English Version | Bahasa Indonesia

Prasasti / Batu Bersurat

Prasasti Balai Pertemuan

Prasasti Balai Pertemuan berada satu kompleks dengan Makam Opu Daeng Menambon di Sebukit Rama. Prasasti ini ditemukan pada tanggal 29 Agustus 2008 secara tak sengaja oleh dua orang peziarah, yaitu Ruslan (28) dan Mulyono (28). Kedua penemu kemudian melaporkannya kepada juru kunci Makam Opu Daeng Menambon.

Prasasti ini dinamakan Balai Pertemuan karena bentuk (susunan) batu menyerupai bentuk layaknya balai pertemuan. Prasasti ini berbentuk batu melebar sepanjang kurang lebih 36 meter dan tinggi sekitar dua meter. Pada prasasti ini tergurat deretan tulisan yang membentang di sepanjang balai. Menurut perkiraan awal, tulisan tersebut merupakan huruf Pallawa. Dugaan ini dikuatkan dengan argumen bahwa huruf yang terdapat pada Prasasti Balai Pertemuan mempunyai kemiripan dengan huruf Pallawa yang juga ditemukan pada Kolam Batu Berbentuk Teratai di bagian lain pada Kompleks Makam Opu Daeng Menambon.

Huruf yang terukir pada prasasti menyerupai bentuk mahkota dan  burung Garuda. Simbol ini merupakan wujud pemuja Dewa Wisnu karena garuda merupakan wahana (kendaraan) Dewa Wisnu dalam kepercayaan agama Hindu. Berdasarkan penemuan tersebut, maka Prasasti Balai Pertemuan kemungkinan dibuat pada masa Kerajaan Majapahit. Kemungkinan tersebut dikuatkan dengan beberapa argument, pertama, Kerajaan Bangkule Rajakng, yang menjadi pendahulu berdirinya Kerajaan Mempawah, telah menjalin hubungan dengan Kerajaan Majapahit ketika diperintah oleh Patih Gumantar pada tahun 1380 Masehi. Kedua, agama Hindu telah menjadi agama negara di Kerajaan Majapahit, sedangkan kerajaan dengan agama Hindu yang tercatat pernah menjalin hubungan dengan Kerajaan Bangkule Rajakng adalah Kerajaan Majapahit.

Versi lain menyebutkan bahwa Prasasti Balai Pertemuan dibuat oleh Syeh Maulana Malik Ibrahim ketika agama Islam ke Kalimantan bersama bersama dengan ulama besar lainnya. Ketika menyebarkan agama Islam tersebut, banyak ulama yang kecewa karena kondisi moral umat manusia telah mengalami penurunan. Akhirnya para ulama memutuskan untuk membuat prasasti sebagai peringatan.

Dibaca : 1739 kali
« Kembali ke Koleksi

Share

Form Komentar