English Version | Bahasa Indonesia

Pemandian

Umbul Pengging

Umbul Pengging adalah kompleks pemandian yang dulu sering digunakan oleh keluarga istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat, terutama di era pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X (1893-1939). Pemandian Umbul Pengging terletak di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kata “umbul” dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai “sumber mata air yang menyembur dari dalam tanah”, sedangkan kata “pengging” diambil dari nama seorang tokoh pada masa Kesultanan Demak, yakni Ki Ageng Pengging. Ki Ageng Pengging adalah penguasa daerah di mana Umbul Pengging kemudian didirikan. Ia dihukum mati oleh pemerintah Kesultanan Demak pada masa pemerintahan Raden Patah (1478-1518 M) dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Perlu diketahui bahwa Ki Ageng Pengging adalah anak didik Syekh Siti Jenar yang ajarannya dianggap sesat oleh para ulama dari Kesultanan Demak. Ki Ageng Pengging mempunyai seorang putra bernama Jaka Tingkir yang kelak berhasil menguasai sekaligus mengakhiri riwayat Kesultanan Demak dan kemudian menjadi pemimpin Kesultanan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya (1549-1582 M).

Konon, Pemandian Umbul Pengging merupakan peninggalan dari Ki Ageng Pengging ketika masa peralihan masa Hindu ke masa Islam di Jawa, yakni dari Kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak. Warisan Ki Ageng Pengging ini kembali dikelola oleh Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan kompleks pemandian ini dibangun kembali. Oleh karena itu, penggunaannya pun dikhususkan bagi keluarga istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dasar kolam yang ada di kompleks Umbul Pengging ini terbuat dari batu alam yang halus dan indah. Sumber air kolam ini adalah dari mata air murni sehingga sangat jernih karena tidak terkontaminasi oleh kotoran. Uniknya, mata air itu tidak pernah kering walaupun diambil dalam jumlah yang banyak, bahkan ketika musim kemarau, karena sumber mata air tersebut selalu mengalir di segala musim. Airnya pun selalu bersih karena selalu berganti secara alami. Selain dikenal dengan nama Umbul Pengging, kompleks pemandian raja-raja ini juga sering disebut dengan nama Tirta Marta.

Di lingkungan Umbul Pengging ditumbuhi sejumlah pohon beringin berukuran besar sehingga suasananya terasa sejuk. Pintu masuk ke pemandian berupa bangunan Jawa klasik dengan atap berbentuk joglo. Di depan pintu masuk terdapat dua arca penjaga dan sebuah aula kecil  yang menghadap ke kolam di mana di tembok aula itu terpajang foto raja-raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sejak Sri Susuhunan Pakubuwono IX. Pada zaman dulu, aula ini sering digunakan oleh Raja untuk beristirahat sebelum menggelar ritual mandi. Di depan aula ini terdapat tembok pembatas yang terbuat dari batu dengan ornamen ukiran khas Jawa. Di bawah pagar ini terhampar kolam seluas 50 m2 terhampar dengan air yang sangat jernih dan dihuni oleh ratusan ekor ikan merah. Di sekeliling kolam terdapat beberapa pohon beringin tua yang menambah sakral suasana di tempat itu.

Terdapat 3 pemandian di kompleks Umbul Pengging, yaitu Umbul Temanten, Umbul Ngabean, dan Umbul Duda. Kolam pemandian Umbul Temanten berbentuk persegi panjang dengan memiliki kedalaman kurang lebih 50-170 cm. Menurut cerita yang beredar di masyarakat setempat, asal-usul penamaan Umbul Temanten bermula ketika Sri Paduka Susuhunan Paku Buwono X datang berkunjung ke Umbul Pengging dan beliau melihat dua sumber air yang terletak berdekatan. Melihat kedua sumber mata air yang berdekatan tersebut, Sri Susuhunan Paku Buwono X kemudian berdoa agar kedua umbul tersebut dipersatukan. Setelah selesai berdoa, kedua mata air itu pun menjadi satu. Berpadunya kedua umbul itulah yang kemudian melahirkan nama Umbul Temanten sebagai perumpamaan bersatunya dua orang mempelai selayaknya temanten atau pengantin menjadi sebuah keluarga. Kearifan lokal yang dapat dipetik dari cerita asal-usul Umbul Temanten adalah bahwa dalam mengarungi hidup berumah tangga, pasangan suami isteri harus bisa menjalin hubungan yang baik dan rukun.

Umbul yang kedua, yakni Umbul Ngabean, mempunyai permukaan kolam yang berbentuk bulat ini dan memiliki kedalaman air sekitar 1,5 meter. Oleh karena itu, Umbul Ngabean hanya diperuntukkan bagi orang dewasa. Pada zamannya, umbul ini hanya dipergunakan untuk mandi Sri Susuhunan Pakubuwono dan keluarganya saja. Nama “Ngabean” berasal dari kata “Ngabehi” yang merupakan sebutan untuk pangkat penjaga kolam tersebut di masa lalu. Umbul Ngabean dilindungi oleh pagar tembok berbentuk bulat dengan garis tengah sepanjang 26 meter. Sedangkan asal-usul penamaan umbul yang ketiga, yakni Umbul Duda, berawal dari ditemukannya seekor kura-kura jantan di kolam ini. Oleh karena tidak ada kura-kura lain di tempat ini, maka kemudian kolam tersebut diberi nama Umbul Duda. Kini, kompleks Umbul Pengging dibuka untuk umum dan masih sering dikunjungi oleh masyarakat, baik yang datang hanya sekadar ingin berendam ataupun mereka yang mempunyai tujuan khusus. Para penganut ajaran Kejawen memanfaatkan 3 mata air di Umbul Pengging untuk menyucikan diri sebelum menggelar ritual dengan berendam semalam suntuk di tengah umbul pada malam Jumat. Sebenarnya masih terdapat satu umbul lagi yang terletak tidak jauh dari kompleks Pemandian Umbul Pengging, yaitu Umbul Sungsang. Pemandian yang berada sekitar 500 meter dari Umbul Pengging ini berdampingan dengan Masjid Ciptamulya yang konon didirikan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono X.

 

Read : 879 time(s)
« About the Palace

Share

Comment Form