English Version | Bahasa Indonesia

Si Untak

Pendahuluan

“Si Untak” adalah tradisi lisan yang berasal dari daerah Tutong. Cerita ini berkisah tentang seorang anak yang berubah menjadi batu akibat durhaka terhadap ibunya. Kisah “Si Untak” menyisipkan pesan moral yang sama sebagaimana terkandung dalam cerita seperti, “Nahkoda Manis”, “Si Tanggang”, dan “Malin Kundang”

***

Alkisah, pada zaman dahulu kala tersebutlah seorang saudagar kaya raya yang berasal dari Kampong Tanjong Maya.* Saudagar ini mewariskan harta yang berlimpah kepada istrinya yang bernama Matanah dan anaknya yang bernama Si Untak.

Harta yang berlimpah tidak selamanya dinikmati oleh sang saudagar. Oleh karena sudah lanjut usia, maka mautpun menjemput sang saudagar. Usai meninggal, sang putera, Si Untak bermaksud melanjutkan pekerjaan sang ayah sebagai saudagar. Maka setelah meminta izin ibunya, Si Untak pergi berlayar ke Laut Jawa sebagai seorang saudagar.

Ketika mengarungi lautan luas, Si Untak berjumpa dengan seorang puteri yang cantik jelita. Puteri ini timbul dari dalam buih air laut. Kecantikan sang puteri membuat Si Untak jatuh hati. Akhirnya, Si Untak menikah dengan sang puteri.**

Si Untak Pulang Ke Tutong

Kepergian Si Untak sebagai saudagar ternyata telah berlangsung sangat lama. Sang ibu sangat merindukan buah hatinya. Hari demi hari tak pernah berhenti dia berharap agar sang putera satu-satunya tersebut segera pulang.

Berbagai cara telah dilakukan oleh sang ibu untuk bertemu dengan sang buah hati, mulai dari berdoa setiap hari hingga menghabiskan harta untuk ongkos pencarian Si Untak. Kini istri saudagar yang dulu pernah kaya raya ini telah jatuh miskin.

Pada suatu hari, doa dan pencarian sang ibu menemui hasil. Tersiar suatu kabar bahwa Si Untak telah kembali melalui Sungai Tutong. Tanpa pikir pajang, si ibu segera mendayung sampan untuk berjumpa dengan buah hati tercinta yang telah lama tak bersua.

Kerinduan yang telah memuncak membuat sang ibu berteriak-teriak memanggil Si Untak setelah sampan yang dinaiki sang ibu telah dekat dengan kapal Si Untak. Si Untak yang merasa namanya dipanggil akhirnya keluar dari kapal dan mencari sumber suara. Di luar kapal, Si Untak melihat seorang perempuan tua yang lusuh pakaiannya berteriak-teriak memanggil nama Si Untak.

Gembira hati sang ibu melihat anaknya telah pulang. Didekatinya sang buah hati dan ditanya, “Nak apakah kau masih mengenali ibumu ini”. Melihat orangtua dan mengenakan pakaian lusuh, terbit dalam diri Si Untak rasa malu meskipun sebenarnya dalam hati kecilnya masih mengenali sosok sang ibu.

Sang ibu berusaha menjelaskan bahwa dirinya kini telah jatuh miskin akibat seluruh harta bendanya digunakan untuk ongkos pencarian Si Untak. Namun bukannya iba melihat orangtua tersebut, Si Untak justru mengatakan bahwa ibunya telah meninggal dua tahun yang lalu.

Tanpa putus asa, sang ibu kembali menjelaskan, membujuk, dan merayu Si Untak untuk mengakui bahwa perempuan di depannya ini adalah ibunya. Rayuan demi rayuan tak jua meruntuhkan sikap keras hati Si Untak yang lebih menuruti rasa malu daripada mengakui ibunya. Hingga tiga kali sang ibu membujuk Si Untak, namun Si Untak tetap tak bergeming.

Anak durhaka ini bahkan memerintahkan kepada anak anak buahnya untuk menjauhkan sampan buruk ibunya menjauh dari kapal yang dinaiki Si Untak. Akhirnya dengan perasaan yang hancur melihat anaknya telah durhaka, sang ibu meninggalkan Si Untak.

Doa Sang Ibu

Perasaan sedih dan hati yang pedih dibawa oleh sang ibu menjauh dari kapal Si Untak. Hingga di sebuah tempat, sang ibu berdoa kepada Tuhan agar menghukum anaknya yang durhaka. Air mata yang terus bercucuran tiada henti mengiringi doa sang ibu.

Tuhan mengabulkan doa sang ibu. Tiba-tiba muncul angin ribut yang melanda kapal Si Untak. Angin inilah yang menyadarkan Si Untak bahwa perbuatannya telah salah dan berusaha meminta ampunan. Namun, doa telah terucap dan tak kuasa ditarik kembali. Anak duhaka beserta isteri dan seluruh anak buahnya ini tiba-tiba berubah menjadi batu dan tenggelam bersama dengan kapal mewahnya ke dasar Sungai Tutong. Si anak durhaka telah menerima akibat perbuatannya.

Batu Si Untak

Ratusan tahun setelah kisah Si Untak ini berlalu, beberapa orang penduduk kampung secara tidak sengaja menemukan sebuah batu berbentuk menyerupai kucing di tempat kejadian Si Untak tenggelam. Batu tersebut kemudian dibawa ke darat.

Semenjak kejadian pengambilan batu, Pekan Tutong sering dilanda hujan lebat dan banjir. Atas saran “orang pintar” batu yang menyerupai kucing tersebut diminta untuk dikembalikan ke tempatnya semula. Tak lama setelah batu tersebut dikembalikan, atas izin Tuhan hujan lebat dan banjir yang melanda Pekan Tutong reda.

Batu yang menyerupai kucing tersebut dipercaya sebagai kucing peliharaan Si Untak. Selain kucing, Si Untak dipercaya memelihara ayam yang juga turut serta menjadi batu. Ayam itu konon berada di atas kapal Si Untak.

Kejadian lainnya berlangsung ketika Pekan Tutong mulai dibangun. Ketika itu, batu untuk pembangunan sukar dicari. Mandor pembangunan akhirnya memerintahkan untuk mencari batu di Sungai Tutong.

Para pencari batu akhirnya menemukan batu di sekitar kejadian tenggelamnya Si Untak dan membawanya untuk dijadikan bahan baku pembangunan. Kejadian aneh terjadi ketika batu Si Untak dipecah. Dari dalam batu keluar darah dan seketika para pekerja menderita penyakit misterius.

Akhirnya atas saran “orang pandai” para pekerja diminta untuk mengembalikan batu Si Untak ke tempatnya semula. Atas izin Tuhan, setelah batu dikembalikan, para pekerja sembuh dari penyakitnya.

Sekitar tahun 1940-an, batu kapal Si Untak, batu yang berujud orang dan dipercaya merupakan Si Untak, batu yang menyerupai kucing, dan batu yang menyerupai ayam masih bisa disaksikan. Namun sekarang yang kelihatan hanya batu bagian belakang kapal Si Untak saja.

Pesan Moral

Berbagai hal seringkali membuat kita seakan malu mengakui orangtua ketika kita telah mencapai kesuksesan. Padahal orangtua adalah sosok yang sangat penting dan berpengaruh terhadap keberhasilan kita.

Kisah Si Untak adalah contoh bahwa durhaka terhadap orangtua bukan pilihan bijaksana. Seburuk apapun orangtua, mereka adalah orang yang melahirkan, merawat, membesarkan, dan membimbing kita. Kita patut menghormati dan menempatkan orangtua di tempat yang sangat mulia, karena sebagaimana dalam sebuah hadist dikatakan bahwa, “Surga berada di bawah telapak kaki ibu”.   

 

* Beberapa orang mengatakan bahwa saudagar tersebut berasal dari Kampong Telting

** Versi lain menyebutkan bahwa sebenarnya Si Untak menikah dengan seorang puteri raja di sebuah pulau yang disinggahinya. Pulau tersebut terletak di antara Pulau Kalimantan dan Sumatera. Puteri tersebut bernama Radin Sopatri.

Dibaca : 1878 kali
« Kembali ke Kesusastraan

Share

Form Komentar