English Version | Bahasa Indonesia

Harmonisasi Etnis di Kerajaan Mempawah

February 19, 2011 14:47


Oleh Tunggul Tauladan

Hari Minggu, 30 Januari 2011, saya dan Fajar Kliwon (fotografer) yang mewakili Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) terbang dari Yogyakarta menuju Mempawah. Setelah menempuh waktu sekitar 2 jam, pesawat mendarat di Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.

Kedatangan kami ke Mempawah dalam rangka meliput acara Robo-robo yang digelar pada tanggal 2 Februari 2011 di Kuala Mempawah, Kabupaten Pontianak. Sebelum acara puncak Robo-robo digelar, panitia telah menyiapkan berbagai agenda acara, antara lain Kirab Pusaka Kerajaan Mempawah, Ritual Pembersihan Pusaka Kerajaan Mempawah, Ziarah Ke Sebukit Rama, Ritual Toana, Seminar Budaya dan Pariwisata, serta Ritual Makan Saprahan.

Di ruang kedatangan, kami disambut oleh karib yang bernama Karaeng Saiful dan Eka. Kedua karib kami ini adalah anak muda yang mengabdi di Kerajaan Mempawah atau yang lazim dikenal dengan sebutan Laskar Kerajaan Mempawah. Kami kemudian diantar menuju Kerajaan Mempawah. Jarak antara Pontianak ke Mempawah sekitar 71 Km atau 1,5 jam perjalanan dengan mobil.

Tegakkan Adat, Pelihara Budaya

Senin, 31 Januari 2011, menurut rencana akan diadakan Kirab Pusaka Kerajaan Mempawah. Beragam pusaka kerajaan seperti Mandau Panglima Sung, Mandau Panglima Ongge’, Pedang Pagaruyung, Keris Pakubuwono V, Pedang Sambernyowo, Tombak Tankapi, Meriam Sigonda, Meriam Raden Mas, dan Meriam Maryam, akan diarak keliling Mempawah.

Peserta kirab datang dari berbagai etnis yang ada di Mempawah, mulai etnis Dayak, Melayu, Bugis, Jawa, hingga Tionghoa. Mereka adalah para anggota Laskar Kerajaan Mempawah yang terbagi ke dalam beberapa kesatuan, yaitu Kesatuan Waris, Merak, Hitam Baruna, Hijau Pusaka, Putri Kuning, Sekretariat yang mengiringi jalannya kirab dengan Gamelan Senenan, Sentono Balang, dan Mufti; MABN Kabupaten Pontianak Kecamatan Mempawah Timur; MABT Kabupaten Pontianak; dan Warga Sadaniang.


Peserta Kirab Pusaka Kerajaan Mempawah

Raja Mempawah, Pangeran Ratu Mulawangsa Dr. Ir. Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, M. Sc. Dalam sambutannya mengatakan bahwa kirab pusaka merupakan wujud dari keberagaman sekaligus harmonisasi etnis yang ada di Mempawah. Hal tersebut menjadi kunci keberlangsungan kehidupan bermasyarakat yang kondusif di Mempawah yang telah dimulai sejak raja pertama Kerajaan Mempawah, Opu Daeng Menambon, pada sekitar abad ke 17-18 Masehi. Opu Daeng Menambon telah memberi contoh tentang pluralisme dengan cara merangkul dan menyatukan berbagai etnis untuk hidup rukun dan bersatu di bawah bendera Kerajaan Mempawah. Harmonisasi antaretnis inilah yang yang wajib untuk dilestarikan.


Pangeran Ratu Mulawangda Dr. Ir. Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim M.Sc.

Usai menyampaikan kata sambutan, sekitar pukul 09.30 WIB, Pangeran Ratu Mulawangsa secara resmi melepas rombongan untuk melakukan kirab. Kirab pusaka ini diawali dari Istana Amantubillah, kemudian berturut-turut melewati Jalan Gusti Mohammad Taufik Perempatan-Jalan Mane Pak Kasih-Jalan Raden Kusno-Pertigaan Tugu Tani-Pasar Mempawah-Lapangan Basket- dan terakhir kembali ke Istana Amantubillah.

Pusaka Kerajaan Mempawah Dibersihkan

Gusti Ulyanto Membersihkan Pusaka Kerajaan Mempawah

Agenda kedua hari ini adalah upacara pembersihan pusaka yang dihelat di Istana Amantubillah. Pusaka yang telah diarak pada kirab tadi kini akan dibersihkan. Upacara ini berlangsung sekitar pukul 15.30 WIB. Berbagai macam perangkat upacara telah disediakan, antara lain: jeruk limau, jeruk purut, air mawar, bunga tujuh rupa, dan minyak wangi non alkohol.

Perangkat lain dari upacara ini adalah alat musik yang disebut Senenan. Alat musik yang mirip gamelan ini mendapat pengaruh kuat dari budaya Jawa. Instrumen yang membentuk alat musik Senenan terdiri dari: sepasang gong, 2 bonang, 12 kenong yang ditempatkan di dua tempat (masing-masing tempat berisi enam kenong), dan kendang.


Gamelan Senenan

Pada saat upacara pembersihan pusaka ini akan berlangsung, rombongan utama dari BKPBM hadir. Rombongan ini terdiri dari Pemangku BKPBM, Mahyudin Al Mudra SH. MM.; Public Relation BKPBM, Yuhastina Sinaro SST. Par. MA.; fotografer BKPBM, Aam Ito Tistomo; dan rombongan dari Kesultanan Kutai Kartanegara yang terdiri dari Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Adji Muhammad Arifin gelar Pangeran Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat; adik kandung Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Adji Mahmud gelar Haji Adji Pangeran Haryo Surya Adi Nata; dan Perdana Menteri Kesultanan Kutai Kartanegara, Adji Hary gelar Haji Adji Pangeran Gondo Perawiro beserta istri, Hajjah Dayang Telchif Suryani gelar Hajjah Raden Putrowati. Rombongan utama ini kemudian didampingi oleh Raja Mempawah, Pangeran Ratu Mulawangsa Dr. Ir. Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim M.Sc.

Prosesi pertama dari upacara pembersihan pusaka adalah memanjatkan doa selamat yang dipimpin oleh Gusti Ulyanto, seorang bangsawan Kerajaan Mempawah. Usai berdoa, Gusti Ulyanto memulai prosesi dengan membersihkan Keris Tanjung Lada. Usai membersihkan keris, kemudian berturut-turut pusaka Kerajaan Mempawah lainnya juga dibersihkan, antara lain tombak, pedang, Meriam Sigonda, Meriam Raden Mas, dan Meriam Maryam.


Prosesi Pembersihan Pusaka Kerajaan Mempawah

Kirab Budaya dan Pembersihan Pusaka merupakan beberapa upaya yang dilakukan oleh para penerus Kerajaan Mempawah untuk menjaga budaya agar tetap lestari. Pemeliharaan terhadap identitas heterogenitas dan kekayaan budaya di Kerajaan Mempawah menunjukkan bahwa generasi yang kini memimpin Mempawah telah mengamalkan warisan para pendiri Kerajaan Mempawah.

Tunggul Tauladan, Peneliti Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Redaktur www.KerajaanNusantara.com


Read : 1498 time(s)
« Kingdom home

Share

Comment Form