English Version | Bahasa Indonesia

Sultan Serdang Layak Diangkat Jadi Pahlawan Nasional

30 Desember 2010 13:39


Medan, Sumut - Sultan Shariful Alamsjah yang merupakan sultan kelima Kesultanan Serdang dinilai layak diangkat menjadi pahlawan nasional karena kegigihannya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

"Kegigihannya meningkatkan kesejahteraan rakyatnya itu justru diperjuangkannya pada saat Kolonial Belanda menguasai kesultanan itu," kata Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari di Medan, Kamis (15/4).

Berbicara pada seminar sejarah "Perlawanan Sultan Shariful Alamsyah di Kesultanan Serdang" ia mengatakan, perintisan dan upaya nyata Sultan Shariful dalam menyejahterakan rakyat Serdang yang dikenal dengan civil disobedience tersebut layak menghantarkan sang sultan menjadi pahlawan nasional.

Hal ini, menurut dia, pantas didukung karena selama ini yang menjadi pahlawan nasional cenderung adalah orang-orang yang mengangkat senjata, terlibat kontak fisik dengan kolonial atau didominasi oleh kalangan militer.

"Oleh karenanya, jika Sultan Shariful menjadi pahlawan nasional, tentu saja hal ini adalah prestise dan prestasi Sumatera Utara," katanya.

Sultan Shariful Alamsjah dikenal kegigihannya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat Serdang melalui peningkatan sektor pertanian, kesehatan, seni tari dan musik melayu, bekerja sama dengan dengan pihak luar seperti Jepang dalam bidang pertanian dan kerajinan.

Ayahnya adalah Sultan Basharuddin yang mangkat pada 28 Desember 1880 yang merupakan sultan ke-4 di wilayah kesultanan Serdang. Ia bertahta di Kesultanan Serdang sejak tahun 1881 pada usia yang cukup belia yakni di usia 15 tahun.

Meskipun Shariful tidak terlibat kontak fisik dalam penentangannya terhadap Kolonial Belanda, tetapi sultan melakukan upaya-upaya pemajuan sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan rakyat Serdang seperti pertanian dan kesehatan.

Kemudian hak ulayat (adat), pendidikan, irigasi, peternakan, keagamaan, maupun kesejahteraan sehingga ia dikenali dengan pahlawan "civil disobedience".

Staf peneliti Pussis Unimed, Erond Damanik, mengatakan, Sultan Shariful pantas digelari "pengentas dari Serdang" akibat upaya-upaya nyatanya dalam memajukan rakyat Serdang.

Walau dirinya tidak terlibat perang atau kontak bersenjata dengan kolonial, tetapi ia memiliki strategi lain untuk menentang kolonial dengan cara memajukan hak-hak hidup ulayat dan masyarakat Serdang.

"Dengan cara-cara yang dilakukannya, kolonial menganggap dia sulit diajak bekerja sama seperti yang terbaca pada 'Officieelle Bescheiden Betreffende de Nederland-Indonesissche Betrekkingen' (1945) dengan sebutan 'Mengenai Sultan Serdang dapat dipastikan tidak akan ada dukungan terhadap Belanda'," katanya. (Ant/OL-7)


Dibaca : 1413 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar