English Version | Bahasa Indonesia

Raden Abdurrahman Dinobatkan Sebagai Sultan Jambi

March 19, 2012 14:43




Pada 1904, Sultan Taha Saifuddin, penerus tahta Kesultanan Jambi yang dianggap sah untuk menduduki tahta sebagai Sultan Jambi gugur dalam upaya perlawanan terhadap Belanda. Beliau melakukan perlawanan karena tidak sepaham dengan kebijakan Belanda yang mengatur Kesultanan Jambi. Akibatnya, Sultan Taha Saifuddin sebagai Sultan Ke-4 di Kesultanan Jambi keluar dari istana dan melakukan perlawanan sejak 1858 hingga gugur pada 1904.

Sepeninggal Sultan Taha Saifuddin, sejak beliau meninggalkan istana hingga gugur, Belanda mengangkat Sultan Bayang untuk mengatur Kesultanan Jambi. Terdapat tiga Sultan Bayang sepeninggal Sultan Thaha Saifuddin, yaitu Sultan Ahmad Nazaruddin (1855-1881), Sultan Mahmud Mahiddin (1881-1866), dan Sultan Ahmad Zainuddin (1866-1901).

Praktis, sejak 1904 atau sepeninggal Sultan Thaha Saifuddin, Kesultanan Jambi tak lagi memiliki Sultan. Ratusan tahun kemudian, pemerintah melalui Majelis Hakim Pengadilan Agama Jambi menetapkan bahwa Raden Abdurrahman bin Raden Jakfar bin Raden Inu Kertopati bin Sultan Thaha Saifuddin ditetapkan sebagai ahli waris sekaligus penerima waris tahta Kesultanan Jambi dengan gelar Pangeran Mudo. Ketetapan tersebut dikuatkan dengan keputusan Majelis Hakim Pengadilan Agama Jambi Nomor.18/Pdt.P/2008/PA.Jb.

Kini, setelah memendam kerinduan akan sosok pemimpin (Sultan) sejak 1904-2012, akhirnya pada (18/03), Raden Abdurrahman bin Raden Jakfar bin Raden Inu Kertopati bin Sultan Thaha Syaifudin dinobatkan sebagai Sultan Jambi dengan gelar Sultan Abdurrahman Thaha Saifuddin. Penobatan Raden Abdurrahman menjadi Sultan Jambi berlangsung di Ball Room Hotel Novita, Provinsi Jambi. 

Penobatan Raden Abdurrahman sebagai Sultan Jambi disaksikan oleh perwakilan dari Raja dan Sultan se-Nusantara. Bahkan, dalam acara penobatan ini juga terlihat pula perwakilan dari Kerajaan Malaysia dan Thailand. Selain perwakilan dari berbagai kerajaan dan kesultanan tersebut, Muspida Provinsi Jambi juga turut hadir sebagai perwakilan dari pemerintah. Penobatan Raden Abdurrahman dilakukan melalui prosesi upacara. Prosesi tersebut berupa penyematan mahkota, keris, dan cincin Kesultanan Jambi.

Penobatan Sultan Abdurrahman Thaha Saifuddin sebagai Sultan Jambi merupakan perwujudan prosesi budaya dan sejarah di Kesultanan Jambi. Sultan adalah simbol budaya sebagaimana fungsi kesultanan/kerajaan sebagai penjaga kebudayaan serta adat istiadat. Sultan juga sekaligus sebagai pelaku sejarah, yaitu jembatan antara kesejarahan Jambi masa lampau dan Jambi yang akan datang. Secara adat, Sultan adalah pemimpin kultural masyarakat Jambi yang memiliki peran penting dalam pengambilan kebijakan di bidang pemerintahan yang nantinya akan berimbas pada kesejahteraan rakyat Jambi. (Tunggul Tauladan/01/03-2012)

Sumber foto: http://www.metrojambi.com/headline/


Share

Comment Form

Amril nurman January 29, 2013 10:31

"Kalau bukan kita yang mengingatkan kepada anak cucu kita Tentang sejarah & kerajaan JAMBI Siapa Lagi"


« Index