English Version | Bahasa Indonesia

Kearifan Lokal dan Intelektual Berpadu di Mempawah

22 Februari 2011 15:06


Oleh Tunggul Tauladan

Agenda pertama tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) hari Selasa, tanggal 1 Februari 2011, adalah ziarah ke Makam Opu Daeng Menambon yang terletak di Sebukit Rama, Mempawah, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Prosesi ziarah ini merupakan salah satu rangkaian dalam upacara Robo-robo.

Opu Daeng Menambon Sang Pluralis

Opu Daeng Menambon dikenal sebagai seorang tokoh pluralis sekaligus pemimpin Islam pertama Kerajaan Mempawah. Beliau dimakamkan di Sebukit Rama yang berjarak sekitar 5 Km dari Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir. Sebukit Rama bisa ditempuh dengan menggunakan kapal dari Istana Amantubillah di Pulau Pedalaman dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Sekitar pukul 07.30 WIB, Raja Mempawah Pangeran Ratu Mulawangsa, memimpin rombongan dari Istana Amantubillah untuk memulai ziarah ke Sebukit Rama. Tampak hadir dalam rombongan ini antara lain Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Mahyudin Al Mudra SH. MM., dan Perdana Menteri Kesultanan Kutai Kartanegara, Adji Hary gelar Haji Adji Pangeran Gondo Perawiro.


Raja Mempawah ditemani oleh Permaisuri dan Pemangku BKPBM, Mahyudin Al Mudra SH. MM. berjalan menuju ke kapal di anak sungai Mempawah

Perjalanan antara Istana Amantubillah ke Sebukit Rama ditempuh dengan naik kapal menyusuri Sungai Mempawah. Selama menempuh perjalanan dilakukan ritual adat, seperti prosesi buang telur di tujuh tanjung yang diiringi dengan musik tar dan suling serta mengumandangkan adzan ketika memasuki daerah yang dinamakan Keramat Jin yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya makhluk halus.


Iring-iringan kapal rombongan Raja Mempawah dari Istana Amantubillah menuju Sebukit Rama

Sekitar pukul 08.30 WIB, rombongan Raja Mempawah sampai di Sebukit Rama. Di tempat ini, rombongan Raja Mempawah disambut oleh musik tarling, beras bertih, dan beras kuning. Di tempat ini juga telah menunggu jajaran Muspida Kabupaten Pontianak, Bupati Pontianak Drs. H. Ria Norsan, MM. MH., serta utusan dari Kerajaan Bone, Luwu, Gowa.

Sebelum naik ke makam Opu Daeng Menambon, rombongan raja singgah sejenak di sebuah pendopo. Kondisi kesehatan raja yang kurang sehat tampaknya tidak mendukung aktivitas menuju makam yang harus melewati 263 anak tangga. Raja Mempawah akhirnya mewakilkan kepada kedua putranya, yaitu Putra Mahkota Gusti Mohammad Hafizh Adinugraha, ST, bergelar Pangeran Wirabuana dan Gusti Mohammad Hakim Adiprasetya bergelar Pangeran Jayakerta untuk menemani rombongan menuju makam Opu Daeng Menambon.


Para peziarah di Sebukit Rama

Makam Opu Daeng Menambon selalu menarik untuk diziarahi mengingat kiprah beliau yang dikenal sebagai peletak harmonisasi keragaman etnis di Mempawah. Opu Daeng Menambon telah memberikan contoh tentang keharmonisan antara etnis Bugis, Melayu, Dayak, Jawa, dan Cina. Nilai pluralitas inilah yang berusaha tetap dipertahankan oleh generasi yang kini memimpin Kerajaan Mempawah.

Seminar Budaya Pariwisata: “Menjual” Mempawah


Agenda kedua kami hari ini adalah mengikuti Seminar Budaya Pariwisata. Seminar yang dihelat sekitar pukul 10.00 WIB ini juga merupakan salah satu rangkaian dalam acara Robo-robo. Seminar Budaya Pariwisata Kabupaten Pontianak dilaksanakan di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Pontianak, dengan mengambil tema, “Melalui Seminar Budaya, Kita Tingkatkan Pariwisata Kabupaten Pontianak”.

Terdapat 5 pemakalah dalam seminar ini, antara lain: Raja Mempawah, Pangeran Ratu Mulawangsa Dr. Ir. Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, M.Sc.; Permaisuri Kerajaan Mempawah, Sinuhun Ratu Kencana Wangsa, Dr. Ir. Arini Mariam, M.Sc.; Bupati Kabupaten Pontianak, Drs. H. Ria Norsan, MM. MH.; Dato Sri Paduka Astana Johanes Robini Marianto, O.P.; dan Pemangku BKPBM, Pangeran Nata Waskita Mahyudi Al Mudra, SH, MM. Moderator dipercayakan kepada Ketua DPRD Kabupaten Pontianak, H. Rahmad Satria, SH, MH.


Para pemakalah di Seminar Budaya Pariwisata. Searah jarum jam dari atas ke bawah: Pangeran Ratu Mulawangsa Dr. Ir. Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, M. Sc., Sinuhun Ratu Kencana Wangsa Dr. Ir. Arini Mariam, M. Sc., Drs. H. Ria Norsan, MM. MH., Dato Sri Paduka Astana Johanes Robini Marianto, O.P., dan Pangeran Nata Waskita Mahyudi Al Mudra, SH. MM. (Gambar tengah)

Dalam seminar ini, Sinuhun Ratu Kencana Wangsa menyampaikan tentang pembangunan kampung wisata adat budaya Kraton Amantubillah. Pangeran Ratu Mulawangsa memaparkan tentang pentingnya payung hukum untuk melegitimasi adat istiadat maupun ritual budaya yang telah diagendakan, misalnya tentang hutan wisata di sepanjang Sungai Mempawah.

Pemakalah lain yaitu Pangeran Nata Waskita Mahyudi Al Mudra, SH, MM, yang memaparkan tentang pelestarian budaya sekaligus kiat-kiat yang harus dilakukan untuk melestarikannya. Salah satu kiat yang ditawarkan adalah pentingnya membuat ikon pariwisata bagi Mempawah yang ikonik, khas, dan memiliki nilai, baik nilai budaya maupun sejarah.

Dato Sri Paduka Astana Johanes Robini Marianto, O.P., memaparkan tentang perlunya mengkreasikan wisata khas Mempawah dengan contoh yang telah ada pada daerah pariwisata yang telah mapan. Sedangkan pembicara terakhir yaitu Drs. H. Ria Norsan, MM. MH., menyampaikan tentang publikasi dan pembangunan, baik fisik maupun mental, agar Mempawah lebih dikenal dan siap menampung para wisatawan yang berkunjung.

Pemikiran para pemakalah pada dasarnya mengerucut pada satu hal, yaitu mencari cara agar Mempawah bisa “dijual” dalam suatu paket wisata. Kekayaan Mempawah yang beragam mulai dari budaya, adat, hingga alam berupa sungai, hutan, bukit, hingga pantai, sebenarnya sangat layak untuk dijadikan komoditas pariwisata. Hanya saja, komoditas tersebut perlu dibungkus dengan kearifan lokat berupa adat resam dan legitimasi dari pemerintah agar bisa tetap membumi dan resmi (legal formal).  

Tunggul Tauladan, Peneliti Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Redaktur www.KerajaanNusantara.com

Sumber Foto:

Aam Ito Tistomo dan Fajar Kliwon


Dibaca : 2663 kali
« Beranda kerajaan

Share

Form Komentar