English Version | Bahasa Indonesia

Bekakak, Dari Ambarketawang untuk Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

January 16, 2012 15:54




Gelaran budaya tahunan upacara adat Bekakak yang dihelat pada Jum’at (13/1) kemarin ibarat pesta bagi rakyat Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, dan sekitarnya. Segenap potensi yang dimiliki padukuhan-padukuhan di wilayah Desa Ambarketawang ditampilkan dan seakan-akan ingin menujukkan bahwa inilah persembahan rakyat Ambarketawang untuk Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ritual adat Bekakak yang disebut juga sebagai tradisi Saparan masih terhubung erat dengan sejarah keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ritual tradisional ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengenang pengabdian pasangan abdi dalem setia Sri Sultan Hamengku Buwono I, yaitu Ki Wirosuto dan Nyi Wirosuto, yang bertugas merawat Pesanggrahan Ambarketawang. Pesanggrahan ini adalah tempat tinggal keluarga istana sambil menunggu pembangunan keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat selesai.


Kemeriahan Upacara Bekakak dan Persembahan rakyat Ambarketawang

Rangkaian acara upacara adat Bekakak tahun 2012 ini dimulai sekitar pukul 14.00 WIB dengan beberapa acara seremonial yang dilakukan di Balai Desa Ambarketawang. Sejumlah pejabat teras Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, perwakilan dari pemerintah daerah Kabupaten Sleman, dan utusan dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat hadir dalam acara pembukaan itu. Nantinya, para pejabat teras itu akan turut berpawai dengan rombongan arak-arakan lainnya.


Para pejabat lokal yang turut dalam rombongan Bekakak

Setelah acara seremonial yang berupa sambutan dan doa bersama usai dilakukan, tibalah saatnya para peserta upacara adat Bekakak melakukan perjalanan, semacam karnaval, dari Balai Desa Ambarketawang menuju petilasan Gunung Gamping yang terletak bersebelahan dengan Pesanggrahan Ambarketawang. Selain para pejabat teras yang ikut serta dalam rombongan arak-arakan dengan menaiki andong (delman) dan kuda, banyak elemen masyarakat yang berpartisipasi dalam acara ini.


Elemen masyarakat ikut berpartisipasi dalam Upacara Bekakak

Para kontingen atau perwakilan berasal dari berbagai padukuhan dan bermacam-macam jenis usaha rakyat yang terdapat di wilayah administratif Desa Ambarketawang. Dari hasil usaha peternakan, pertanian, industri kecil, para pedagang di Pasar Buah dan Sayur Gamping, siswa sekolah, hingga beraneka macam jenis kesenian rakyat seperti jathilan (kuda lumping), reog, leak, barongsai, kesenian naga, orkes dangdut, dan berbagai bentuk kreativitas lainnya ikut meramaikan pesta rakyat Ambarketawang ini.


Potensi kesenian masyarakat Ambarketawang

Selain itu, turut serta pula beberapa rombongan prajurit, baik laskar dari Desa Ambarketawang sendiri (sebagai napak tilas pasukan yang dulu dipimpin oleh Ki Wirosuto di Pesanggrahan Ambarketawang) maupun pasukan perwakilan dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Masing-masing laskar prajurit ini mengenakan atribut khasnya, dari seragam, senjata, alat musik, serta perlengkapan lainnya.


Laskar prajurit yang selalu hadir dalam setiap perayaan Bekakak
Pengantin dan
raksasa Bekakak

Inti dari upacara Bekakak adalah acara “pengorbanan” beberapa pasang pengantin, yang dibuat dari bahan ketan, tepung, dan bahan makanan lainnya. Ada dua lokasi yang digunakan sebagai tempat “penyembelihan” tersebut.

Pertama adalah di areal yang oleh masyarakat setempat disebut dengan nama Bekaka’an di mana di lokasi ini dulu terdapat sebuah altar, namun sekarang telah menjadi bangunan kampus. Lokasi kedua adalah di Gunung Gamping yang terletak tidak jauh dari Pesanggrahan Ambarketawang dan merupakan tempat tujuan akhir dari rombongan arak-arakan.


Rangkaian ritual penyembelihan

Di kedua lokasi itu, masing-masing pasangan boneka pengantin “disembelih” dan hasil “sembelihan”nya dibagi-bagikan kepada para pengunjung yang memadati areal itu. Masyarakat pun saling memperebutkan hasil “sembelihan” itu yang dipercaya bisa mendatangkan berkah dan keselamatan. Meskipun siang menjelang sore itu hujan mengguyur dengan cukup deras, tapi keinginan warga dan pendatang yang ingin menyaksikan langsung ritual Bekakak tidak lantas luntur.


Genderuwo dan leak menarik perhatian penonton

Selain acara puncak yakni “penyembelihan” tiruan pengantin, yang paling ditunggu-tunggu adalah sosok sepasang boneka raksasa berwujud genderuwo yang tampil di akhir rombongan arak-arakan. Genderuwo inilah yang dimaksudkan sebagai raksasa jahat penunggu Gunung Gamping yang kerap meminta korban sehingga digelarlah tradisi Bekakak ini. *** Teks dan Foto: Iswara N Raditya/Brt/02/01-2012


Share

Comment Form


« Index