English Version | Bahasa Indonesia

Malam Keakraban Raja-Raja Nusantara di Martapura

January 03, 2011 15:47



Malam Keakraban Raja-Raja Nusantara di Martapura

Martapura – Para raja dan sultan dari berbagai belahan bumi di nusantara serta para utusan dari kerajaan/kesultanan dari dalam dan luar negeri tumpah-ruah dalam perhelatan malam ramah-tamah yang dilangsungkan di Guest House Sultan Sulaiman, Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Acara malam keakraban ini yang digelar pada hari Sabtu (11/12) malam ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian acara penobatan Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar.

Puluhan raja/sultan dan para utusan kerajaan/kesultanan dari seluruh nusantara hadir dalam acara ini, antara lain dari Kesultanan Palembang Darussalam, Kesultanan Siak Sri Indrapura (Riau), Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman Yogyakarta, Kesultanan Kutawaringin, Kesultanan Kutai Kartanegara, Kesultanan Sambaliung, Kerajaan Gunung Tabur, Kerajaan Badung dan Kerajaan Pamecutan (Bali), Kedatuhan Sile Dendeng (Lombok, Nusa Tenggara Barat), Kerajaan Mamuju, Kerajaan Mamala (Maluku), dan lain sebagainya.

 


Perkenalan Raja-Raja Nusantara

Hadir pula perwakilan dari luar negeri, di antaranya adalah dari Kesultanan Brunei Darussalam, Kesultanan Selangor (Malaysia), serta kerabat istana yang datang dari Belanda dan Jerman. Selain itu, para penggerak budaya juga tampak mengikuti acara malam ramah-tamah ini, termasuk Mahyudin Al Mudra, SH, MM, Pemangku/Pendiri Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) sekaligus Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi www.MelayuOnline.com dan www.KerajaanNusantara.com, serta para tokoh dari Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar (LAKKB).

Rangkaian acara pada malam itu dimulai dengan sajian Tari Sanggar Kembang yang merupakan tarian tradisional khas Banjar. Ditelisik dari suara iringan gamelan, pakaian penari, dan gerak tubuh yang ditarikan, terdapat perpaduan dua unsur kebudayaan dalam tarian ini, yakni Banjar dan Jawa. Harmonisasi dua budaya dari tanah yang berbeda tersebut kiranya cukup masuk akal, karena ditilik dari perjalanan riwayatnya, Kesultanan Banjar pernah memiliki hubungan yang sangat erat dengan Jawa.

Sejarah mencatat bahwa dua kerajaan yang menjadi embrio sebelum Kesultanan Banjar berdiri, yakni Kerajaan Negara Dipa (1355 M) serta Kerajaan Negara Daha (1448 M), adalah dua kerajaan yang merupakan kepanjangan tangan dari imperium Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Selain itu, Pangeran Samudera atau  Sultan Suriansyah (1526-1545 M), berhasil mendirikan Kesultanan Banjar (pecahan dari Kerajaan Negara Daha) atas bantuan dari Kesultanan Demak yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Trenggono (berkuasa sejak tahun 1524 M).

 


Penari Sanggar Kembang Mempersembahkan Bunga kepada Mahyudin Al Mudra

Pertunjukan Tari Sanggar Kembang dipungkasi dengan pemberian bunga dari para penari kepada sejumlah tokoh yang duduk di barisan terdepan. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penyampaian sekapur sirih oleh Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh yang pada keesokan harinya, Minggu (12/12), akan dinobatkan sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar. Calon Raja Muda yang sekaligus menjabat sebagai Bupati Banjar ini mengucapkan rasa terima kasih atas kehadiran para raja/sultan nusantara dan para tamu yang jauh-jauh datang dari mancanegara. Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh berharap agar prosesi upacara penobatan yang akan dilangsungkan esok hari dapat berjalan dengan lancar dan sukses.

Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh mengatakan bahwa momen kebangkitan Kesultanan Banjar yang akhirnya terlaksana pada penghujung tahun 2010 ini telah lama dinantikan oleh segenap warga masyarakat Banjar, khususnya Martapura yang pada zaman dahulu menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Banjar. Aktivitas pemerintahan dan kehidupan Kesultanan Banjar mengalami masa kevakuman yang cukup lama, atau selama 100 tahun lebih, di mana sejak tahun 1860, Kesultanan Banjar dihapuskan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

 


Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh, Raja Muda Kesultanan Banjar

Rangkaian acara yang selanjutnya adalah forum perkenalan raja/sultan dan para utusan kerajaan/kesultanan yang hadir pada malam itu. Sebanyak 28 raja/sultan dan para utusan kerajaan/kesultanan bergantian memperkenalkan diri kepada hadirin. Setelah forum perkenalan selesai dilaksanakan, agenda berikutnya adalah acara hiburan berupa sajian lagu-lagu khas Banjar yang dinyanyikan oleh vokal grup binaan Nyonya Khaerul Saleh. Acara terakhir adalah foto bersama dan penyerahan cinderahati dari sejumlah tamu kepada Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh. Salah satunya adalah Mahyudin Al Mudra dari www.MelayuOnline.com berupa sirih emas yang diterima langsung oleh calon Raja Muda Kesultanan Banjar.

 


Mahyudin Al Mudra Menyerahkan Cinderahati Sirih Emas kepada Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh

Pada kesempatan yang sama, tim BKPBM juga menyebarkan formulir isian tentang pendokumentasian warisan sejarah dan budaya kerajaan/kesultanan sedunia kepada raja/sultan dan para utusan kerajaan/kesultanan yang hadir pada malam itu. Formulir tersebut merupakan panduan untuk diisi sesuai data yang ada di masing-masing kerajaan/kesultanan. Data-data inilah yang akan digunakan sebagai acuan untuk ditampilkan di www.KerajaanNusantara.com yang diharapkan akan menjadi pangkalan data terbesar, terlengkap, dan satu-satunya yang mencakup seluruh kerajaan/kesultanan yang ada di dunia. (Iswara N. Raditya/www.MelayuOnline.com)

 

Foto:

Dokumentasi BKPBM (Fajar Kliwon)

Website:

Berita Melon, Wismel, dan KerajaanNusantara.com


Share

Comment Form


« Index