English Version | Bahasa Indonesia

Adat Kontrak Sosial Antara Raja Dan Rakyat Kesultanan Serdang

03 Januari 2011 06:32


Oleh Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, SH

Pendahuluan

I. Masuknya Islam di Pantai Timur Sumatera

Di pesisir timur Sumatera menghadap Selat Melaka telah ada di samping Pasai (Samudera), juga Kerajaan Temiang, Haru, dan Panai yang beragama Hindu/Budha takluk ke Malayu (Jambi) dan Sriwijaya (Palembang). Terkenal kontrak sosial antara raja dan rakyat di Bukit Siguntang antara Sang Sapurba dengan Demang Lebar Daun jadi Mangkubumi bahwa anak cucunya tidak akan berkhianat pada Sang Sapurba dan turunannya selagi Sang Sapurba atau turunannya tidak memberi malu mereka. Lihat “Sejarah Melayu”. Ini adalah hubungan yang sakral.

Menurut Hikayat Raja-raja Pasai, rombongan Nakhoda Ismail dan Fakir Muhammad (dari Malabar dan Medina) mengIslamkan Pasai/Samudera (Raja Merah Silau) dan sekaligus juga Haru. Merah Silau itulah menjadi Sultan Malik As Saleh. Petualang Italia bernama Marco Polo ketika pulang dari China ke Eropah berlayar sempat singgah di Pasai ini bertemu dengan Sultan Malik as Saleh. Di Pasai sekarang masih ada batu nisan Sultan Malik as Saleh yang indah bertarikh 1297 M. Masa pemerintahan Kaisar China Kublai Khan, Kerajaan Haru sudah mengirim misi ke China di tahun 1282 M dan dipimpin oleh orang yang beragama Islam.

Kerajaan Haru yang didirikan etnis Karo itu, sudah menjadi Kerajaan Melayu Islam, pada abad ke-15 M sudah menguasai Temiang dan Panai, dan menjadi Kerajaan Islam yang setarap dengan Pasai dan Melaka menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Melaka. Kerajaan-kerajaan Islam tadi dikunjungi oleh para pedagang China yang armadanya dikepalai oleh Laksemana Cheng Ho/Zeng He (beragama Islam) selama era abad ke-15 itu. Perdagangan rempah (terutama lada) yang menjadi komoditas penting di samping emas yang membuat sering terjadi peperangan di antara Pasai-Haru-Melaka sampai pada pertengahan abad ke-16 M.

II. Konflik Imperium Melayu Johor/Riau dengan Imperium Aceh

Di ujung barat pulau Sumatera berdiri Kerajaan Lamuri (Lamri) sejak zaman Hindu di abad ke-12 M. Berseberangan dengan Sungai Aceh yang membelah kerajaan itu, berdiri 2 kerajaan kecil yaitu Darul Kamal dan Mahkota Alam saling berebut pengaruh. Dalam tahun 1521 M, Sultan Ali Mughayat Shah bilad Mahkota Alam berhasil mempersatukan semua kerajaan kecil-kecil yang ada di Aceh seperti Perlak, Pidie, Pasai. Di zaman pemerintahan puteranya, Sultan Alaiddin Riayat Shah

(1537-1568 M), Kerajaan Aceh telah menyerang dan menaklukkan Kerajaan Haru dalam suatu peperangan dahsyat selama 7 hari dan menguasai ibukota Deli Tua (1539 M).

Masa itulah terbit hikayat yang terkenal: Puteri Hijau. Masa itu Haru berbaikan dengan Portugis di Melaka dan Kerajaan Johor-Riau, terutama setelah Sultan Husin Shah dari Haru kawin dengan Puteri Sultan Mahmud Shah Melaka, bernama Tun Putih (1520 M). Memang baik Portugis di Melaka maupun Imperium Melayu Johor-Riau mendapat serangan dari Aceh. Ketika mengantar Puteri Tun Putih ke Haru, ribuan pengiring orang Melayu Melaka dan Johor berdiam di Haru itu sehingga sejak 1520 M itu adat dan kebudayaan Melayu Melaka/Johor-Riau sudah berkembang sehingga penduduk Batak di pedalaman pegunungan Bukit Barisan sebahagian sudah “masuk Melayu” (Islam dan berbudaya bilateral Melayu).Sejak berkali-kali penyerangan Aceh itu, yang membakar semua tanaman lada dan rempah dan yang mengangkut penduduk kerja paksa ke Aceh, membuat bekas wilayah Haru (pesisir Sumatera Timur) lengang dan menjadi sarang perompak laut.

III. Lahirnya Kerajaan-kerajaan Islam Melayu di Pesisir Sumatera Timur

Dengan hancurnya Kerajaan Haru, maka pada awal abad ke-17 M berdirilah berbagai Kerajaan-kerajaan Melayu Islam di muara-muara sungai yang besar di pesisir timur Sumatera, seperti : Temiang, Langkat, Deli, Serdang, Batubara, dan Asahan. Untuk melawan pengaruh Portugis dari Melaka dan untuk mengadakan pengembangan Islam bagi penduduk di pedalaman, maka Sultan Iskandar Muda dari Aceh mengirimkan berbagai ekspedisi militer untuk menaklukkan Johor, Pahang, Kedah, Bengkulu, Riau dan mengepung benteng A. Famosa Portugis di Melaka.

Salah seorang Panglima Angkatan Perang Aceh yang perkasa, berpangkat Laksamana Kuda Bintan, ditugaskan menjadi Wakil Sultan Aceh untuk bekas wilayah Haru berkedudukan di Deli. Baginda berasal dari keturunan Mani Purindam dari Deli Akbar yang neneknya pernah menjadi Bendahara Pasai, lalu mengabdi sebagai Panglima utama dari Sultan Iskandar Muda Aceh (1636 M), dikenal sebagai Tuanku Gocah Pahlawan.

Oleh empat Raja Urung Batak Karo (Sunggal, XII Kuta, Sukapiring, dan Senembah), Baginda diangkat menjadi Raja, ketika Sultan Iskandar Muda dan Sultan Iskandar Thani mangkat, dan Aceh diperintah oleh Raja Perempuan. Di zaman pemerintahan puteranya, Tuanku Panglima Perunggit (1699 M), diproklamirkanlah kemerdekaan Deli lepas dari Aceh. Di zaman pemerintahan puteranya, Tuanku Panglima Paderap, Aceh kembali berkuasa.

Tuanku Panglima Paderap mempunyai 4 orang putera yaitu : Tuanku Metar, Pasutan, Kejeruan Santun (Wahidin) dan dari putera Permaisuri (Tuanku Puan Sampali) lahir Tuanku Umar (Baginda Junjungan). Ketika Tuanku Panglima Paderap mangkat terjadilah konflik siapa pengganti. Tuanku Metar di Mabar menderita cacat fisik sehingga tidak terpilih. Kemudian di antara 4 Orang Besar (Datuk Berempat) terjadi pula perselisihan. Datuk XII Kuta dan Sukapiring memilih Tuanku Pasutan, sedangkan Senembah dan Sunggal memilih Tuanku Umar karena bayi yang masih kecil ini adalah putera Permaisuri (Gahara).

IV. Kasus Membangkitkan Kesultanan Serdang, Lahirnya Kerajaan Serdang (1723 M)

Dua orang Datuk Urung yaitu Urung Sunggal Merga Surbakti dan Urung Senembah merga Barus beserta Raja Tanjong Morawa dari Merga Saragih (Batak Timur) dan utusan Aceh yaitu Uleebalang Lumu, segera membawa Tuanku Umar beserta ibundanya Permaisuri Puan Sampali ke muara sungai Serdang dan merajakan Tuanku Umar sebagai Sultan Serdang yang pertama (1723 M). Mereka membawa Sarakata dengan Cap Sikureung dari Sultan Aceh untuk pesan penobatan Tuanku Umar yaitu sebagai berikut:

“Memerintah Negeri Serdang dengan peringgannya, yang termadzkur, dan menghukumkan atas sekalian rakyatnya, dan mengambil wadsil, dan adat serta derajat, seperti yang kanun oleh paduka mahkota alam Iskandar muda, dan hendaklah menjunjungkan yang titah Allah, dan sabda Rasul dan menyarankan sekalian Raja-raja dan menyarankan kami, serta menjauhkan larangannya Liqaulihi Ta’ala Amarabil ma’rufi, wanaha’anilmunkari, dan lagi firmanNya ‘athiaulaha wa’athi aul Rasuli wa’ulul amriminkum, dan hendaklah memeliharakan segala hamba Allah, jangan teraniaya, dan mencurahkan sekalian rakyat pada perintah jalan syariah dini Muhammadin, karena firman Allah Ta’ala wa’aqimursalata wa’atuzakata watsumu ramdhana watahiyul baita kanistatha illahi sabila, lagi pula hendaklah dikuatkan atas sekalian rakyat sembahyang Jum’at pada tiap-tiap mesjid dan sembahyang berjamaah pada tiap-tiap waktu adanya. Waba’dahu apabila memutuskan barang diperhukuman hendaklah dengan mau dengan periksanya sehabis-habis ijtihad, karena firman Allah Ta’ala Innallaha ja’murukum bil’adil walihsin, dan lagi firmanNya, fahkum bainakum bima anzalallahu walatattabi’ilhawa, dan lagi firmanNya yaadauda tahakamta binan nasi antahkumabil adli fihadizil kudsi, sebagai lagi wilayah nikah, fasah, fitrah anak yatim dan menerima harta baitalmal yang dalam daerah segala peringgannya. Maka barang siapa yang berkehendak kamu sekalian datanglah kepada kami.” Raja itu adalah zillullah fi’l alam.

Setelah dibacakan oleh utusan Aceh itu, dipukullah gendang dan naubat. Maka oleh Raja Urung Senembah dinyatakanlah bahwa:

·         “Ada Raja Adat Berdiri, Tiada Raja Adat Mati.”

·         “Raja Adil Raja Disembah, Raja Zalim Raja Disanggah”. (Tidak durhaka tetapi, negeri ditinggalkan seperti di dalam hikayat lama, negeri itu akan lengang ibarat disambar garuda. Raja akan kehilangan daulatnya, menjadi miskin dan turunlah derajatnya).

Oleh Kadhi Malikul Adil berbicara:

·         Di dalam Surat an-Nisa’ Ayat 59 diterakan:

Wahai orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada Ulil Amri (orang yang berkuasa) dari kalangan kamu!

·         Dari Anas ibn Malik r.a. bahwa Nabi bersabda:

Dengar oleh kamu kata raja kamu dan ikut oleh kamu akan dia, jikalau ada ia sahaya yang Habshi sekalipun!

·         Dari Sheikh Abdullah dalam “Bayan al Asma”:

Raja itu ibarat zat, dan menteri itu ibarat sifat. Maka zat dan sifat itu tiada ia bercerai keduanya.

·         Dari kitab “Bustanussalatin” (III):

Barangsiapa mati itu dan tiada diketahuinya dan tiada dikenalnya akan raja pada masanya itu maka ia akan mati dengan kematiannya yang durhaka![i]

Maka oleh Raja Urung Sunggal (Serbanyaman) dinyatakanlah petuah:

Dua sifat penting yang harus dimiliki oleh raja yakni sifat pemurah (kepada rakyat) dan berani. Sifat pemurah syarat penting kepada raja yang ingin melaksanakan keadilan. Keadilan jalan menuju taqwa. Raja ibarat kayu besar di tengah padang. Akarnya ialah rakyat, batangnya ialah Orang Besar, tempat berteduh di hari hujan tempat bernaung di hari panas. Akarnya tempat duduk, batangnya tempat bersandar.

Setelah berbagai ucapan taat setia yang tiada berubah dari utusan penghulu adat di kampung-kampung, maka diserukanlah 3x dipimpin oleh Raja Urung Sunggal: “Daulat Tuanku!” (Daulat hanya ada pada diri Raja). Sejak itu terjalinlah suasana harmonisasi diantara Sultan dan rakyat Serdang. Dikenang oleh cerita rakyat akan Tuanku Umar Baginda Junjungan itu sebagai: “Raja yang memegang adat yang kanun adat pusaka turun-temurun adil, arif, bijak bersusun, pandai meneliti zaman beralun.” Masa pemerintahan Tuanku Umar Baginda Junjungan dipenuhi dengan pembangunan kampung-kampung di sepanjang arah ke hulu sungai Serdang dan Sungai Ular dan Denai. Pada tahun 1787 M, Baginda mangkat digantikan puteranya Tuanku Sultan Johan Alamshah.

Masa Pemerintahan Sultan Johan Alamshah (1787 M-1817 M)[ii]

Pada masa ini, Kerajaan Serdang sudah merdeka penuh. Senembah, Tg. Morawa, Negeri Denai, Negeri Perbaungan, Negeri Percut, berada di bawah kedaulatan Baginda. Usaha baginda selanjutnya ialah melebarkan kekuasaan ke Tanah Batak sambil membawa agama Islam dan kebudayaan Melayu (masuk Melayu). Oleh sebab itu, di Serdang yang menjadi Melayu tidak lagi terikat kepada faktor genealogis (keturunan hubungan darah) tetapi dipersatukan oleh faktor kultural (budaya Melayu) yang sama yaitu beragama Islam, berbahasa Melayu, beradat-istiadat Melayu, dan pengakuan sebagai orang Melayu dengan ikatan kekeluargaan.

Parental.

Baginda menerbitkan Motto Serdang: Al Wasiku Billah (berpegang pada tali Allah dan jangan bercerai berai), Surah Al-Imran; 102. Baginda Sultan Johan Alamshah mangkat ditahun 1817 M. Putera baginda yang tertua, Tengku Besar Zainal Abidin, lebih dahulu mangkat tewas di Pungai ketika pasukan Serdang membantu salah satu pihak di dalam perang saudara di Langkat (Marhom Mangkat di Pungei).

Maka adindanya, Tengku Thaf Sinar, diangkat oleh Orang Besar dan rakyat menjadi Sultan Serdang ke-3 di tahun 1817 M.

Kerajaan Serdang Masa Pemerintahan Tuanku Sultan Thaf Sinar Basarshah (1817-1850 M)

Masa pemerintahan Baginda ditandai oleh beberapa peristiwa besar. antara lain :

A. Lembaga Dewan Diraja, kawan raja musyawarah diperteguh yaitu:

  1. Raja Muda (kemudian puteranya pengganti bergelar Bendahara (Luhak Lubuk Pakam).
  2. Sri Maharaja (Luhak Ramunia).
  3. Datuk Paduka Raja (Batangkuis) keturunan Kejeruan Lumu Aceh.
  4. Datuk Maha Menteri (Araskabu) (Disebut WAZIR BEREMPAT atau Dewan Diraja, yang harus bersama Sultan memutuskan sesuatu).

Majelis Orang Besar, yaitu Raja dan Kepala Negeri yang ditaklukkan, dan jajahan. Oleh sebab itu, Tuanku Sultan Thaf Sinar Basarshah memakai gelar “Sri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Thaf Sinar Basar Shah Sultan Kerajaan Serdang dengan Rantau, Jajahan, dan Takluknya”.

B.  Baginda menaklukkan negeri Padang dan Bedagai serta mengangkat Wakil Sultan di sana.

C.  Baginda mengadakan hubungan politik dan dagang dengan Pemerintah Inggris di Penang (Missi John Anderson 1823).

D.  Baginda memajukan perdagangan dan industri dan kemakmuran sehingga banyak saudagar negeri-negeri lain mengekspor melalui Serdang termasuk dari Pantai Barat Sumatera (Barus, Alas).

E.  Karena kemakmuran negeri Serdang maka Kerajaan Siak datang menyerang sehingga Sultan Sinar terpaksa mengakui hegemoni Siak (1817 M).

F.    Ditetapkan bahwa fungsi Raja Serdang ialah:

  1. Sebagai Kepala Pemerintahan.
  2. Sebagai Kepala Agama Islam.
  3. Sebagai Kepala Adat.

G.   Banyak raja dan kepala daerah tunduk karena sifat yang baik dimiliki Baginda:

-     Pemurah, adil, dan memerintah dengan lemah lembut.

-     Elok berkata-kata manis dan lemah lembut budi bahasanya.

-  Selalu pandai mengambil hati rakyatnya sehingga bertambah-tambah kemakmuran negeri.

-     Ringan tangan dan kasih sayang membantu orang susah.

-     Berani di dalam peperangan sehingga para panglima dan prajurit setia dan      berbakti pada baginda.

-     Sangat gemar belajar mengenai berbagai hal di dunia.

Baginda mangkat dalam tahun 1850 M digantikan puteranya Tengku Basyaruddin.

Serdang Masa Pemerintahan Sultan Basyaruddin Syaiful Alam Shah

(1850-28 Desember 1880)

Masa pemerintahan Baginda penuh dengan peperangan, terutama dengan Deli, memperebutkan wilayah Bedagai, Padang dan Percut, yang mau dirampas oleh Deli.

Menurut London Treaty tahun 1824 antara Inggris dengan Belanda maka Sumatera diserahkan Inggris di bawah pengaruh Belanda. Pemerintah Hindia Belanda lalu mendekati Siak yang sedang lemah karena perang saudara, dan berhasil menekan Siak membuat perjanjian Kontrak Politik Siak-Belanda, 1 Februari 1858. Di dalam Kontrak itu Siak berada di bawah naungan Pemerintah Hindia Belanda. Siak mohon bantuan Belanda agar mengusir pengaruh Aceh pada kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur. Atas dasar itu maka Residen Belanda di Riau, E. Netscher, mulai mengunjungi kerajaan Langkat, Deli, Asahan, dan Serdang.

Di Serdang, Pemerintah Hindia Belanda mengakui bahwa Padang, Bedagai, Percut, Perbaungan, dan Denai tetap jajahan Serdang (Pernyataan Belanda 16-8-1862). Tetapi karena Asahan dan Serdang serta Temiang bermufakat dengan Aceh

untuk membendung penetrasi Belanda ke Sumatera Timur, maka Pemerintah Hindia Belanda dengan Keputusan Gubernur Jenderal no. 1 tanggal 25-8-1865 mengirim satu ekspedisi militer yang besar dan tangguh dibawa 7 buah kapal perang dengan serdadu dan marinir dilengkapi meriam dan mortar serta bedil yang mutakhir. Ekspedisi itu dinamakan “Militaire Expeditie Tegen serdang en asahan”.

Dengan kekuatan yang begitu besar dan modern itu tentu saja kerajaan bumiputera yang kecil dan sederhana kalah. Pada tanggal 1 Oktober 1865 pasukan Belanda memblokade dan mendarat di Serdang dan pada tanggal 6 Oktober Serdang menyerah. Sebagai hukuman wilayah Percut, Padang, dan Bedagai dirampas Belanda. Sultan Basyaruddin, sesuai gelarnya yakni Syaiful Alamshah (Pedang Alam), suka berperang dan memiliki sifat pemberani, seperti kata pepatah :

Bersungut dawai mati berkapan cindai bermata kucing setia tiada bertukar

bertangan besi pantang surut biar selangkah!

Baginda kurang pandai berdiplomasi, melawan kepada kekuatan imperialisme dan kolonialisme Barat yang sedang berada di puncaknya di dunia. Sejak kekalahan itu, baginda menyendiri dan bersuluk dan mangkat pada tanggal 28 Desember 1880 meninggalkan hanya seorang putera yaitu Tengku Sulaiman.

Pemerintahan Sultan Sulaiman Shariful Alam Shah (1880 -13 Oktober 1946)

Pada masa ini, semua kerajaan bumiputera di Indonesia sudah dijajah Belanda. Pemerintah Hindia Belanda membuat Politik Kontrak (1907) dengan Kerajaan Serdang yang berada di bawah protektorate. Ia tidak boleh berhubungan dengan pemerintah asing dan rakyatnya adalah rakyat asli Serdang saja. Mahkamah Kerajaan tidak boleh menghukum rejam, atau potong tangan atau hukuman dera cambuk. Hukuman mati dan hukum buang harus dengan seizin pemerintah Hindia Belanda. Semua hasil negeri diambil 50% oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Sultan Sulaiman terkenal sebagai raja yang selalu melawan dan sabotase setiap tekanan Belanda dan bersimpati kepada gerakan kemerdekaan Indonesia. Karena pemerintahannya yang banyak sekali untuk pembangunan dan pendidikan serta kesehatan rakyat, maka ketika baginda sakit di tahun 1927, ribuan rakyat berkunjung ke Istana Kota Galuh Perbaungan. Baginda melindungi rakyatnya dari kekerasan Jepang yang mau menangkap pemuda untuk dijadikan romusha kerja paksa dan wanita gyanfu.

Ketika diproklamasikan kemerdekaan Indonesia 17-8-1945, Baginda segera mengirim telegram kepada Presiden Sukarno, bahwa Kerajaan Serdang berdiri dan akan mempertahankan Republik Indonesia. Tetapi di daerah Sumatera Timur berkecamuk kegiatan pengaruh kaum komunis yang mensponsori diadakannya coup “Revolusi Sosial”. Banyaklah raja-raja dan bangsawan yang ditangkap dan dibunuh dan istana direbut dan dibakar. Sultan Sulaiman selamat dijaga oleh Tentera Republik Indonesia di istana tetapi karena sakit dan usia tua baginda mangkat 13-10-1946 dan dimakamkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan kehormatan dan diiringi ribuan rakyat. Sejak 3 Maret 1946 oleh “Revolusi Sosial” itu lenyaplah semua kerajaan yang ada di Sumatera Timur dan Aceh.[iii] Berdasarkan pasal 18D UUD 1945 (perobahan ke-2) sistem Kerajaan seperti zaman Belanda tidak berlaku lagi.

V. Masa Reformasi Demokrasi di Indonesia

Periode 1946-2000 adalah masa yang sangat menyedihkan pada masyarakat Melayu di Propinsi Sumatera Utara :

  1. Kerajaan Melayu di Langkat, Deli, Serdang, Asahan dan lainlain telah hapus.
  2. Semua istana raja, sebagai pusat adat-budaya Melayu hancur (kecuali istana Maimun di Medan yang pada waktu Revolusi Sosial dijaga oleh tentara British-Indian Divisi ke-27).
  3. Hak istimewa masyarakat Melayu, seperti hak atas tanah adat (Ulayat/Jaluran) telah pupus dan diduduki masyarakat suku/etnis lain, yang di tahun 1946-1954 disponsori oleh kaum komunis (BTI/Sarbupri).
  4. Masyarakat Melayu sudah menjadi minoritas di negeri sendiri (11%).
  5. Masyarakat Melayu susah duduk di dalam pemerintahan dan instansi sipil/militer
  6. Mereka terdesak didalam lapangan pendidikan dan mata pencaharian sehingga tergolong masyarakat miskin.

   Karena trauma tragedi Revolusi Sosial 1946 banyak yang takut mengaku Melayu.

Oleh sebab itulah masa periode 1975-2000 mulai timbul kesadaran kepada orang-orang tua untuk menyelamatkan Adat-Budaya Melayu karena takut kehilangan Jatidiri Melayu untuk generasi muda yang akan datang. Berdirilah organisasi bercorak seni-budaya seperti: Lembaga Kebudayaan Melayu (LKM) dan Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI), tahun 1972. Bermula untuk kegiatan kesenian (music & dance group) yang nampaknya digemari secara nasional. Berbagai seminar budaya diadakan tetapi sebaliknya banyak terjadi pengkhianatan dan perpecahan dengan berdirinya splinter groups yang memakai nama seni budaya Melayu juga. Mendekati awal abad ke-21, orang tua-tua masa kegemilangan Kerajaan Melayu sudah meninggal dunia dan kini keturunan raja/bangsawan terdiri atas anak-anak muda yang sama sekali tidak pernah lagi mengenal adat-istiadat berraja.

Ketika saya menjadi Presiden “Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia” (MABMI, 2000-2004), saya gerakkan usaha sosialisasi di kalangan generasi muda untuk bangga dengan tingginya seni-budaya dan peradaban Melayu di dunia dengan berbagai seminar dan tatap muka. Menggerakkan popularitas menggunakan pakaian Melayu pada upacara (perkawinan/rapat). Disponsori menggunakan upacara adat Melayu dalam acara perkawinan (upacara Meminang Pengantin, Upacara Bersanding, Tepung Tawar dan Balai Upacara Berinai, lomba berpantun dan lain-lain).

Periode 1990-2000 adalah era membangkitkan kesadaran sebagai putera Melayu, meninggalkan sikap fatal berserah diri saja; rasa rendah diri mengatasi cemoohan orang luar bahwa “Melayu Malas”atau ”Melayu Bodoh” dan sikap pesimis untuk berjuang di bidang pendidikan dan usaha kreatif. Lalu timbullah kesan dari kalangan muda, harus ada pedoman yang satu tentang adat-istiadat Melayu yang kini sudah luntur dan dipengaruhi oleh adat etnis lain dan pengaruh asing karena faktor globalisasi melalui film dan televisi.

Digerakkanlah, khususnya di daerah bekas wilayah Kerajaan Serdang (Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Serdang Bedagai), bahwa di zaman Kerajaan, Adat-Istiadat-Adat yang Diadatkan jika ada pelanggaran oleh Sultan dikenakan sanksi yang berupa sanksi pidana seperti hukuman penjara atau hukuman buang ke luar negeri atau hukuman mati dan Sangsi Sosial (Social sanction) seperti menyatakan bersalah akan sikapnya diiringi kenduri kepada masyarakat kampungnya. Jika itu tidak dilaksanakan oleh pelanggar maka ia akan dikucilkan dari kehidupan bersama.

Karena pemerintahan Kerajaan di Indonesia sudah tidak ada lagi dalam Republik Indonesia ini, maka harus dilanjutkan kembali fungsi pribadi Raja dan Orang Besarnya sebagai Penguasa Adat–Istiadat (pengawal, pengatur dan salah satu unsur adat itu). Pepatah Melayu mengatakan “Biar mati anak daripada mati adat, mati anak gempar sekampung, mati adat gempar sebangsa. Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah”. Maka oleh masyarakat Melayu Serdang didukung oleh berbagai organisasi Melayu (MABMI, GAMI, LKM dan lain-lain), maka pada tahun 1997 ditegakkanlah kembali institusi Orang Besar (4 Wazir) diambil dari turunan mereka yang dahulu. Maka para Wazir dan Kepala adat negeri-Luhak itu bermusyawarah dan mengangkat kembali Tuanku Kepala Adat Kesultanan Serdang.

Fungsi Sultan sebagai Kepala Adat tidak dihapuskan Pemerintah Republik Indonesia selagi masih ada masyarakat adat Serdang sebagai pendukungnya. Karena istana Serdang sudah habis terbakar, maka upacara penabalan putera Sultan Sulaiman alm. diadakan di lapangan Perbaungan yang dihadiri oleh lebih 1000 orang utusan dari daerah dan kampung-kampung dan tokoh masyarakat. Pertama diangkat Tuanku Abunawar Sinar bin Sultan Sulaiman Syariful Alamshah, setelah mangkat

Di tahun 2002 lalu saya adindanya dipilih oleh Orang Besar untuk pengganti sampai sekarang.

Untuk melestarikan adat-istiadat Melayu Serdang, maka saya mengadakan gerakan sebagai berikut :

  1. Mengumpulkan kembali seluruh arsip Kerajaan Serdang yang dapat diselamatkan.
  2. Wawancara dengan orang tua-tua mengenai adat-istiadat masa Kerajaan Serdang masih ada.
  3. Mengadakan Konvensi Adat-Budaya Melayu Kesultanan Serdang dan dihadiri oleh utusan dari distrik di Serdang/para budayawan/sejarahwan dari perguruan tinggi dan menyusun adat-istiadat yang lama dan yang kini berkembang baru (sesuai pepatah adat “Sekali air bah, sekali tepian berubah”), sama disahkan dalam Konvensi di Perbaungan tanggal 27-28 Juli 2007.
  4. Menabalkan tokoh-tokoh di setiap kecamatan yang dipilih masyarakat yang dianggap sadar adat-budaya, berkelakuan baik, berpengaruh dan berpenghasilan, diangkat menjadi Datuk Penghulu Adat.
  5. Menyerahkan kepada Datuk Penghulu Adat dan Orang Besar buku hasil Konvensi tanggal 28-29 Juli 2007 sebagai pegangan dan untuk sosialisasi kepada masyarakat dan generasi muda.
  6. Menyerahkan buku hasil Konvensi Adat-Budaya Melayu Kesultanan Serdang kepada Menteri Kehakiman-HAM untuk diberi Hak Paten.
  7. Menyerukan kepada pemerintah di kecamatan agar Datuk Penghulu Adat dijadikan mitra (partner) dalam masaalah adat-budaya Melayu.
  8. Menginstruksikan kepada Datuk Penghulu Adat agar melaksanakan upacara-upacara adat Melayu seperti “Jamu Laut”,“Jamu Sawah”, Perayaan Islam di Mesjid, dan lokakarya di daerahnya, dihadiri dan diberkati oleh Tuanku Kepala Adat Kesultanan Serdang.
  9. Mengadakan tuntutan Tanah Konsesi (Ulayat/adat).
  10. Membantu agar keluarga Kesultanan Asahan, Langkat, dan Deli bangkit kembali dan harus dekat dengan rakyatnya, terutama angkatan muda.

Demikianlah perjuangan kami untuk menegakkan petuah kuno adat nenek moyang kita “Ada Raja Adat berdiri, Tiada Raja Adat Mati” dan “Biar mati anak daripada mati Adat. Mati anak gempar sekampung, mati adat gempar sebangsa”!  Indonesia adalah sebuah Republik Demokratis dan perlakuan terhadap semua etnis groups adalah sama berdasarkan azas Pancasila. Oleh sebab itu, membangkitkan kembali kesadaran adat beraja di kalangan masyarakat Melayu yang minoritas miskin terbelakang terpengaruh oleh pornograficaction dan narcotics di Sumatera Timur adalah perjuangan cukup berat, hanya didukung biaya pribadi sendiri.

Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, SH, Pemangku Adat Kesultanan Serdang

 Referensi:

  1. C.O. Blagden, 1925. “An Unpublished Variant Version of the Malay Annals”, JMBRAS III part I,  p. 31-39.
  2. DR. A.C. Milner, “The Malay Raja: A Study of Malay Political Culture in East Sumatra and The Malay Peninsula in the early 19th Century”, 1977-Chapter VII.
  3. “Ming Shih”, p. 7919.
  4. J.P. Moquette, “De grafsteen te Pase en Grisee” & “De Eerste Vorsten van Samudr-Pase”.
  5. John Anderson, 1824. Mission to the Eastcoast of Sumatra, Edinburg.
  6. L. Hambis (ed.), 1955. Marco Polo La description du Monde, Paris.
  7. Ma Huan, 1451. “Yin-Ya-Sheng-Lan”.
  8. Mahkota Adat dan Budaya Melayu Serdang”, Hasil Konvensi Adat dan seni Budaya Melayu Kesultanan Serdang, 28-29 Juli 2007, Perbaungan. Medan: Yayasan Kesultanan Serdang.
  9. “Mengenang Kewiraan Pemuka Adat dan Masyarakat Adatnya di Sumatera Utara Menentang Kolonial Belanda”, dalam FORKALA SU., Medan, 2007, p. 72-86.
  10. R.O. Winstedt, 1938. “The Cronicle of Pasai”, JMBRAS XVI, pt. II, p. 24-25
  11. Raffles, Malay MS8, London: Royal Asiatic Society,
  12. “Shin Cha Sheng Lan”, Chapter 2, p. 27.
  13. Tengku Luckman Sinar,  “Mahkota Adat dan Budaya Melayu Serdang”, Konvensi Adat-Seni-Budaya Melayu
  14. Tengku Luckman Sinar, “Sari Sejarah Serdang”, 1970.
  15. Tengku Luckman Sinar, 1977. “The Kingdom of Haru and The Legend of ‘Puteri Hijau’, dalam Seminar IAHA Conference ke-7, Bangkok-Thailand.
  16. Tengku Luckman Sinar, 2005. Kronik Mahkota Kesultanan Serdang. Medan: Yandira Agung Medan.
  17. Tengku Luckman Sinar, 2007. Jatidiri Melayu. Medan: Yayasan Kesultanan Serdang, p. 8-9.
  18. Tun Seri Lanang, 1997. Sejarah Melayu. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan dan Dewan Bahasa dan Pustaka.
  19. W.H.M. Schadee, “Geschiedenis van Sumatra’s Oostkust”, I, Amsterdam 1918.
  20. W.H.M. Schadee, 1918. Geschiedenis van Sumatra Oostkust.
  21. Yule, “Marco Polo”, II, p. 242.

Dibaca : 4559 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar