English Version | Bahasa Indonesia

Makam (Kubur)

Kompleks Makam Sultan Kutai Kartanegara

Kompleks Makam Sultan Kutai Kartanegara berada dalam satu kawasan dengan Kedaton Kutai Kartanegara dan Museum Mulawarman. Kompleks ini terletak di Jalan Diponegoro, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Di kompleks ini terdapat 142 makam para kerabat dan Sultan Kutai Kartanegara.

Salah satu Sultan Kutai Kartanegara yang dimakamkan di sini adalah Aji Imbut gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin (bertahta antara tahun 1739-1782). Aji Imbut dikenal sebagai pendiri Kota Tenggarong. Pada tanggal 28 September 1782, Aji Imbut memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dari Pemarangan ke Tepian Pandan. Nama Tepian Pandan diubah oleh Aji Imbut menjadi Tangga Arung yang mempunyai arti “Rumah Raja”. Pada perkembangan kemudian, nama Tangga Arung lebih dikenal dengan sebutan Tenggarong. Nama Tenggarong akhirnya lebih familier daripada Tangga Arung dan dipakai hingga saat ini. Berdasarkan kenyataan tersebut, maka hal ini menjadi salah satu alasan bagi Pemerintah Kota Tenggarong untuk senantiasa menggelar acara ziarah ke Makam Sultan Kutai Kartanegara dalam rangka hari jadi (ulang tahun) Kota Tenggarong yang diperingati setiap tanggal 28 September.   

Selain Aji Imbut gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin, Sultan Kutai Kartanegara yang dimakamkan di tempat ini adalah Sultan Aji Muhammad Sulaiman (bertahta antara tahun 1845–1899 M), Sultan Aji Muhammad Salehudin (bertahta antara tahun 1782–1845 M), Sultan Aji Muhammad Sulaiman (bertahta antara tahun 1845–1899 M), dan Sultan Aji Muhammad Parikesit (bertahta antara tahun 1920–1960 M) (Ramli Nawawi et.al., 1992/1993:148). Sultan Aji Muhammad Parikesit merupakan Sultan Kutai Kartanegara terakhir sebelum wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara dilebur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan Sultan Aji Muhammad Alimudin (bertahta antara tahun 1899–1910 M) tidak dimakamkan di tempat ini. Beliau dimakamkan di tanah pribadinya yang terletak di daerah Gunung Gandek, Tenggarong. 

Nisan (jirat) para Sultan serta kerabat Kesultanan Kartanegara terbuat dari kayu besi (ulin) dan terukir tulisan Arab. Dilihat dari berbagai nisan yang ada di kompleks pemakaman ini, diindikasikan terdapat percampuran kebudayaan yang tercermin pada bentuk nisan. Pengaruh kebudayaan tersebut berasal dari budaya Dayak, Bugis, Makassar, dan Islam. 

Indikasi tersebut menarik minat praktisi akademisi untuk melakukan penelitian. Balkis Khan, seorang arkeolog dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) melakukan kajian yang mendalam untuk menguak pembauran kebudayaan yang tercermin lewat ragam hias pada nisan Makam Sultan Kutai Kartanegara. Tesis beliau yang berjudul “Keragaman nisan dan jirat kompleks makam Raja Kutai abad 18-20, Tenggarong, Kalimantan Timur: Ditinjau dari aspek hiasan” merupakan hasil penelitian dengan cara melakukan komparasi dengan pendekatan Identifikasi Makam Sultan Kutai Kartanegara di enam lokasi pemakaman yang memakai ragam hias budaya Bugis (Watan Lamuru dan Binamu), Makassar (Gowa, Tallo, dan Jere LompoE), dan Dayak (1 lokasi).

Berdasarkan hasil kajian di keenam lokasi pemakaman yang dilakukan dengan cara melakukan komparasi dengan pendekatan Identifikasi dengan Makam Sultan Kutai Kartanegara, maka didapatkan beberapa kesimpulan, bahwa ragam hias yang terdapat pada nisan di Makam Sultan Kutai Kartanegara menyerap unsur budaya lain seperti budaya Bugis, Makassar, Dayak, dan Islam. Percampuran budaya tersebut terlihat dari kekhasan ragam hias yang diwakili dan dimiliki oleh masing-masing budaya yang tercermin pada ragam hias di Makam Sultan Kutai Kartanegara. Masing-masing kekhasan tersebut adalah:

  1. Ragam hias Makassar: helai mawar, mawar, bonggol bunga, lingkaran, swastika, tumpal, belah ketupat, dan ular.
  2. Ragam hias Bugis: bintang, belah ketupat, helai mawar, tumpal, dan gada 
  3. Ragam hias Dayak: pelipit, mawar, gada (blontang), dan ular.
  4. Ragam hias dengan pengaruh Islam: kaligrafi, swastika banji dan stilir ekor, bingkai cermin, kepala dan badan ular.

Pengaruh beberapa kebudayaan tersebut dapat ditelusuri lewat beberapa hal, misalnya pemerintahan (kebijakan kerajaan) yang memberikan kebebasan terhadap masuknya budaya pendatang dan faktor kekerabatan antara penguasa Kutai Kartanegara dengan etnis lain di luar Pulau Kalimantan. Faktor pemerintah (kebijakan kerajaan) yang memberikan tempat bagi masuknya budaya luar dan memberikan tempat bagi budaya asli (Dayak) tercermin lewat pedoman pemerintah Kesultanan Kutai Kartanegara yang disebut Panji Salaten. Panji Salaten menyebutkan tentang pemberian kebebasan terhadap etnis pendatang maupun asli untuk melestarikan dan mengembangkan budayanya sendiri. Lewat kebebasan tersebut, maka berbagai kebudayaan bisa mencampurkan diri dan menghasilkan akulturasi antarbudaya.

Di sisi lain, faktor keturunan para penguasa di Kesultanan Kutai Kartanegara juga berpengaruh terhadap akulturasi budaya. Sebagai contoh, misalnya Sultan Aji Muhammad Idris (bertahta antara tahun 1732–1739 M) adalah menantu dari Sultan Wajo La Madukelleng, seorang bangsawan Bugis di Sulawesi Selatan. Demikian pula dengan kedua anaknya, Putera Mahkota Aji Imbut dan Aji Kado adalah cucu Sultan Wajo La Madukelleng. Aji Imbut di kemudian hari juga ditabalkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara sehingga bergelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin (bertahta antara tahun 1739-1782). Adanya hubungan antara penguasa di Kesultanan Kutai Kartanegara dengan Wajo (Bugis), secara langsung ataupun tidak langsung, turut memberikan pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan di Kutai Kartanegara. 

Referensi:

  •  Ramli Nawawi et.al., 1992/1993. Salasila Kutai. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.
  • “Kedaton Kutai Kartanegara-Tenggarong, Kalimantan Timur”, tersedia di http://www.kalimantan-news.com/, diakses pada 15 Maret 2011

  • Keragaman nisan dan jirat kompleks makam Raja Kutai abad 18-20, Tenggarong, Kalimantan Timur: Ditinjau dari aspek hiasan”, 1998. tersedia di http://jurnal.dikti.go.id/jurnal/, diakses pada tanggal 15 Maret 2011
  • “Makam Sultan Kutai”, tersedia di http://indotim.net/wisata-kalimantan/, diakses pada tanggal 15 Maret 2011

 

Dibaca : 3834 kali
« Kembali ke Kesultanan Kutai Kartanegara

Share

Form Komentar