English Version | Bahasa Indonesia

Mempawah Butuh Ikon Wisata

February 05, 2011 10:32


Mempawah, KerajaanNusantara.comMempawah memiliki beragam potensi wisata. Selain even tahunan berupa acara Robo-robo, Mempawah juga memiliki Istana Amantubillah, seni budaya, dan tak ketinggalan beragam kuliner khas Mempawah. Namun, di antara melimpahnya potensi yang dimiliki oleh Mempawah tersebut, terdapat sebuah kekurangan, Mempawah belum memiliki ikon pariwisata sebagaimana Tugu untuk Jogjakarta maupun Jam Gadang untuk Padang.

Inilah salah satu pokok bahasan yang tersaji dalam Seminar Budaya Pariwisata Kabupaten Pontianak, yaitu mencari ikon pariwisata untuk Mempawah. Seminar yang dihelat pada (1/2) di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Pontianak ini mengambil tema, “Melalui Seminar Budaya Kita Tingkatkan Pariwisata Kabupaten Pontianak”. 

Seminar budaya kali ini menampilkan 5 orang pembicara, yaitu Pangeran Ratu Mulawangsa Dr. Ir. Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, M. Sc., Sinuhun Ratu Kencana Wangsa Dr. Ir. Arini Mariam, M. Sc., Drs. H. Ria Norsan, MM. MH., Dato Sri Paduka Astana Johanes Robini Marianto, O.P., dan Pangeran Nata Waskita Mahyudi Al Mudra, SH. MM. Sedangkan moderator dipercayakan kepada Ketua DPRD Kabupaten Pontianak, H. Rahmad Satria, S.H. MH.


Searah Jarum Jam Atas Ke Bawah: Pangeran Ratu Mulawangsa Dr. Ir. Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, M. Sc., Sinuhun Ratu Kencana Wangsa Dr. Ir. Arini Mariam, M. Sc., Drs. H. Ria Norsan, MM. MH., Dato Sri Paduka Astana Johanes Robini Marianto, O.P., dan Pangeran Nata Waskita Mahyudin Al Mudra, SH. MM (Gambar Tengah)

Dalam uraiannya, Sinuhun Ratu Kencana Wangsa Dr. Ir. Arini Mariam, M. Sc. menyampaikan tentang pembangunan kampung wisata adat budaya Kraton Amantubillah. Sinuhun Ratu Kencana Wangsa memparkan bahwa Kraton Amantubillah memiliki potensi yang sangat besar. Selain adat dan budaya, kraton juga menyimpan potensi kesenian khas Kerajaan Mempawah yang kini terus menerus diasah di di lingkungan kraton. Kesenian tersebut, antara lain seni musik, seni tari, dan seni beladiri (silat).

Sesi berikutnya disampaikan oleh Pangeran Ratu Mulawangsa Dr. Ir. Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, M. Sc. Dalam uraiannya Pangeran Ratu Mulawangsa memaparkan tentang pentingnya payung hukum untuk melegitimasi adat istiadat maupun ritual budaya yang telah diagendakan, misalnya tentang hutan wisata di sepanjang Sungai Mempawah. Beliau memaparkan bahwa dengan adanya payung hukum yang jelas, maka diharapkan hutan di sepanjang Sungai Mempawah tidak rusak akibat penambangan dan penebangan liar. Hal ini sangat penting karena kawasan tersebut senantiasa menjadi jalur kapal ketika digelar ritual ziarah ke Makam Opu Daeng Menambon maupun ketika digelar acara Robo-robo. Selain itu, dengan adanya payung hukum yang jelas, maka kawasan tersebut bisa ditata sedemikian rupa sehingga memungkinkan untuk ditampilkan sebagai salah satu aset wisata sungai.

Pembicara ketiga yaitu Pangeran Nata Waskita Mahyudi Al Mudra, SH. MM., memaparkan tentang pelestarian budaya sekaligus kiat-kiat yang harus dilakukan untuk melestarikannya. Salah satu kiat yang ditawarkan adalah pentingnya membuat ikon pariwisata bagi Mempawah. Ikon ini harus mudah diingat, memiliki nilai budaya dan sejarah, dan bernuansa khas Mempawah. Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu ini mencontohkan bahwa ketika orang berkunjung ke Padang pasti akan ingat dengan Jam Gadang. Pun demikian ketika berkunjung ke Jogjakarta pasti akan ingat Tugu Jogja sebagai bangunan yang ikonik, khas, dan memiliki nilai, baik budaya maupun sejarah.

Pembicara keempat yaitu Dato Sri Paduka Astana Johanes Robini Marianto, O.P., memaparkan tentang perlunya mengkreasikan wisata khas Mempawah. Cara berkreasi bisa didapatkan melalui contoh-contoh di daerah pariwisata yang telah mapan. Namun, contoh-contoh tersebut harus disesuaikan dengan kondisi Mempawah, dan tidak bisa langsung diterapkan karena perbedaan budaya, geografi, dan kemampuan pemerintah di Mempawah.

Pembicara terakhir adalah Drs. H. Ria Norsan, MM. MH. Dalam paparannya, Bupati Kabupaten Pontianak ini menyatakan bahwa salah satu kekurangan Mempawah adalah kurang dikenalnya nama Mempawah. Nama Mempawah yang berbentuk sebuah kecamatan seakan terdistorsi dengan nama Kabupaten Pontianak. Parahnya lagi, nama Kabupaten Pontianak sering disalah-artikan dengan Kota Pontianak yang lebih terkenal. Sehingga Mempawah memang memerlukan publikasi dan pembangunan, baik fisik maupun mental agar lebih dikenal dan siap menampung para wisatawan yang singgah di tempat ini.

Melalui seminar budaya ini, muncul berbagai ide yang menjadi kesimpulan. Ide-ide yang kemudian menjadi pemikiran untuk segera direalisasikan tersebut, antara lain: perlunya payung hukum untuk melegalisasikan agenda wisata di Mempawah, perlunya pengembangan perangkat simbol atau ikon agar wisatawan yang berkunjung ke Mempawah teringat akan simbol atau ikon tersebut, mengkreasikan paket wisata yang bernuansa khas Mempawah, dan terakhir perlu adanya pelestarian budaya, baik secara pasif maupun aktif.

(Tunggul Tauladan/02/01-2011) 

Foto: Aam Tito Tistomo dan Fajar Kliwon


Read : 1042 time(s)
« Kingdom home

Share

Comment Form

hendrie February 06, 2013 20:42

Pengemasan objek wisata yang baik harus didukung dengan faktor pendukung lainnya seperti aksessibilitas yang yang harus diperbaiki,penginapan pun masih sedikit yang berada di kota mempawah, ada pun di wisata nusantara. pemerintah harus melakukan kerjasama dengan pihak-pihak lain yang dapat mendukung kegiatan wisata.