English Version | Bahasa Indonesia

Benteng

Benteng Baluwarti Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Benteng yang mengelilingi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat disebut dengan nama Benteng Baluwarti. Kini, wilayah di dalam benteng itu telah menjadi nama sebuah kelurahan yang berada di dalam wilayah administratif Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta. Bagi sebagian besar masyarakat asli Solo, Kelurahan Baluwarti dianggap istimewa karena wilayahnya berada di dalam lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Istilah “baluwarti” sendiri berasal dari bahasa Portugis, yakni baluarte, yang berarti “benteng”. Wilayah Baluwarti terletak di lingkaran kedua setelah kawasan Kedhaton (lingkungan inti istana) yang berada di antara 2 tembok tebal dengan ukuran 2 meter dan tinggi 6 meter.

Wilayah di luar tembok yang mengelilingi istana utama Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini menjadi kawasan pemukiman yang didiami oleh para pangeran, kerabat keraton, dan abdi dalem. Wilayah Baluwarti memiliki dua buah pintu gerbang yang disebut Kori Brajanala Utara dan Kori Brajanala Selatan. Kedua pintu gerbang ini dihubungkan oleh 2 jalur jalan yang sejajar dengan tembok yang mengelilingi wilayah kedhaton. Pintu gerbang Kori Brajanala Utara dibangun pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono III, tepatnya pada tahun 1744 sebagai pintu utama masuk ke wilayah dalam benteng Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pada era kepemimpinan Sri Susuhunan Pakubuwono III tersebut, Kori Brajanala Utara selalu mendapat perhatian khusus dalam hal keamanannya karena pintu ini merupakan akses utama untuk masuk ke dalam area istana utama. Pada waktu itu, Sri Susuhunan Pakubuwono, menempatkan 8 orang abdi dalem untuk menjaga Kori Brajanala Utara.

Tugas para abdi dalem penjaga yang dinamakan abdi dalem Keparak Pecaosan itu dibagi menjadi 2 bagian, yakni 2 orang untuk berjaga di sebelah dalam dan 2 orang untuk berjaga di sebelah luar pintu gerbang. Masing-masing sisi dalam dan luar juga dibagi menjadi 2, yakni 2 penjaga gardu kiri dan 2 penjaga gardu kanan yang masing-masing bertugas hingga pukul 4 dini hari. Tugas penjagaan ini disebut dengan istilah Kemit Bumi. Namun, pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono IX, abdi dalem Keparak Pecaosan yang bertugas menjaga Kori Brajanala Utara dikurangi menjadi 2 orang. Pintu gerbang Kori Brajanala Utara sendiri terbuat dari kayu jati yang diambil dari hutan Donoloyo di Wonogiri. Bangunan atap berbentuk Joglo Semar Tinandhu. Terdapat juga pos penjaga yang ditempatkan di sebelah timur gerbang bagian atas yang dilengkapi dengan lonceng.

Ukuran pintu gerbang Kori Brajanala adalah setinggi 7 meter dan lebar 5 meter dengan polesan cat berwarna biru langit yang menjadi simbolisasi penolak bala dalam kepercayaan masyarakat Jawa. Hingga kini, pada setiap malam Jumat dan Selasa Kliwon, Kori Brajanala Utara dan Kori Brajanala masih diberi sesaji sebagai penghormatan kepada “penunggu” pintu gerbang tersebut. Saat ini, sejak pukul 21.00 (jam 9 malam) pintu Kori Brajanala Utara selalu ditutup demi keamanan lingkungan dan baru dibuka saat pagi hari. Namun, masyarakat masih dapat keluar masuk apabila keadaan mendesak.

Pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X, atau pada awal tahun 1900, luas wilayah kawasan Baluwarti diperluas dan ditambahkan 2 pintu yang ditempatkan di sebelah tenggara dan sebelah barat daya. Pintu yang pertama diresmikan pada tahun 1906 dan pintu yang kedua diresmikan setahun kemudian. Dengan penambahan dua pintu ini, orang-orang yang tinggal di kawasan Baluwarti dapat lebih leluasa berhubungan dengan masyarakat yang ada di luar tembok kedhaton.

Pada mulanya, kawasan Baluwarti hanya dihuni oleh keluarga keraton dan abdi dalem Kasunanan Surakarta Hadiningrat saja. Di kawasan pemukiman khusus ini, dapat diketahui status sosial para penghuninya dengan melihat bentuk rumah dan alat-alat perabotannya. Secara garis besar, rumah-rumah yang ada di kawasan Baluwarti dapat digolongkan menjadi 3 kelompok. Pertama adalah jenis rumah tradisional Jawa berbentuk joglo lengkap dengan pendapa, peringgitan, dalem ageng, ditambah dengan deretan bangunan pendukung di kanan dan kirinya, bahkan kadang-kadang juga di depan bangunan utama. Pada umumnya, jenis rumah ini dibangun di halaman yang luas dan dikelilingi oleh tembok yang cukup tinggi serta dilengkapi dengan regol di tengahnya. Jenis rumah yang kedua adalah rumah Jawa berbentuk limasan. Sedangkan kelompok ketiga adalah bentuk rumah yang lebih sederhana.

Kelompok rumah yang pertama dapat ditemukan di kawasan Baluwarti sebelah utara, barat, dan selatan. Rumah ini merupakan kediaman para bangsawan keluarga keraton dengan status sosial yang relatif tinggi. Warga yang bermukim di daerah Baluwarti masih terikat pada aturan-aturan khusus dalam beberapa hal tertentu. Salah satunya adalah mengenai keterbatasan hubungan mereka dengan warga masyarakat yang berada di luar benteng karena sejak pukul 23.00 (11 malam) hingga 05.30 pagi gerbang yang menjadi pintu untuk keluar dan masuk ke kawasan Baluwarti ditutup. Selain itu, semua orang yang memasuki kawasan Baluwarti diwajibkan untuk mematuhi peraturan-peraturan.

Pada umumnya, nama-nama kompleks tempat tinggal yang berada di dalam kawasan Baluwarti disesuaikan dengan nama bangsawan yang bermukim di wilayah tersebut. Sebagai contoh adalah Ngabean yakni kawasan pemukiman yang terdapat di sekitar kediaman Pangeran Hangabei, Mlayasuman untuk kawasan pemukiman yang ada di sekitar rumah Pangeran Mlayakusuma, Widaningratan untuk kawasan perumahan yang terdapat di lingkungan rumah yang ditinggali oleh keluarga Bupati Hurdenas Widaningrat, Purwadiningratan untuk kawasan pemukiman yang berada di sekitar tempat tinggal Bupati Nayaka Purwadiningrat, Mangkuyudan untuk kawasan perumahan yang terdapat di sekitar kediaman Bupati Mangkuyuda, Suryaningratan untuk pemukiman yang berada di sekitar rumah Bupati Gedhong Tengen Suryaningrat, Sindusenan untuk kawasan pemukiman yang terdapat di sekitar kediaman Pangeran Sindusena (cucu Sri Susuhunan Pakubuwono IX), Prajamijayan untuk kawasan pemukiman yang terdapat di sekitar rumah tinggal RMA Prajahamijaya (cucu Sri Susuhunan Pakubuwono IX), dan seterusnya.

Sebagai bagian dari kawasan istana utama Kasunanan Surakarta Hadiningrat, wilayah Baluwarti tidak seluruhnya digunakan sebagai tempat kediaman pribadi. Terdapat sejumlah bagian yang masih dipakai untuk keperluan istana, seperti rumah penjagaan Dragorder yang terletak di sebelah barat Kori Brajanala Lor, Masjid Suranata, dan tempat penyimpanan kereta untuk Raja Surakarta. Selain itu, di sisi timur Kori Brajanala Lor juga terdapat Paseban Kadipaten, rumah penjagaan prajurit, dan di sebelah timurnya lagi terdapat Sekolah Ksatriyan di mana di depan sekolah ini berdiri Gedung Sidikara. Sedangkan di sebelah kanan dan kiri Kori Kemandhungan terdapat tempat kereta. Pekarangan depan Kori Kemandhungan dinamakan Balerata atau Maderata yang merupakan tempat untuk naik dan turun kereta milik Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Selain menjadi tempat kediaman para pangeran, sentana, dan kaum bangsawan tinggi lainnya yang termasuk kerabat raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kawasan Baluwarti juga dihuni oleh para pejabat kerajaan seperti bupati nayaka, bupati, prajurit, hingga abdi dalem, baik laki-laki maupun perempuan. Abdi dalem perempuan dipimpin oleh Nyai Lurah Gandarasa dan Nyai Lurah Sekulanggi. Masing-masing pemimpin abdi dalem perempuan ini menempati tempat tinggal di Gondorasan, yakni kampung yang terletak di sebelah timur dan selatan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Sedangkan kampung sebelah timur istana yang dikenal dengan nama Tamtaman menjadi tempat tinggal untuk abdi dalem prajurit Tamtama dan Carangan. Sedang prajurit Wirengan ditempatkan di sebelah barat daya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kelompok abdi dalem ini memperoleh perhatian khusus karena dinilai paling cakap dalam urusan menjaga keamanan dan keselamatan Raja Surakarta. Oleh sebab itu, keraton kemudian menyediakan tempat tinggal bagi mereka di lingkaran kedua yang cukup dekat dengan bangunan istana utama yang menjadi tempat kediaman Raja Surakarta.

Golongan prajurit Tamtama dan Carangan bertugas sebagai barisan penjaga keselamatan raja dan keamanan kawasan kedhaton. Laskar ini dibentuk untuk mengantisipasi peristiwa penyerbuan yang pernah terjadi di Kasunanan Kartasura Hadiningrat tidak terulang kembali. Sedangkan Prajurit Wirengan mempunyai tugas khusus untuk menjaga keamanan jalannya Gunungan, yang pada setiap upacara Garebeg dibawa dari kedhaton menuju Masjid Agung Surakarta. Prajurit Wirengan bertugas sebagai pasukan pengawal yang berjalan di kanan dan kiri Gunungan di mana pada saat-saat tertentu, mereka menari tayungan di sepanjang jalan.

Terkait dengan keberadaan benteng yang melindungi kawasan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, terdapat beberapa tradisi yang masih dilaksanakan hingga saat ini. Salah satunya adalah upacara mengelilingi benteng (mubeng beteng) yang dilakukan pada setiap malam 1 Suro (1 Muharam). Upacara ini diperingati dengan melakukan kirab atau berjalan bersama-sama mengelilingi benteng Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Upacara ini dimulai dari kompleks Kemandungan utara melalui Pintu Gerbang Brojonolo kemudian memutari seluruh kawasan keraton dengan arah berkebalikan arah putaran jarum jam dan berakhir di halaman Kemandungan utara.

Dalam prosesi ini, pusaka keraton menjadi bagian utama dan diposisikan di barisan depan kemudian baru diikuti para pembesar dari keraton, para pegawai, dan akhirnya masyarakat umum. Terdapat sesuatu yang unik dalam pelaksanaan upacara mubeng beteng ini, yakni turut sertanya sekawanan kebo bule (kerbau albino) yang ditempatkan di barisan paling depan. Kehadiran kebo bule yang termasuk pusaka milik Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini selalu menjadi daya tarik bagi orang yang menyaksikan upacara mubeng beteng.

Read : 858 time(s)
« About the Palace

Share

Comment Form