English Version | Bahasa Indonesia

Putri Burung Kuau



Putri Burung Kuau

Alkisah diceritakan tentang seorang putra mahkota yang bernama Raja Muda. Telah lama Sang Raja Muda mengidamkan mempunyai pasangan, namun belum menemukan gadis yang sesuai untuk dijadikan istri.

Syahdan, ketika Raja Muda sedang terlelap dalam tidurnya, ia bermimpi. Dalam mimpinya ini Raja Muda melihat seorang tua yang datang kepadanya dan mengatakan bahwa kalau Raja Muda ingin mendapatkan istri, dia harus pergi ke halaman sebuah rumah di pesisir pantai. Di halaman rumah tersebut tumbuh sebatang pohon kelapa gading. Jika suatu saat terdapat burung Kuau hinggap di dahan pohon kelapa gading tersebut, Raja Muda harus menangkapnya karena burung Kuau tersebut baru saja turun dari kayangan.

Ketika bangun dari mimpinya, Raja Muda berharap akan kenyataan dari mimpi yang masih terngiang jelas dalam ingatannya. Keinginan untuk mendapatkan istri membuat Raja Muda mempercayai dan bergegas pergi mencari petunjuk yang sesuai dengan yang diterima dalam mimpinya.

Raja Muda segera mencari rumah di tepi pantai dan mempunyai halaman yang ditumbuhi pohon kelapa gading. Setelah mencari cukup lama akhirnya Raja Muda menemukan rumah yang sama persis seperti yang tergambar dalam mimpinya. 

Siasat untuk menangkap burung Kuau segera dijalankan oleh Raja Muda. Ia kemudian menyembunyikan diri dengan cara menutup badannya di bawah timbunan pasir, sedangkan pada bagian muka hanya ditutup dengan tempurung kelapa agar masih bisa mengamati keadaan sekitar. Tak ketinggalan, Raja Muda juga menyiapkan perangkap untuk menangkap burung Kuau yang disembunyikannya di suatu tempat.

Penantian Raja Muda tak berlangsung lama karena dalam waktu singkat turunlah dua ekor burung Kuau dari kayangan. Tepat seperti perkataan si orang tua dalam mimpi, burung Kuau ini hinggap di dahan pohon kelapa gading tersebut.

2 ekor burung Kuau ini adalah kakak beradik. Pada awalnya kedua burung ini hinggap di dahan pohon kelapa gading, namun tak lama kemudian sang adik turun dan bermain-main di atas pasir. Sang kakak yang masih bertengger di atas dahan pohon kelapa gading berusaha memperingatkan sang adik dengan cara bernyanyi sebagai isyarat agar sang adik berhati-hati.

Rupanya nyanyian sang kakak yang berisi nasehat itu tak digubris oleh sang adik. Burung ini justru semakin asyik bermain di atas pasir sembari bersenandung dengan riang gembira tanpa mempedulikan keadaan di sekitarnya. Raja Muda yang telah bersembunyi di bawah tumpukan pasir terkesan dengan nyanyian burung Kuau yang sangat merdu tersebut. Tak memperhatikan keadaan sekitar, burung Kuau ini terus bernyanyi dan berjalan menuju tempat di mana Raja Muda bersembunyi. Ketika burung Kuau ini telah dekat dengan tempat persembunyian, Raja Muda segera menangkap dan memasukkannya ke dalam sangkar yang telah dipersiapkan. Melihat kejadian ini, sang kakak yang masih berada di atas dahan pohon kelapa gading ketakutan dan segera terbang melarikan diri kembali ke kayangan.

Raja Muda kini sangat gembira. Niatan untuk mendapatkan burung Kuau telah terpenuhi. Iapun akhirnya kembali ke istana dan meletakkan sangkar yang berisi burung Kuau tersebut di sebelah kamar peraduan.

Pada suatu malam menjelang dini hari terjadilah keajaiban terhadap burung Kuau. Burung Kuau berubah wujud dan menjelma menjadi seorang putri yang berparas cantik jelita. Putri ini kemudian keluar dari sangkarnya dan pergi ke dapur untuk memasak makanan yang lezat. Selesai memasak, sang putri kemudian kembali lagi ke dalam sangkar dan berubah wujud menjadi burung Kuau.

Keesokan harinya, ketika Raja Muda sedang bersantap pagi, ia merasa heran karena masakan santap pagi kali ini terasa lebih lezat daripada hari-hari biasanya. Oleh karena itu, Raja Muda kemudian menanyakan kepada juru masak istana siapa yang memasak masakan selezat ini. Juru masak istana kemudian menjawab bahwa bukan dia yang memasak makanan itu. Justru, juru masak juga heran karena ketika dia bangun, di atas meja makan sang Raja Muda telah terhidang masakan untuk santap pagi.

Ternyata kejadian yang sama terulang kembali pada pagi hari dan hari-hari berikutnya. Raja Muda kini dibuat penasaran dengan kejadian ini. Untuk mencari jawaban akan rasa penasarannya, Raja Muda kemudian menyusun siasat. Ia tidak akan tidur malam ini dan berusaha mengintip siapa orang yang memasak masakan sedemikian lezat.

Menjelang dini hari, Raja Muda mendengar suara yang aneh dari ruangan tempat diletakkan sangkar burung Kuau. Dengan sangat hati-hati, Raja Muda mengintip ke tempat itu. Raja Muda sangat terkejut melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa burung Kuau yang telah ditangkapnya kini sedang berubah menjadi seorang putri yang cantik jelita. Putri ini lantas berjalan menuju dapur dan mulai memasak tanpa menyadari bahwa segala sesuatunya telah dilihat oleh Raja Muda.

Tak membuang kesempatan tersebut, Raja Muda kemudian mengambil sangkar burung dan menyembunyikan di kamarnya. Ketika putri yang cantik tersebut telah selesai memasak dan menghidangkan di meja makan, ia bermaksud untuk kembali ke sangkar, namun sangkar tersebut telah hilang. Karena panik, putri tersebut akhirnya bersembunyi di suatu tempat.

Keesokan harinya, Raja Muda berpura-pura marah karena burung Kuau miliknya hilang dengan menunjukkan sangkar burung yang telah kosong. Kemudian Raja Muda memerintahkan kepada seluruh pelayan istana untuk mencari burung Kuau miliknya. Seluruh sudut istana telah dicari oleh pelayan istana, namun burung Kuau milik Raja Muda tak jua ditemukan. Pelayan istana hanya menemukan seorang putri yang sangat cantik sedang ketakutan dan bersembunyi. Ketika ditanya oleh pelayan istana, putri tersebut mengakui bahwa dirinya merupakan penjelmaan dari burung Kuau. Akhirnya sang putri ini diharapkan kepada Raja Muda. Terkesan akan kecantikan dan keluhuran budi sang putri, Raja Muda akhirnya memperistrinya. Sejak saat itulah, putri hasil penjelmaan dari burung Kuau ini dikenal dengan nama Putri Burung Kuau.

Pernikahan antara Raja Muda dan Putri Burung Kuau berlangsung sangat meriah. Pesta mewah dan jamuan makan diadakan selama berhari-hari. Para tamu undangan dari berbagai kerajaan tetangga juga turut diundang. Pasangan mempelai kelihatan sangat berbahagia.

Setelah setahun menikah, pasangan ini dikarunia seorang putra yang sangat tampan. Bertambahlah kebahagiaan di antara mereka. Namun kebahagiaan ini berbanding terbalik dengan orang tua Putri Burung Kuau yang kini masih tinggal di kayangan. Anak mereka yang paling bungsu telah setahun ini tak kunjung pulang. Ingin rasanya kedua orang tua ini mencari buah hatinya ke dunia. Namun, mereka takut kalau setelah sampai di dunia, mereka akan ditangkap bahkan akan dibinasakan oleh manusia.  

Sementara itu, di istana, Raja Muda dan Putri Burung Kuau seperti biasanya terlihat sedang berduaan di taman istana. Kali ini sang putri tampak sedang duduk, sedangkan raja muda berbaring sambil meletakkan kepala di pangkuan Putri Burung Kuau. Pada saat itu Putri Burung Kuau membelai-belai kepala suaminya. Menerima perlakukan ini, Raja Muda teringat kembali akan suara merdu dari Putri Burung Kuau sewaktu menangkapnya dulu. Ingin rasanya Raja Muda mendengarkan kembali nyanyian dari burung Kuau yang kini telah menjadi istrinya itu.

Raja Muda menyampaikan maksudnya ini kepada sang istri. Namun dengan halus sang istri menolak untuk menyanggupi permintaan Raja Muda. Mendapati penolakan yang halus tersebut, Raja Muda tak putus asa dan membujuk Putri Burung Kuau untuk bernyanyi sekali lagi. Untuk kedua kalinya Putri Burung Kuau menolak dan menasehati Raja Muda bahwa apabila ia menyanyi, maka dirinya akan sedih dan Raja Muda akan menyesal. Tak peduli dengan nasehat Putri Burung Kuau, Raja Muda semakin mendesak agar Putri Burung Kuau mau menyanyi. Penolakan serupa kembali disampaikan oleh Putri Burung Kuau. Namun penolakan tersebut justru semakin membuat Raja Muda penasaran dan kembali memaksa Putri Burung Kuau untuk menyanyi. Akhirnya karena desakan dari Raja Muda, Putri Burung Kuau mengabulkan permintaan Raja Muda. Putri Burung Kuau mulai bernyanyi.

Lagu burung Kuau dinyanyikan oleh Putri Burung Kuau dengan suara yang sangat merdu. Raja Muda terbuai akan merdunya suara Putri Burung Kuau, hingga baru dua bait lagu yang dinyanyikan, Raja Muda telah tertidur dengan kepala terkulai di pangkuan istrinya. Mendapati sang suami telah tertidur Putri Burung Kuau menghentikan nyanyiannya, namun seketika itu pula Raja Muda terbangun dan meminta Putri Burung Kuau untuk kembali bernyanyi.

Putri Burung Kuau menuruti permintaan Raja Muda untuk kembali bernyanyi. Semakin lama suara nyanyiannya semakin tinggi, hatinya semakin sedih karena teringat akan kakak dan kedua orang tuanya di kayangan. Badannya kini gemetar dan tak terasa air matanya menetes tak tertahankan. Perlahan-lahan tubuh Putri Burung Kuau yang semula berbentuk seorang putri yang cantik jelita berubah menjadi seekor burung Kuau. Sambil mengepakkan sayap Putri Burung Kuau perlahan-lahan terbang meninggalkan suaminya yang tengah tertidur pulas. Pada saat yang hampir bersamaan, Raja Muda tersentak dan bangun dari tidurnya. Ia tak lagi mendapati Putri Burung Kuau. Raja Muda tersadar bahwa Putri Burung Kuau kini telah menjelma menjadi seekor burung Kuau karena kini yang tampak olehnya adalah seekor burung Kuau yang tengah terbang tinggi meninggalkannya seorang diri.

Raja Muda kini hanya bisa menyesali permintaannya kepada sang istri tercinta untuk menyanyi. Nyanyian itu ternyata telah membuat Putri Burung Kuau bersedih karena teringat kembali akan sanak keluarga. Nyanyian itu juga sekaligus membuat Putri Burung Kuau meninggalkan Raja Muda yang kini menanggung penyesalan yang menyesakkan dada. Penyesalan Raja Muda tiada guna dan harus ia tanggung sendirian karena sang istri tercinta kini telah terbang tinggi kembali ke kayangan.

Sumber: http://www.bali3000.com/education/folks-tale/
Sumber Foto: http://www.dinamikaebooks.com/buku/

Dibaca : 1409 kali
« Kembali ke Kesusastraan

Share

Form Komentar