English Version | Bahasa Indonesia

Sri Susuhunan Pakubuwono V yang Eksentrik

May 09, 2011 08:57


Serat Centhini atau Suluk Tambangraras tidak bisa dipisahkan dari sosok Sri Susuhunan Pakubuwana V, raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat Surakarta Hadiningrat yang bertahta pada periode 1820-1823. Bukan hanya karena isi dari serat tersebut yang menunjukkan gaya penuturan kontemporer (pada zamannya), melainkan juga kandungan isi serta cakupannya. Dalam salah satu catatan, Pakubuwana V juga memerintahkan ditulisnya Serat Centhini berdasarkan pengalaman pribadinya, semasa menjabat Adipati Anom. Waktu itu, yang menjadi juru tulis naskah populer ialah Raden Rangga Sutrasna, abdi juru tulisan kadipaten kepangeranan. Secara kreatif, beliau menggabung antara fakta dan fiksi, menyusun sebuah data entri namun dengan teknis penulisan naratif. Lebih dari itu, beliau bukan hanya menggagas, melainkan bahkan menuliskannya sendiri. Suluk Tambangraras digagas ketika sang raja masih sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III, putera mahkota dari Sri Susuhunan Pakubuwana IV. Sang putra mahkota berusia 29 tahun ketika memulai penulisan Serat Centhini pada tahun 1814.

Pakubuwana V juga dikenal dengan sebutan Sunan Sugih, yang artinya “Raja yang Kaya”. Kaya harta dan kaya kesaktian. Namun sayangnya, usia kekuasaannya hanyalah pendek. Pada tahun 1823 beliau mangkat setelah Suluk Tambangraras diselesaikannya. Pakubuwana V hanya memerintah selama tiga tahun, namun sangat fenomenal. Sewaktu kecil, beliau bernama Raden Mas Gusti Sugandi, lahir dari permaisuri Pakubuwana IV. Pada usia 7 tahun (1792), RMG Sugandi diangkat sebagai putera mahkota, dengan nama baru KGPAA Amengkunegara III. Ibunya asli Madura bernama Raden Ajeng handaya, puteri dari Panembahan Cakraningrat V di Pamekasan. Sejak kecil RMG Sugandi mendapat perhatian lebih dari ayahnya dan disekolahkan untuk menyerap berbagai pengetahuan. Beberapa karya lain dari Amengkunegara III di antaranya adalah:

(1)   Dhuwung atau keris. Salah satu keris buatan Pakubuwono V dinamakan Kyai Kaget karena sang ayah kaget melihat keris karya anaknya itu. Keris pusaka itu berasal dari pecahan meriam pusaka Kyai Guntur Geni. Sementara yang satunya dinamakan Kyai Brajaguna, mengambil nama dari empu yang membuat keris tersebut. Ada lagi keris karyanya yang cukup aneh, karena berukuran besar dan panjang.

(2)   Perahu yang dalam ukuran zaman itu termasuk besar. Di ujung depan terpasang ukiran kayu berbentuk kepala raksasa bernama Arya Rajamala. Ukurannya besar dan ujudnya mengerikan. Itulah sebabnya kapal itu dinamakan Kyai Rajamala. Patung Rajamala masih tersimpan di Museum Radya Pustaka. Perahu ini sering dipakai untuk plesiran menyusuri Bengawan Solo. Untuk iringan perjalanan Rajamala ini, Amengkunegara III juga menciptakan gending irama Rarasmadya berupa lelaguan singiran (syair pesisiran).

(3)   Beksan Serimpi dengan 4 penari puteri berpakaian prajurit dan dilengkapi senjata. Ini menyimbolkan bahwa sang pencipta adalah anak dari seorang ibu yang berdarah prajurit (Madura). Tarian ini diiringi dengan gamelan berjudul Ludiramadu (Madu Darah), tetapi juga sering diartikan “darah Madu-ra”, daerah asal ibu Amengkunegara III).

(4)   Beksan Penthul dengan iringan gendhing Loro-loro (alias sepasang) yang melambangkan bahwa hidup ini terdiri berpasangan, yakni susah dan senang, yang tak bisa diingkari.

(5)   Memperkenalkan gendhing-gendhing gamelan Sekaten yang semula hanya dua jenis, yakni Kyai Gunturmadu (warisan dari Sultan Agung) dengan lagi Rambu, diubah oleh dengan melanjutkannya ke Gambirsawit. Pada gamelan Kyai Guntursari (Pakubuwono IV) dengan gending Rangkang diteruskan ke Bondhet dengan cara menabuh bonang bersahutan.

Sedangkan mengenai Serat Suluk Tambangraras (Serat Centhini) menunjukkan pengetahuan Sang Pangeran akan kebudayaan Jawa. Bukan hanya Serat Centhini, ia juga memerintahkan pujangga kadipaten bernama Raden Ngabei Rangga Sutrasna agar mengubah kidungan yang berisi nama-nama roh halus (jin, setan, dan lain-lain) yang ada di Surakarta dan bahkan di seluruh Jawa.

Salah satu keeksentrikan dari sang pangeran, ialah ketika ia membuat uang emas cap jago kate, yang kemudian ia sebarkan ke masyarakat luas. Padahal, oleh Belanda, raja Jawa sama sekali tidak boleh membuat atau mencetak uang. Karena mendengar bahwa Surakarta kekurangan duit, sang Pangeran berinisiatif membuat uang emas. Sang Pangeran juga memerintahkan menjual barang-barang keraton untuk menutup pengeluaran istana, dan itu dilakukannya tanpa izin sang ayah. Akibatnya, sang Pangeran dipanggil ke Gubernemen Hindia Belanda di Semarang. Pemerintah kolonial memerintahkan agar uang emas ditarik dan barang-barang yang beredar di masyarakat dilebur. Sang Pangeran menyanggupi, namun ia minta Gubernemen mencukupi kebutuhan keuangan kerajaan. Hasilnya, sang Pangeran lolos dari dakwaan, dan kerajaan mendapat gelontoran duit. Karena itulah, sang Pangeran, yang kemudian menjadi Raja Surakarta (disebut-sebut sebagai Sunan Sugih, karena kekayaan ekonomi kerajaan waktu itu), disebut juga sebagai seniman, sastrawan, budayawan, ahli kebatinan di samping sebagai pujangga dan ahli ketatanegaraan.

Sumber:

http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3591&type=9

Foto:

http://www.blomada.com/berita-255-serat-centhini-karya-sastra-jawa-kuno-abad-ke19.html


Read : 1581 time(s)
« Kingdom home

Share

Comment Form