English Version | Bahasa Indonesia

Gusti Yusri, Raja Baru Kerajaan Tayan

May 28, 2012 11:33



Gusti Yusri (kiri) dan Keraton Tayan (kanan)

Gusti Yusri (45), kerabat Kerajaan Tayan yang berprofesi sebagai wartawan dan general manager salah satu media di Kalimantan Barat, pada (26/05) dinobatkan sebagai Raja Tayan ke XIV menggantikan sang ayah, Gusti Ismail bergelar Panembahan Anom Paku Negara. Penobatan ini dilakukan setelah Kerajaan Tayan mengalami kevakuman kepemimpinan sejak sekitar 45 tahun silam.

Ketika Gusti Ismail bergelar Panembahan Anom Paku Negara selaku Raja Tayan ke XIII mangkat pada 23 November 1967 silam, beliau tidak mewariskan tahtanya, meskipun memiliki beberapa orang anak. Kevakuman pemerintahan tersebut kini menjadi polemik tersendiri karena Kerajaan Tayan sebagai salah satu aset warisan sejarah dan budaya nusantara memerlukan eksistensi dan revitalisasi.

Salah satu cara untuk menjaga eksistensi dan merevitalisasi Kerajaan Tayan adalah dengan jalan mengangkat raja baru sebagai tokoh simbol budaya dan perekat/pemersatu, baik antarkerabat kerajaan maupun dengan masyarakat Tayan. Upaya menemukan figur yang pantas untuk menduduki tahta Kerajaan Tayan akhirnya dibahas oleh kerabat Kerajaan Tayan dalam sebuah pertemuan yang digelar pada awal Mei 2012.

Pertemuan tersebut juga dihadiri dihadiri oleh Utin Nursinah, permaisuri Raja Tayan ke XIII yang telah berusia 90 tahun. Sepeninggal Raja Tayan ke XIII, praktis Utin Nursinah duduk sebagai simbol kepemimpinan. Oleh karena itu, pada pertemuan tersebut, Utin Nursinah diberi kepercayaan untuk menunjuk salah satu dari putra-putrinya menjadi Raja Tayan ke XIV.

Semua anak Raja Tayan XIII, baik laki-laki maupun perempuan berhak menjadi raja karena pemimpin di Kerajaan Tayan tidak membedakan gender. Tercatat, Kerajaan Tayan pernah memiliki pemimpin perempuan bernama Utin Blondo bergelar Ratu Kusuma Negara yang memerintah antara 1825-1855 sebagai Raja Tayan ke VII.

Pilihan logis sebenarnya jatuh kepada Gusti Iskandar, sang putra sulung yang disebut-sebut sebagai putra mahkota. Namun, melalui pemikiran tersendiri, akhirnya Utin Nursinah justru menunjuk putra bungsunya, Gusti Yusri untuk naik tahta sebagai Raja Tayan ke XIV.

Gusti Yusri akhirnya menjalani prosesi penobatan sebagai Raja Tayan ke XIV dengan gelar Panembahan Anom Pakunegara. Penobatan dipusatkan di Keraton Tayan yang terletak di Desa Pedalaman, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat.

Prosesi penobatan diawali dengan perjalanan rombongan Raja Tayan XIV beserta permaisuri dari Masjid Jami’ Darussalam menuju Keraton Tayan. Pada rombongan paling depan diisi dengan kesenian Pedagi, penabuh dalam kesenian ini merupakan keturunan dari Suku Dayak Tobak yang memiliki hubungan dengan Kerajaan Tayan. Para pengiring tersebut menghantarkan rombongan raja hingga ke depan gapura Keraton Tayan. Masuk ke kompleks keraton, rombongan raja disambut dengan tarian Melayu hingga naik ke singgasana. Acara kemudian dilanjutkan dengan penobatan yang dilakukan oleh Utin Nursinah yang di dampingi oleh putra-putri Raja Tayan XIII.   

Para tamu undangan yang hadir dalam acara ini mendapatkan Medali Damar sebagai lambang hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Tayan. Tampak hadir di antara para tamu undangan adalah Yusri Zainudin, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat yang datang sebagai wakil Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Cornelis M.H.; Dato Sri Morkes Effendi, Bupati Ketapang sekaligus Ketua Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS); Raja Mempawah, Gusti Dr. Ir. Mardan Adijaya M.Sc., bergelar Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, Pangeran Ratu Mulawangsa (Panembahan XIII); Sultan Sanggau, Pangeran Ratu H. Gusti Arman Surya Negara; Sultan Sintang, Sri Sultan Kusuma Negara V bergelar Pangeran Ratu Sri Negara Raden Ichsani Perdana Tsafiudin; Sultan Landak, Drs. Gusti Suryansyah Amiruddin, M.Si.; dan Sultan Deli, Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam.

Kerajaan Pakunegara Tayan atau lazim disebut dengan nama Kerajaan Tayan merupakan salah satu Kerajaan Melayu yang berdiri pada awal abad ke-15 atau sekitar tahun 1450 Masehi. Menurut sejarah, Kerajaan Tayan dirikan oleh salah putra Brawijaya dari Kerajan Majapahit bernama Gusti Likar atau dikenal pula dengan nama Gusti Lekar.

Raja Tayan I adalah Gusti Ramal bergelar Pangeran Marta Jaya Yuda Kesuma, putra Pangeran Mancar, pendiri Kerajaan Meliau. Gusti Ramal sendiri merupakan keponakan dari Gusti Likar. Pada masa pemerintahan Gusti Ramal, pusat pemerintahan Kerajaan Tayan berada di Teluk Kemilun. Namun, kemudian berpindah ke Tayan pada masa pemerintahan Gusti Mohamad Ali atau dikenal pula dengan nama Gusti Inding bergelar Panembahan Paku Negara Surya Kesuma.

Raja Tayan terakhir adalah Gusti Ismail bin Gusti Tamjid bergelar Panembahan Anom Paku Negara. Beliau mangkat tanpa meninggalkan wasiat kepada putra-putrinya untuk menggantikan dirinya sebagai pemimpin Kerajaan Tayan. Akhirnya, setelah sekitar 45 tahun mengalami kevakuman kepemimpinan, Gusti Yusri naik tahta pada 26 Mei 2012 sebagai Raja Tayan XIV dengan gelar Panembahan Anom Pakunegara. (Tunggul Tauladan/knc/01/05-2012)

Sumber foto:        

  • www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=109559
  • http://pontianak.tribunnews.com/2012/05/04/gusti-yusri-raja-baru-tayan

Share

Comment Form


« Index