English Version | Bahasa Indonesia

Dipanegara

April 29, 2011 13:39



Lukisan Penangkapan Pangeran Dipanegara karya Pieneman

Oleh: Dipanegara

Pangeran Dipanegara datang berunding dengan Belanda pada suatu pagi di tahun 1830. Di Magelang itu ia ditangkap. Sebuah lukisan karya Pieneman tentang adegan sedih di hari itu agaknya menunjukkan bagaimana orang memandang sang pangeran pemberontak: Dipanegara keluar ruangan. Beberapa pengiringnya menyembah bersujud ke tanah. Sang pangeran nampak berdiri agak tengadah -- memandang ke langit jauh. Adakah ia seorang yang dianggap, atau menganggap diri, juru selamat, ketika rakyat mengeluh dan kerajaan dalam krisis kepemimpinan? Ataukah ia seorang pangeran yang marah karena tersisih dalam intrik kraton? Atau seorang yang seperti Ayatullah Khomeini, melihat dari pandangan lurus agama suatu kegawatan moral dan politik di masanya?

Film Pahlawan Dari Gua Selarong sudah dibuat, dan banyak yang bilang sungguh mengecewakan. Juga Chairil Anwar pernah membikinnya sajak, tapi sebenarnya Dipanegara tak cukup kita kenal. Para penulis sejarah Indonesia, dimulai dari Muh. Yamin sebelum kemerdekaan, hanya mengambil sederet sumber Belanda yang sudah diolah seraya diberi semangat anti-Belanda yang banyak dikipasi Jepang. Memoar sang pangeran sendiri, meskipun diketahui ada naskahnya, praktis tak pernah disentuh.

Tergeletak

Memang tak lazim tokoh sejarah Jawa menulis otobiografi atau memoar. Tulisan tentang mereka, jika ada, juga diliputi banyak dongeng, yang bagi peneliti sulit dipercaya. Tradisi kronik yang obyektif, yang terdapat di kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan (Bugis dan Makasar) tak terdapat di Jawa Tengah. Jadi buat apa repot menelaah manuskrip bulukan berbentuk tembang yang sulit, jika kita mau menulis sejarah? Namun tak berarti manuskrip macam itu tak berfaedah sama sekali sebagai petunjuk. Apalagi dalam hal memoar Dipanegara yang terkenal sebagai Babad Dipanegara itu.

Berbeda dengan Babad Dipanegaran Surya Ngalam yang merupakan sebuah alegori, dan tokoh-tokoh utamanya diberi nama samaran berbau dongeng, Babad Dipanegara yang satu ini telah lama diakui sebagai sumber penulisan sejarah yang penting. Oleh P.J.E. Louw, misalnya. Sebelum menulis 6 jilid karyanya, De Java-Oorlog 1825-1830, ia menelaah dengan seksama otobiografi itu. Louw sendiri menegaskan adanya "nilai sejarah yang tinggi" dalam Babad Dipanegara. Ia akan menganggap "sangat tak lengkap" setiap studi sejarah Jawa tentang masa 1825-1830 yang tak menggunakan babad itu sebagai sumber. Namun naskah itu tinggal saja tergeletak di museum.

Rupanya para peneliti cukup puas hanya dengan versi yang disarikan Louw dalam De Java-oorlognya. Satu-satunya terjemahan babad itu, dalam bahasa Belanda, berwujud manuskrip yang tak beredar. Maka tak heran bila H.J. de Graaf, ahli sejarah Indonesia yang pernah mengajar di UI dan di Leiden, dalam buku An Introduction to Indonesian Historiography ed. Soedjatmoko, Cornell University Press, 1965, merasa heran, bahwa di masa ketika orang kagum kepada Dipanegara, babadnya kurang dapat perhatian.

Untunglah, karya baik tak cuma tergantung pada kalangan akademisi -- yang di Indonesia umumnya sudah terlalu sibuk atau memang tak bermutu. Pekan lalu, seorang peneliti yang mengaku bukan ahli sejarah, tapi menghasilkan sejumlah karya penelitian sejarah, muncul dengan cari ongkos sendiri. Amen Budiman, dari Semarang, berhasil menyiapkan terjemahan lengkap babad itu, setelah bekerja setahun penuh. Tak terlalu sukar rupanya bagi Amen. Selain mendapatkan salinan manuskrip yang bertulisan Jawa, ia barangkali juga mendapatkan fotokopi manuskrip terjemahan Belandanya. Apa pun bahan yang ia pakai -- dengan bantuan sejumlah naskah kuno dan sepuluh kamus Jawa yang ia miliki -- karyanya mungkin akan merupakan sumbangan terbesar bagi bahan historiografi Indonesia, khususnya Jawa Tengah, selama 10 tahun terakhir.

Paling sedikit terjemahan Amen, yang akan terbit sebanyak 6 jilid oleh penerbit Tanjung Sari Semarang, akan lebih memperkenalkan Dipanegara kepada pembaca Indonesia kini. Apalagi tak sukar membacanya karena terjemahan Amen akan berbentuk prosa. "Saya harus menjaga keindahan bahasa Dipanegara," kata Amen kepada wartawan Tempo Putu Setia di Semarang pekan lalu, "tapi juga harus menjelaskan apa maksud Dipanegara." "Itulah sulitnya," tambahnya lagi, "dan saya pikir itulah sebabnya kenapa ahli sejarah kita tak banyak perhatian akan babad ini. Ahli sejarah yang sekaligus tahu bahasa dan sastra Jawa, dan punya kamus selengkap saya, barangkali tidak ada," lanjut Amen -- tetap dengan nada rendah hati.

Di Indonesia mungkin memang tak ada. Tapi di luar negeri dalam tahun-tahun terakhir ini mungkin perlu dicatat usaha Peter Carey, dari Universitas Oxford. Risalahnya yang terbit di Singapura enam tahun yang silam, The Cultural Ecology of Early Nineteenth Century Java, merupakan suatu telaah tentang "ciri-ciri khas kebudayaan Jawa" dalam Babad Dipanegara. Karya ini, yang juga membahas dua manuskrip lain tentang perang Dipanegara, barangkali tak berharga dalam memberikan wawasan baru. Namun secercah profil Dipanegara nampak diperbesar: sang pangeran, dengan menggunakan banyak idiom dari pewayangan terutama kisah Arjuna Wiwaha, melihat dirinya sebagai Arjuna. Tentu saja bukan Arjuna sebagai Don Juan yang ramping (tubuh Dipanegara konon gempal), melainkan Arjuna yang bertapa dan kemudian berangkat perang.

Pengaruh sastra klasik Jawa memang besar dalam otobiografi ini. Bahkan juga sampai ke adegan yang erotis -- meskipun tidak pornografis. Misalnya, seperti dituturkan Amen Budiman, dalam adegan ketika Bondan Surati, putra Raja Majapahit, hendak memperkosa anak kiai tempat ia belajar agama. Dari cara Dipanegara bercerita, bisa diketahui ia tak segan menyebut detail secara indah bagian tubuh perempuan -- walaupun manuskrip asli babad ini konon ditulis dalam huruf Arab pegon yang lazim dikenal di kalangan santri. Tapi tentu saja babad empat jilid ini tak cuma terdiri dari kisah fantastis.

Sejak jilid pertama sudah diceritakan keadaan Jawa di zaman Mataram di bawah Senopati, pendirinya. Pada jilid ketiga kisah perang sang pangeran sendiri dilukiskan, kadang sampai detail. Jilid keempat mengisahkan penangkapannya -- dan secara mengharukan tentang lahirnya anaknya dari istri kedua. Nama anak itu: Manadurahman. Dan di tahun 1855 sang pangeran pun wafat. Usianya 70 tahun.

Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/
Sumber Foto
: http://bataviase.wordpress.com/ (Repro: N. Pieneman, Rijkmuseum, Amsterdam)


Share

Comment Form


« Index