1844. Ia gugur dalam pertempuran tersebut dan dimakamkan di Kampung “Panji” atau disebut pula dengan nama “Teluk Menangis”, sebuah tempat yang terletak tidak jauh dengan pusat kota Tenggarong. 

Sumber:

  • Adji Raden Atmo Kesumo, 2002. Motif dan lambang-lambang busana Kerajaan Kutai Kartanegara.
  •  “Gugurnya Awang Long” diunduh dari http://www.bongkar.co.id/ pada tanggal 11 Maret 2011.

 

Dibaca : 1828 kali
« Kembali ke Kesultanan Kutai Kartanegara

Share

Form Komentar